Habib Ali Al-Habsyi : Ketika Akhlak Menjadi Warisan Yang Tak Pernah Usang
Oleh: Yuliantoro
Haul Solo ke-115 Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi kembali digelar di kompleks Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Solo, 30 September–4 Oktober 2026. Jamaah datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Mereka tidak sekadar menghadiri sebuah agenda keagamaan. Mereka datang untuk mengenang seorang ulama yang wafat lebih dari satu abad lalu, tetapi pengaruhnya masih terasa dalam kehidupan umat.
Fenomena itu menarik. Mengapa seseorang yang telah lama meninggal masih mampu menggerakkan begitu banyak manusia untuk berkumpul, bershalawat, membaca maulid, berdoa, dan mengenang keteladanannya?
Jawabannya tidak cukup ditemukan pada kebesaran sebuah nama. Ada warisan ilmu, karya, jaringan pendidikan, tradisi keagamaan, dan terutama akhlak yang terus direproduksi lintas generasi.
Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi lahir di Qasam, Hadramaut, Yaman, pada 24 Syawal 1259 Hijriah. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama. Ayahnya, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, dikenal sebagai ulama yang memiliki otoritas keilmuan, sedangkan ibunya, Syarifah Alawiyah binti Husain Al-Jufri, dikenal sebagai perempuan salehah dan berilmu. Sejak kecil Habib Ali memperoleh pendidikan agama dalam lingkungan keluarga sebelum kemudian berguru kepada sejumlah ulama.
Riwayat hidupnya memperlihatkan satu hal penting "ulama tidak lahir hanya dari kecerdasan intelektual, tetapi dari ekosistem pendidikan, keteladanan keluarga, kedisiplinan belajar, dan pengabdian kepada masyarakat."
Habib Ali kemudian dikenal sebagai pendidik dan pendakwah di Seiwun. Ia mendirikan ribath dan masjid yang menjadi pusat pembelajaran agama. Tradisi keilmuan Hadramaut memang memiliki karakter kuat pada jaringan guru-murid, majelis ilmu, keluarga ulama, dan lembaga pendidikan. Jejaring tersebut kelak turut menjadi salah satu jalur penting penyebaran Islam dan kebudayaan Hadrami ke berbagai kawasan, termasuk Asia Tenggara. Kajian antropologis Engseng Ho dalam Graves of Tarim: Genealogy and Mobility across the Indian Ocean menunjukkan bagaimana jaringan keturunan, ziarah, pendidikan, dan mobilitas para sayyid Hadrami membentuk jejaring sosial-keagamaan lintas Samudra Hindia.
Di antara warisan intelektual Habib Ali yang paling dikenal adalah Simtudduror fi Akhbar Maulid Khairil Basyar wa Ma Lahu min Akhlaq wa Ausyaf wa Siyar. Judulnya sendiri sudah menunjukkan orientasinya. Kisah kelahiran manusia utama, akhlak, sifat, dan perjalanan hidup Rasulullah Muhammad SAW.
Karena itu, Simtudduror tidak tepat dipahami hanya sebagai bacaan seremonial. Di dalamnya terdapat konstruksi kecintaan kepada Nabi sekaligus penggambaran akhlak dan kehidupan Rasulullah. Kajian Achmad Syukron Abidin menunjukkan bahwa Simtudduror mengandung nilai-nilai akidah dan akhlak yang kuat, sedangkan penelitian Nor Rafiqah menemukan dimensi tasawuf dalam karya tersebut.
Dengan demikian, membaca Simtudduror sesungguhnya dapat menjadi proses pendidikan karakter keagamaan - mengenal Rasulullah, mencintainya, kemudian berusaha meneladani akhlaknya. Di sinilah inti warisan Habib Ali. Dakwah bukan semata-mata apa yang dikatakan, melainkan apa yang dicontohkan.
Dalam perspektif pendidikan Islam, akhlak bukan ornamen tambahan setelah seseorang menguasai ilmu. Akhlak merupakan buah dari ilmu dan keimanan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menempatkan pembinaan jiwa dan akhlak sebagai bagian penting dari perjalanan keberagamaan manusia. Ibn Miskawayh melalui Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A'raq bahkan membahas akhlak sebagai sesuatu yang harus dibentuk melalui latihan sehingga menjadi karakter yang menetap.
Pandangan tersebut menemukan relevansinya dalam sosok Habib Ali. Ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ia harus menjelma perilaku. Dakwah karena itu seharusnya menghadirkan kelembutan, kasih sayang, empati, dan penyelesaian masalah. Umat tidak cukup diberi tahu mana yang benar dan salah. Mereka juga membutuhkan keteladanan bagaimana kebenaran itu dijalankan dalam kehidupan.
Rasulullah SAW sendiri menempatkan akhlak sebagai inti misi kerasulan. Hadis yang sangat masyhur menyebut, “Innama bu'itstu li utammima makarimal akhlaq”—sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Pesan ini sejalan dengan Al-Qur'an yang menggambarkan Rasulullah sebagai uswah hasanah, teladan yang baik (QS Al-Ahzab: 21), sekaligus memuji keluhuran budi beliau dalam QS Al-Qalam: 4.
