Barbershop Mas Joe. Ketika Kerapian Menjadi Sikap Hidup
Warek UGM Dr. Arie Sujito menjadi konsumen perdana barbershop Mas Joe
Senin, 19 Januari 2026, menjadi penanda lahirnya sebuah ruang gaya baru di Jl. Paingan 42 Krodan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, DIY. Barbershop Mas Joe – Haircut & Treatment resmi dibuka. Dari pukul 10.00 hingga 22.00, pintu dibuka lebar bagi siapa saja yang mencari lebih dari sekadar potong rambut. Di tempat ini, gaya bertemu gagasan, kerapian bersua nilai. Tagline yang diusung—“Rapi Tanpa Tapi”—bukan slogan kosong, melainkan janji pengalaman.
Peresmian dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Alumni Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito S. Sos,. M. Si. Dalam sambutannya yang lugas, Warek UGM menekankan pentingnya usaha kreatif lokal sebagai motor pemberdayaan ekonomi. “Bikin yang keren. Yang membuka lapangan kerja dan memberi nilai tambah bagi lingkungan.” Pesan itu menemukan rumahnya di barbershop ini—usaha yang lahir dari kepekaan sosial, dibangun dengan profesionalisme, dan diarahkan untuk tumbuh berkelanjutan.
Sementara Pengelola Barbershop Mas Joe, Joko Utomo mengatakan barbershop Mas Joe mengusung konsep jelas dan terukur. Segmen pasar disasar dengan presisi anak muda terpelajar, mahasiswa, akademisi, dan komunitas urban yang sadar gaya. Namun kesadaran gaya di sini tidak berhenti pada tren. Ia bertaut dengan etos belajar, disiplin, dan penghargaan pada detail. Ruangannya bersih dan nyaman. Tata letak rapi tanpa berlebihan. Aroma higienis menyambut sejak pintu dibuka. "Ini bukan sekadar tempat menunggu giliran, melainkan ruang jeda yang menyenangkan," ujar Joko Utomo.
Di balik kursi cukur, para capster bekerja dengan standar profesional. Mereka mengikuti dinamika mode potong rambut anak muda terpelajar—dari gaya klasik yang dipoles modern hingga potongan kontemporer yang presisi. Setiap garis dihitung, setiap transisi dijaga. Layanan yang ditawarkan ringkas namun lengkap yaitu cukur dan keramas, dengan perhatian pada kebersihan alat dan kenyamanan pelanggan. Pelayanan mantap bukan klaim. Barbershop hadir dalam ritme kerja yang tenang, komunikasi yang jelas, dan hasil akhir yang konsisten.
Yang membedakan Barbershop Mas Joe adalah cara ia menempatkan diri di ekosistem sosialnya. Usaha ini tidak sekadar menjual jasa, tetapi membangun relasi. Ada semangat membuka peluang kerja, mengasah keterampilan, dan menumbuhkan kebanggaan profesi. Di sini, kapster bukan sekadar pekerja, melainkan pelaku kreatif yang terus belajar. Sejalan dengan itu, pelanggan diperlakukan sebagai mitra dialog—gaya dibicarakan, preferensi didengar, keputusan diambil bersama.
Dalam konteks Maguwoharjo yang dinamis—dekat kampus, kos-kosan, dan lalu lintas ide—barbershop ini menemukan relevansinya. Ia menjadi simpul pertemuan antara kebutuhan praktis dan aspirasi kultural. Kerapian rambut menjadi simbol keteraturan hidup. Perawatan diri menjadi ekspresi penghargaan pada proses. “Rapi Tanpa Tapi lantas terbaca sebagai etika. Rapi dalam kerja, rapi dalam layanan, rapi dalam niat."
Grand opening ini bukan titik akhir, melainkan awal perjalanan. Dengan jam operasional panjang, konsep yang jelas, dan komitmen kualitas, Barbershop Mas Joe menapaki jalur usaha yang berdaya saing sekaligus berakar. Pesan Dr. Arie Sujito menemukan wujudnya. Usaha kecil yang berpikir besar, kreatif tanpa kehilangan keberpihakan sosial. Di kursi cukur sederhana itu, kerapian bukan sekadar hasil—ia adalah proses yang dirawat, hari demi hari.#T0R






