iklan



FOKUS

"Salaman Istimewa"KOSETA DIY Dorong Dialog Kebhinekaan Nasional


 GUGAT news. com YOGYAKARTA

Komunitas KOSETA DIY kembali menegaskan komitmennya dalam merawat persatuan bangsa melalui penguatan ruang dialog lintas identitas. Lewat forum bertajuk “Salaman Istimewa: Merajut Indonesia Rumah Kebhinnekaan”, kegiatan ini digelar pada Minggu, 12 April 2026, di Gallery Saptohoedojo.

Sejumlah tokoh seni, budaya, dan intelektual hadir dalam forum ini, di antaranya Yani Saptohoedojo, Sri Suryawidati, Idham Samawi, Miekke Susanto, Taufik Rahzen, Yudiaryani, Arya Ariyanto, Supriyatno, Yatik Pesek serta para seniman budayawan lainnya. 

Ketua KOSETA DIY, Sigit Sugito, menegaskan pentingnya menghadirkan ruang dialog kebhinekaan yang konkret dan berkelanjutan di tengah meningkatnya gejala intoleran dan polarisasi sosial.

“Indonesia memiliki kekuatan besar pada keragaman suku, agama, ras, dan golongan. Namun, ancaman perpecahan akan muncul jika ruang interaksi lintas identitas tidak dikelola secara aktif,” ujar Sigit dalam keterangannya.

Menurutnya, KOSETA DIY menghadirkan konsep “Rumah Kebhinekaan” sebagai wadah fisik sekaligus programatik untuk mempertemukan perbedaan dalam suasana dialogis. Program ini tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi dirancang sebagai forum rutin bulanan yang mendorong kolaborasi nyata antar komunitas.

Melalui program “Salaman Istimewa: Roundtable Rumah Kebhinekaan Indonesia 2026”, KOSETA DIY mengusung tema Merajut Keberagaman, Memperkokoh Persatuan. Dialog dijadikan instrumen utama untuk mereduksi prasangka sosial sekaligus memperkuat kohesi nasional.

Sigit menjelaskan, sasaran utama kegiatan ini adalah pelajar, mahasiswa, tokoh agama, komunitas budaya, hingga masyarakat umum. Mereka dinilai sebagai aktor kunci dalam menjaga harmoni sosial di tengah dinamika bangsa yang kian kompleks.

“Generasi muda harus memahami keragaman bukan sebagai potensi konflik, tetapi sebagai sumber kekuatan bangsa. Edukasi budaya menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran kolektif tersebut,” tegasnya.

Untuk memperluas jangkauan, KOSETA DIY menggandeng Indonesia Rumah Kebhinekaan serta didukung media publik seperti RRI dan TVRI. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengangkat narasi kebhinekaan ke tingkat nasional melalui siaran edukatif dan dialog interaktif.

Sigit menilai peran media publik sangat strategis dalam menghadirkan suara lintas kelompok, termasuk tokoh agama dan generasi muda, agar pesan kebhinekaan dapat menjangkau masyarakat luas secara berimbang.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa menjaga persatuan tidak cukup berhenti pada wacana, melainkan harus diwujudkan dalam kerja kolektif yang nyata. Dialog, edukasi, dan kolaborasi menjadi kunci utama dalam merawat Indonesia sebagai rumah bersama.

“KOSETA DIY mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam merawat kebhinekaan sebagai fondasi persatuan nasional,” pungkasnya.

Melalui inisiatif ini, KOSETA DIY berharap “Rumah Kebhinekaan” dapat menjadi model gerakan sosial yang inklusif, berkelanjutan, dan relevan dalam menjawab tantangan kebangsaan di era modern. (Tor/*)



BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close