"Horeg" Jejak Letusan Merapi Yang Membeku di Atas Kanvas
Judul: Horeg
Ukuran: 40 x 40 cm
Media: Acrylic on canvas
Tahun: 2023
Karya: Chamit Arang
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Dentuman alam sering kali meninggalkan kesan yang tidak mudah hilang dari ingatan. Pengalaman semacam itulah yang kemudian diterjemahkan perupa Chamit Arang ke dalam karya lukisan berjudul Horeg, sebuah karya yang merekam momentum erupsi Gunung Merapi pada 12 Maret 2023.
Lukisan berukuran 40 x 40 sentimeter dengan media akrilik di atas kanvas tersebut tampil dalam pameran seni rupa bertajuk Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan yang digelar dalam rangka Grand Opening Ary's Wabi Sabi Co & Cafe, Senin (15/6/2026), di Ary's Wabi Sabi Co & Cafe, Ary's Garden Hotel Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan Nomor 29, Mantrijeron, Yogyakarta.
Chamit Arang mengungkapkan, inspirasi karya itu lahir dari pengalaman langsung saat menyaksikan aktivitas vulkanik Merapi dari kawasan Pakem, Sleman. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WIB ketika awan panas meluncur dari puncak gunung dan membentuk gumpalan besar yang terlihat jelas dari kejauhan.
"Saya melihat sendiri bagaimana awan panas keluar dari Merapi. Pemandangan itu sangat kuat dan membekas dalam ingatan," ujar Chamit.
Pergerakan material vulkanik ke arah barat menyebabkan sejumlah wilayah terdampak hujan abu. Kawasan Muntilan, Kabupaten Magelang, misalnya, berubah menjadi gelap seperti menjelang malam meski waktu masih siang hari. Abu dan pasir vulkanik turun perlahan, menutupi sebagian lanskap serta aktivitas masyarakat.
Chamit Arang dan karya nya
Ingatan mengenai suasana mencekam sekaligus menakjubkan itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa visual. Chamit menghadirkan komposisi warna dan sapuan akrilik yang menggambarkan energi alam yang dahsyat, namun tetap menyimpan pesona estetika. Judul Horeg sendiri terasa dekat dengan bunyi, getaran, dan daya guncang yang muncul saat alam menunjukkan kekuatannya.
Karya tersebut tidak hanya merekam sebuah peristiwa geologis, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam. Merapi dalam lukisan itu tampil bukan sekadar gunung yang meletus, melainkan simbol kekuatan, ketidakterdugaan, sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.
Pameran Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan menghadirkan beragam karya yang mengangkat pengalaman personal, refleksi sosial, hingga perenungan filosofis mengenai kehidupan. Tema yang diusung mengajak publik melihat bahwa keindahan tidak selalu lahir dari sesuatu yang sempurna, melainkan sering muncul dari proses, luka, perubahan, dan ketidakteraturan yang menyertai perjalanan hidup manusia.
Pameran yang dibuka kurator, budayawan, sekaligus dosen ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, tersebut juga melibatkan 21 perupa lintas generasi. Mereka terdiri atas Awang Behartawan, Budi Ubrux, Dadi Setiyadi, Erica Hestu Wahyudi, Heri Purwanto, Klowor Waldiyono, Komroden Haro, Lully Tutus, Nasirun, Ridi Winarno, Rina Kurniyati, Rismanto, Samuel Indratma, Sigit Handari, Sinung Rubiyanto, Sulardi Wiyana, Tri Suharyanto, Ugo Untoro, Watie Respati, dan Yaya Maria.
Melalui Horeg, Chamit Arang menunjukkan bahwa sebuah letusan tidak hanya meninggalkan jejak pada bentang alam, tetapi juga pada ruang batin manusia. Kanvas itu menjadi tempat ingatan bekerja, mengubah kepulan awan panas dan hujan abu menjadi narasi visual yang terus hidup, jauh setelah dentuman Merapi mereda. (Tor/*)






