iklan



FOKUS

Joko Pranoto : Seniman Jangan Terjebak Romantisme Berkesenian, Karya Harus Menghidupi Diri dan Keluarga


 GUGAT news. com YOGYAKARTA

"Seniman itu harus berdaya hingga mampu keluar dari persoalan antara hasrat berkesenian dengan pemenuhan kebutuhan keluarga." Pernyataan itu disampaikan Joko Pranoto saat ditemui gugatnews.com. 

Bagi penggagas MORSA (Musik Orkestra dan Sastra) tersebut, berkesenian tidak cukup berhenti pada pencapaian estetika atau tepuk tangan penonton. Seni harus mampu menjadi jalan hidup yang berkelanjutan bagi pelaku seni sekaligus keluarganya.

Joko lahir di Binjai pada 1965 dari ayah keturunan Jawa asal Purworejo dan ibu bermarga Hasibuan dari Batak. Lulusan Universitas Pembinaan Masyarakat Indonesia (UPMI) Medan bidang pertanian ini memulai aktivitas kesenian sejak 1985 sebelum kemudian berkecimpung di dunia event organizer, promotor pertunjukan, dan agribisnis. Pengalaman panjang tersebut membentuk keyakinannya bahwa kerja harus dijalani secara total dan profesional, termasuk dalam dunia seni.

Menurut Joko, banyak seniman terjebak pada romantisme berkesenian. Mereka merasa berhasil ketika karya dimuat media, tampil di panggung, atau mendapat pujian dari komunitas. Padahal kehidupan keluarga memiliki ukuran yang berbeda. Pengalaman pribadi membuatnya pernah meninggalkan dunia kesenian karena keluarganya tidak suka berkesenian. Baginya, seorang seniman harus mampu menjaga keseimbangan antara idealisme dan tanggung jawab sosial.

Joko juga menilai tidak semua orang dilahirkan sebagai pribadi multitalenta. Namun keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Jika seseorang hanya memiliki satu kemampuan, maka kemampuan itu harus digali hingga mencapai tingkat yang monumental. Seorang penyair, misalnya, harus mampu mengeksplorasi kedalaman diksi, gagasan, perspektif, dan bentuk penyajian sehingga menghasilkan karya yang memiliki nilai lebih dibanding karya-karya lain.

Setelah karya monumental lahir, menurut Joko, diperlukan proses manajemen yang baik melalui publikasi, pemberitaan, jejaring, dan dukungan komunitas. Banyak seniman memiliki karya berkualitas tetapi gagal meningkatkan nilai ekonominya karena tidak memiliki strategi pengelolaan karya. Karena itu kualitas artistik dan manajemen karya harus berjalan beriringan agar mampu menciptakan nilai yang lebih tinggi.

Salah satu persoalan yang juga disorot Joko adalah pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) untuk kegiatan kebudayaan. Ia menilai Danais seharusnya dipahami sebagai subsidi penyelenggaraan kegiatan, bukan pembiayaan penuh. Karena itu kegiatan seni dan budaya yang memperoleh dukungan Danais tetap dapat menerapkan tiket masuk sebagai bagian dari strategi pembiayaan. Menurutnya, penerapan tiket bukan bentuk komersialisasi budaya, melainkan penghargaan terhadap proses kreatif agar seniman tidak terus-menerus berkesenian sambil menanggung kerugian.

Kegelisahan terbesar Joko berada pada dunia sastra yang dinilainya belum memiliki ekosistem ekonomi yang sehat. Pembacaan puisi, diskusi sastra, hingga peluncuran buku masih banyak dilakukan secara gratis, sementara para pelakunya tidak memperoleh penghargaan ekonomi yang layak. Ia mendorong lahirnya sistem manajemen yang mampu mengelola karya para sastrawan secara profesional sehingga karya sastra tidak hanya diterbitkan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang jelas. Gagasan tersebut akan mulai dicoba melalui MORSA pada 23 Juni besok dan pementasan teater "Penggali Kubur" yang disutradarai Eko Winardi pada 1 Juli.  

Joko berharap setiap pertunjukan tidak berhenti pada tontonan semata, tetapi juga membuka ruang apresiasi ekonomi terhadap karya, termasuk kemungkinan lelang atau koleksi naskah drama. Menurutnya, naskah yang telah terbukti monumental semestinya dapat memiliki nilai tinggi sebagaimana karya seni rupa, sehingga mampu mendorong lahirnya penulis-penulis baru yang lebih produktif.

Joko juga mengajak para seniman untuk membangun budaya saling mendukung. Ketika seorang penyair menerbitkan buku atau seorang dramawan menghasilkan naskah berkualitas, komunitas seni seharusnya menjadi pihak pertama yang memberikan apresiasi. Melalui MORSA, ia ingin membangun ekosistem yang memungkinkan seniman memperoleh penghargaan finansial tanpa kehilangan idealisme. "Dibayar saat membaca puisi bukan berarti mengkhianati idealisme. Itu justru bentuk penghargaan terhadap pikiran, gagasan, dan karya," ujar Joko Pranoto yang kini tinggal di Wedomartani Sleman Yogyakarta. (Tor/*)



BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close