Cikal Bakal Dinasti Mataram Islam, Ki Ageng Henis

Oktober 27, 2023
Jumat, 27 Oktober 2023


        Pusara Makam Ki Ageng Henis

GUGAT news.com SOLO

Ditemui di sekitar area pemakaman Ki Ageng Henis, cikal bakal berdirinya Dinasti Mataram Islam Panembahan Senopati di Kampoeng Batik Laweyan, salah satu Putra Ndalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger mengatakan jika Ki Ageng Henis bukan saja penurun Dinasti Mataram Islam melainkan banyak sebutan lainnya.

Artinya, Ki Ageng Henis sendiri merupakan salah satu putra dari Ki Ageng Pemanahan dan cucu dari Ki Ageng Selo, Demak, juga merupakan murid langsung Sunan Kudus serta Sunan Kalijaga sepantaran kesaktiannya dengan Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet dan lebih populer dengan sebutan Joko Tingkir. Sehingga di kenal sebagai ulama Keraton Kasultanan Pajang pada saat itu, abad 15.

Bukan hanya itu saja, masih menurut penuturan Gusti Puger, panggilan akrab GPH Puger, yang hingga kini menjadikan warisan tersendiri di Kampung Laweyan yang bersebelahan dengan Kasultanan Pajang, adalah batik. " Ki Ageng Henis lah pewaris batik di Kampoeng Batik Laweyan sekaligus Cikal Bakal Dinasti Mataram Islam," urai Gusti Puger.

Adalah Ki Ageng Pemanahan, begitu mendapatkan hadiah lahan tanah di Alas Mentaok, Kota Gede yang kini masuk wilayah Jogjakarta, yang dari Sultan Hadiwijaya atas jasanya turut membunuh Gusti Pangeran Haryo Penangsang. "Begitu memperoleh lahan tanah di Mentaok, segeralah dilakukan babat alas dengan putranya Danang Sutawijaya. Membangun rumah sekaligus padepokan," jelas Gusti Puger.

Danang Sutawijaya lah, lanjut Gusti Puger, yang akhirnya menobatkan diri sebagai pendiri Dinasti Mataram Islam dan bergelarlah Panembahan Senopati. Begitu mendirikan padepokan di Mentaok, mulailah Ki Ageng Pemanahan membangkang, menolak daulat perintah Raja Kasultanan Pajang dengan Sultan Hadiwijaya nya.

Pembangkangan bahkan mulai berani memberontak Sultan Hadiwijaya Pajang, begitu tak lama kemudian Ki Ageng Pemanahan wafat setelah selesai mendirikan padepokan Mentaok. Tidaklah tanggung tanggung, Panembahan Senopati Jumeneng Noto, menobatkan dirinya sebagai raja Dinasti Mataram Islam I di Kota Gede. 

Pemberontakan fisik pun urung dilakukan Panembahan Senopati, kecuali hanya menolak pengiriman upeti ke Pajang. Apalagi manakala mendapati sang ayah angkatnya, Sultan Hadiwijaya sakit yang akhirnya wafat, pastinya tak perlu lagi ada peperangan. " Dipindahkanlah kekuasaan Pajang ke Mentaok oleh Panembahan Senopati," jelas Gusti Puger.

Berdirilah secara resmi Dinasti Mataram Islam I dengan Panembahan Senopati sebagai rajanya (1586-1601), hanya saja baru Dinasti Mataram Islam ke 3 lah yang mulai kesohor dengan Rajanya Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645). "Sampai yang terakhir Dinasti Mataram Islam terakhir ke 4 Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1745 hingga sekarang," terang Gusti Puger.

Diterangkan Gusti Puger, untuk Mataram Islam Jogjakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran itu merupakan bagian dari pemberian Sinuhun PB III Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Setelah Kota Gede, Plered juga Kerto yang keduanya ada di Bantul, barulah Kartasura Hadiningrat dan yang terakhir Dinasti Mataram Islam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Masih menurut penuturan Gusti Puger, sekitar 1755 terjadi Perjanjian Giyanti yang melibatkan PB III, Mangkubumi adik tiri PB III dan VOC Belanda. Intinya dari pertemuan di daerah Karanganyar tersebut, Mangkubumi melalui VOC minta jatah bagian lahan kekuasaan. " Diberikan lah di daerah jogjakarta yang kini menjadi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi, Dinasti Mataram Islam terakhir itu ya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat," tegas KGPH Puger. #Yani

Thanks for reading Cikal Bakal Dinasti Mataram Islam, Ki Ageng Henis | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

TERKAIT

Show comments

HOT NEWS