Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan Menyapa Yogyakarta dari Ruang Seni Baru
Mikke Susanto, Lully Tutus, dan Heti Palestina Yunani dalam pembukaan pameran
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Langkah baru bagi dunia seni Yogyakarta lahir pada Senin (15/6/2026). Ary's Wabi Sabi Co & Cafe resmi membuka ruang kreatifnya melalui pameran seni rupa bertajuk “Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan” di kompleks Ary's Garden Hotel Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan No. 29, Mantrijeron Yogyakarta.
Pameran tersebut menghadirkan 21 perupa lintas generasi yang selama ini memberi warna pada perkembangan seni rupa Indonesia. Awang Behartawan, Budi Ubrux, Chamit Arang, Dadi Setiyadi, Erica Hestu Wahyuni, Heri Purwanto, Klowor Waldiyono, Komroden Haro, Lully Tutus, Nasirun, Ridi Winarno, Rina Kurniyati, Rismanto, Samuel Indratma, Sigit Handari, Sinung Rubiyanto, Sulardi Wiyana, Tri Suharyanto, Ugo Untoro, Watie Respati, dan Yaya Maria menampilkan karya-karya yang berangkat dari pengalaman, refleksi, dan kegelisahan masing-masing.
Karya-karya tersebut menawarkan beragam tafsir tentang ketidaksempurnaan. Sebagian seniman menghadirkan narasi tentang kehilangan dan ketabahan. Sebagian lainnya menyampaikan kritik sosial, ironi kehidupan, hingga optimisme melalui bahasa visual yang khas. Setiap karya memperlihatkan bahwa keindahan tidak selalu lahir dari sesuatu yang utuh dan sempurna.
Dr. Mikke Susanto, M.A., kurator seni sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, membuka pameran tersebut secara resmi. Kehadiran ruang seni baru mendapat apresiasi khusus dari pengamat budaya itu. "Pembukaan ruang seni merupakan salah satu hal penting yang perlu dihargai dalam skena budaya Yogyakarta," ujar Mikke Susanto.
Mikke menilai kehadiran Ary's Wabi Sabi Co & Cafe memberi energi baru bagi ekosistem seni yang selama ini berkembang dinamis di Kota Gudeg. Ruang seni tidak sekadar menjadi tempat memajang karya, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan gagasan, ruang edukasi, dan ruang kolaborasi bagi para pelaku seni maupun masyarakat.
Posisi Ary's Wabi Sabi Co & Cafe memiliki nilai strategis dalam peta perkembangan seni rupa Yogyakarta. Kawasan Suryodiningratan hingga Tirtodipuran selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu koridor penting seni kontemporer. Berbagai galeri, studio, ruang alternatif, dan komunitas kreatif tumbuh di wilayah tersebut. "Pengelola Ary's dapat bersama asosiasi galeri memberi warna bagi berbagai agenda budaya, baik di Yogyakarta maupun di tingkat global," kata Mikke.
Keberadaan satu galeri baru, menurutnya, mempunyai dampak yang jauh lebih luas daripada yang terlihat di permukaan. Galeri membuka peluang apresiasi bagi publik, menciptakan ruang ekonomi bagi seniman, serta memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat seni kontemporer Indonesia. "Bagi kita, keberadaan satu galeri saja amat penting, terutama bagi kesejahteraan seniman dan industri kreatif sekaligus bagi citra Jogja sebagai pusat perkembangan seni kontemporer," tegasnya.
Pameran seni rupa Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan, tidak sekadar menghadirkan karya-karya visual para perupa. Melalui tulisan kuratorialnya berjudul Ketabahan di Bulan Juni, Heti Palestina Yunani mengajak publik merenungkan kondisi sosial yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan ekonomi, hingga berbagai kebijakan yang memunculkan kritik dan kelelahan kolektif. Dalam situasi seperti itu, ketabahan menjadi sikap yang paling mungkin dilakukan banyak orang untuk tetap bertahan.
Heti memandang pameran tersebut sebagai simbol harapan di tengah berbagai ketidaksempurnaan hidup. Filosofi wabi-sabi yang menjadi landasan pameran mengajarkan bahwa manusia dapat menemukan makna, keindahan, dan peluang untuk tumbuh justru dari berbagai keterbatasan, kehilangan, serta pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. "Bahwa dalam kekacauan, masih ada ruang untuk mencipta harapan. Wabi-sabi!" tulis Heti dalam esainya.
Pesan utama yang disampaikan kepada para peserta pameran adalah ajakan untuk terus berkarya meskipun hidup tidak berjalan sempurna. Seni dipandang sebagai sarana untuk memahami, menerima, dan mengolah luka, kesedihan, kesulitan, maupun ketidakpastian yang hadir dalam kehidupan. Para seniman diajak menunjukkan bahwa di balik ketidakteraturan, keretakan, kekurangan, dan berbagai persoalan, selalu tersimpan kemungkinan lahirnya keindahan dan harapan baru.
Pameran ini pada akhirnya menjadi refleksi tentang ketabahan menghadapi ketidaksempurnaan hidup dan keadaan sosial yang sedang sulit. Heti menegaskan bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah, melainkan menemukan kekuatan untuk terus melangkah. "Tabahlah menerima kekurangan di hadapan kenyataan yang nggak selalu selaras dengan mau," tulisnya. Sebagai penutup, ia menghadirkan doa yang terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono, "Semoga realitanya, kita menyerupai penggalan puisi Sapardi: Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni." (Tor/*)






