iklan



FOKUS

Gusti Puger Sesalkan Kejadian Keraton Saat Kunjungan Menteri Kebudayaan Fadli Zon


 Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger salah satu Putra Ndalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang juga merupakan adik kandung Sinuhun PB XIII. Foto : Yani 

GUGAT news.com SURAKARTA 

Kembali adanya konflik internal  terjadi di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang bisa dipastikan lagi banyak menuai keprihatinan dari berbagai pihak. 

Ketegangan yang melibatkan sejumlah unsur baik kerabat Ndalem serta pendukungnya dari dualisme raja Sinuhun PB XIV di dalam keraton dinilai tidak hanya berdampak pada internal keluarga besar Kasunanan, melainkan juga berpotensi mencoreng citra buruk keraton sebagai pusat pelestarian adat, adab dan budaya Jawa.

Sehingga tak mengherankan lagi jika Suasananya tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Dan salah satu diantaranya Putra Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XII, Kangjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger. 

Ditegaskan oleh Gusti Puger panggilan akrab KGPH Puger bahwa adanya konflik berkepanjangan justru akan merugikan Keraton Surakarta secara keseluruhan, terutama di mata masyarakat luas yang selama ini menempatkan keraton sebagai simbol kebudayaan dan kearifan lokal.

“Keraton Surakarta itu bukan sekadar rumah atau simbol kekuasaan, tetapi pusat budaya dan sejarah. Kalau konflik terus dipertontonkan ke publik, yang dirugikan bukan hanya internal keluarga, tapi juga nilai luhur keraton itu sendiri,” ujar Gusti Puger kepada GUGAT news beberapa hari lalu di Ndalem Kapugeran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Menurutnya, seharusnya adanya sikap perbedaan pandangan di lingkungan keraton itu sendiri merupakan hal yang wajar. Namun demikian, setiap persoalan seharusnya diselesaikan secara musyawarah dengan mengedepankan tata krama, unggah-ungguh, etika kesopanan dan norma adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sehingga Gusti Puger sangat menyesalkan sekaligus menyayangkan apabila konflik diselesaikan melalui langkah-langkah yang justru menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Apalagi saat ada kunjungan tamu negara Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Ia menilai, persoalan internal semestinya dibahas dan diselesaikan secara internal pula, tanpa harus melibatkan konflik terbuka yang dapat menimbulkan persepsi negatif di masyarakat.

“Pastinya cukup memalukan, adanya insiden keluarga di depan tamu negara. Keraton memiliki aturan, tata adat, dan mekanisme penyelesaian masalah sendiri. Semua pihak seharusnya kembali pada pakem, paugeran atau angger angger itu. Jangan sampai emosi dan kepentingan sesaat mengalahkan nilai budaya yang selama ini kita jaga,” tandas Gusti Puger.

Lebih lanjut, budayawan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu mengingatkan bahwa Keraton Surakarta Hadiningrat memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam menjaga keharmonisan, khususnya karena keraton selama ini menjadi rujukan budaya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Ia khawatir konflik yang berlarut-larut akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap peran keraton di tengah kehidupan sosial dan budaya Kota Solo.

“Keraton harus tetap menjadi payung budaya, bukan justru malahan menjadi sumber kegaduhan yang tidak pernah kunjung selesai. Kalau masyarakat sudah lelah melihat konflik, ini menjadi alarm bagi kita semua untuk segera berbenah,” harap Gusti Puger.

Kembali Gusti Puger juga menekankan akan pentingnya peran seluruh elemen keraton, mulai dari keluarga besar, sentana dalem, hingga abdi dalem, untuk ikut menjaga suasana kondusif. 

Masih menurut penuturan Gusti Puger tidak ada salahnya jika setiap pihak harus menjaga sekaligus memiliki rasa tanggung jawab yang sama dalam hal merawat warisan leluhur agar tetap utuh dan bermartabat.

Kembali Pengageng Sasana Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sinuhun PB XIII itu berharap, ke depan seluruh pihak dapat menahan diri dan lebih mengedepankan dialog yang konstruktif. 

Penyelesaian konflik, ditambahkan Gusti Puger harus bisa dsn mampu untuk selalu mengutamakan kepentingan keraton sebagai lembaga adat, bukan kepentingan kelompok atau individu tertentu.

“Yang paling utama adalah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu tetap harus bisa lestari, tetap dihormati, dan tetap menjadi pusat kebudayaan. Itu amanat dari para leluhur yang harus diugemi, dijaga sehingga tidak boleh kita abaikan,” pungkas KGPH Puger. #Yani.



BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close