Berbagi Yang Mengikat Kenangan, Temu Gayeng SMA Tirto '79
Alumni SMA Tirtonirmolo 1979 bersama anak yatim di Temu Gayeng 18 Januari 2026
GUGAT news.com YOGYAKARTA
Ada yang tak berubah dari pertemanan lama: rasa syukur dan keinginan untuk tetap berguna. Kesadaran itulah yang menuntun komunitas mantan siswa kelas 3 IPA 2 SMA Tirtonirmolo Bantul angkatan 1979 menggelar reuni bertajuk Temu Gayeng Bareng Anak Yatim.
Minggu (18/1), rumah salah satu alumni dan sebuah rumah makan di kawasan Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta, menjadi ruang temu. Para alumni datang dari berbagai kota—Bogor, Surabaya, Karawang, Pemalang, hingga Yogyakarta. Mereka tak sekadar bernostalgia. Sepuluh anak yatim bersama ibunya dihadirkan, diajak berbagi kegembiraan dan harapan.
"Reuni ini sudah sering kami adakan. Tapi kami tak ingin bergembira sendiri,” ujar Hary Sutrasno, ketua alumni. Kali ini, kata dia, kebahagiaan dibagi bersama anak yatim dan orang tuanya. Bantuan dana pendidikan yang disalurkan rutin tiap bulan menjadi penopang masa depan. “Alhamdulillah, ada yang sudah lulus dan bekerja. Kami ingin berbagi pengalaman agar hidup lebih bermanfaat dan menginspirasi,” tambahnya.
Ketua Alumni SMA Tirtonirmolo Hary Sutrasno memberi sambutan dalam temu gayeng di Tohpati Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta
Bagi mereka, reuni bukan sekadar temu kangen. Reuni adalah ruang menumbuhkan empati, memperkuat solidaritas, dan merawat persaudaraan—di dunia dan akhirat. Semangat itu terasa mengalir dalam percakapan-percakapan hangat, tawa yang bersahut, dan kepedulian yang nyata.
Suasana makin hidup ketika alunan musik dari Happy Plus Band mengisi ruang. Anak-anak yatim dan orang tuanya larut menikmati hiburan. Pada kesempatan itu, bingkisan tas dan alat sekolah diserahkan—kecil bentuknya, besar maknanya.
Pesan-pesan nilai juga hadir. Salah satu alumni, guru besar FK-KMK Universitas Gadjah Mada, Prof. Ismail Setyopranoto, mengingatkan anak-anak untuk memuliakan orang tua dan mencintai sesama. “Dari situlah berkah dan kesuksesan masa depan tumbuh,” katanya.
Salah satu alumni Tirtonirmolo bernyanyi "Koes Plus an
Dialog berlangsung akrab. Aseh Ginarsih, salah satu orang tua anak yatim, menyampaikan terima kasih dengan suara bergetar. “Lebih dari bantuan dana pendidikan, kami merasakan kasih sayang dan pengayoman. Mayoritas anak-anak kehilangan orang tua sejak balita. Dukungan ini memotivasi kami mendidik mereka agar kelak sukses,” ucapnya.
Hidangan disantap bersama, musik mengalun, dan kenangan berkelindan. Lagu-lagu Koes Plus dan irama gembira lain dibawakan. Beberapa alumni—Imam dari Surabaya, Fakhruddin dari Pemalang, Edy Purnomo dan Jumad dari Bogor—ikut menyumbang suara. Usia boleh 63 tahun, semangat tetap muda.
“Kami mungkin punya gelar—doktor, profesor,” pungkas Hary Sutrasno. “Tapi makna sukses yang sesungguhnya adalah saat kami bisa bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan.”
Di sanalah nostalgia menemukan bentuknya: berbagi. Dan dari berbagi, kenangan lama menjelma inspirasi baru. #Tor