Tauhid menjadi fondasinya. Akhlak menjadi manifestasinya. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah tidak semestinya berhenti pada lantunan shalawat. Cinta harus mempunyai konsekuensi sosial. Orang yang mencintai Rasulullah semestinya semakin lembut kepada manusia, semakin peduli kepada fakir miskin, semakin menghormati orang tua, semakin jujur dalam bekerja, semakin adil dalam memperlakukan orang lain, dan semakin jauh dari kebencian.
Habib Ali memberikan contoh bagaimana kecintaan kepada Rasulullah diterjemahkan melalui karya, pendidikan, majelis ilmu, dan pembinaan umat. Ia menulis tentang Rasulullah agar umat mengenal dan mencintainya. Ia mendidik agar ilmu tidak terputus. Ia membangun lembaga agar proses pembelajaran berlangsung lintas generasi. Warisan seperti inilah yang membuat seorang alim tetap hidup setelah wafat. Habib Ali wafat di Seiwun, Hadramaut, pada 20 Rabiul Akhir 1333 Hijriah. Setelah itu, pengaruhnya tidak berhenti.
Salah seorang putranya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, datang ke Indonesia dan mendirikan Masjid Riyadh di Solo. Tradisi tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Masjid Riyadh berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan keagamaan masyarakat Pasar Kliwon dan menjadi ruang bertemunya jamaah dari berbagai daerah.
Dalam perspektif sosiologi agama, keberlanjutan semacam ini menarik. Max Weber dalam kajiannya mengenai otoritas karismatik menjelaskan bahwa pengaruh seorang tokoh tidak otomatis bertahan setelah tokoh tersebut meninggal. Karisma perlu mengalami proses pelembagaan agar dapat diwariskan. Majelis, kitab, lembaga pendidikan, tradisi ziarah, jaringan murid, keluarga, dan praktik keagamaan menjadi medium yang memungkinkan nilai seorang tokoh terus hidup.
Haul dalam konteks ini bukan sekadar ritual mengenang kematian. Ia menjadi mekanisme sosial untuk mentransmisikan ingatan, nilai, dan keteladanan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Itulah sebabnya Haul Solo memiliki makna yang lebih luas daripada kerumunan jamaah.
Pertanyaan terpentingnya bukan berapa banyak orang yang hadir, melainkan apa yang berubah dalam diri orang-orang yang hadir setelah pulang dari majelis?
Apakah hati menjadi lebih lembut?
Apakah kebencian berkurang? Apakah penghormatan kepada orang tua bertambah? Apakah kepedulian kepada fakir miskin semakin kuat? Apakah hubungan antarsesama semakin baik?
Jika jawabannya ya, haul telah menemukan substansi sosialnya.
Sebab ukuran keberhasilan dakwah bukan hanya banyaknya orang yang mendengar ceramah. Ukurannya adalah perubahan perilaku.
Masyarakat membutuhkan agama yang tidak hanya terdengar dari pengeras suara, tetapi terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Agama yang hadir ketika orang memperlakukan tetangganya, ketika pejabat menggunakan kekuasaan, ketika pedagang menimbang barang, ketika orang kaya berhadapan dengan kaum miskin, ketika seseorang berhadapan dengan orang yang berbeda pilihan dan pandangan.
Di situlah akhlak menjadi kekuatan sosial.
Habib Ali juga memberikan teladan tentang pentingnya memuliakan ibu dan orang tua. Kesalehan seseorang tidak hanya diukur dari hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang paling dekat dengannya. Dalam tradisi Islam, birrul walidain bukan sekadar etika keluarga, melainkan bagian dari keberagamaan itu sendiri.
Maka, jika Haul Solo hendak dibaca sebagai gerakan kebudayaan dan pendidikan umat, pesan terbesarnya sebenarnya sederhana - "hidupkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sosial."
Jangan berhenti pada kekaguman kepada Habib Ali. Jangan pula berhenti pada pembacaan Simtudduror. Yang lebih penting adalah membawa nilai-nilai yang dibaca itu keluar dari masjid menuju rumah, pasar, sekolah, kantor, ruang publik, dan kehidupan bermasyarakat. Orang saleh meninggalkan warisan bukan hanya melalui makam yang diziarahi, tetapi melalui nilai yang terus diamalkan.
Kitab dapat terus dibaca. Nama dapat terus disebut. Haul dapat terus diselenggarakan. Tetapi warisan seorang ulama baru benar-benar hidup apabila akhlaknya menjelma menjadi perilaku generasi sesudahnya.
Habib Ali Al-Habsyi telah meninggalkan dunia lebih dari seabad silam. Namun Simtudduror masih dilantunkan, majelis masih dipenuhi jamaah, dan Masjid Riyadh masih menjadi ruang perjumpaan umat.
Kini tantangannya berada di tangan kita. Apakah semua itu hanya menjadi tradisi tahunan, ataukah mampu menjadi energi moral untuk membangun masyarakat yang lebih santun, adil, peduli, sejahtera, dan bermartabat? Di situlah Haul Solo menemukan makna terdalamnya—mengenang orang saleh dengan cara meneruskan kesalehannya dalam kehidupan. ***








