iklan



FOKUS

Negara Merobek Selimut Ibuku. Ketika Sastra & Seni Rupa Menyuarakan Ingatan Kolektif

Sampul buku Antologi Cerita Pendek "Negara Merobek Selimut Ibuku" Karya Isti Nugroho, Indra Tranggono dan Kamerad Kanjeng

GUGAT news. com YOGYAKARTA

 Yogyakarta kembali menjadi arena pertemuan berbagai ekspresi seni dan kebudayaan. Sebuah peristiwa budaya yang mengusung tema kritik sosial dan ingatan sejarah akan hadir melalui peluncuran buku dan pameran seni rupa bertajuk "Negara Merobek Selimut Ibuku".

Kegiatan akan berlangsung pada Jumat, 5 Juni 2026 mulai pukul 15.00 WIB di Sanggar Keselatan, Jalan Langenarjan Lor No. 8, Kraton, Yogyakarta. Setelah peluncuran buku, acara dilanjutkan dengan pameran lukisan yang berlangsung hingga 1 Juli 2026.

Salah satu penulis buku, Kamerad Kanjeng, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan kolaborasi kreatif antara tiga penulis dan tiga pelukis yang bekerja dalam posisi setara. Antologi cerita pendek Negara Merobek Selimut Ibuku ditulis oleh Isti Nugroho, Indra Tranggono, dan Kamerad Kanjeng, kemudian ditafsirkan ke dalam karya visual oleh Moelyono, Rudi Winarso, dan Harjiman.

“Peluncuran antologi cerita pendek ini merupakan upaya menghidupkan kembali ingatan tentang berbagai episode kekerasan politik pada akhir dekade 1980-an. Narasi yang kami tulis kemudian diterjemahkan menjadi karya-

karya lukis yang memperluas ruang refleksi bagi publik,” ujar Kamerad Kanjeng.

Buku tersebut memperoleh perhatian sejumlah tokoh nasional. Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, menilai tiga cerita pendek dalam buku ini merekam penderitaan keluarga korban represi politik Orde Baru, khususnya sosok ibu yang harus menanggung kehilangan akibat penangkapan dan penghilangan orang-orang yang dianggap berseberangan dengan kekuasaan.

Sementara itu, aktivis hak asasi manusia Ifdal Kasim mendorong generasi pasca-Reformasi untuk membaca buku ini sebagai pintu masuk memahami situasi politik pada masa Orde Baru.

Dalam prolog buku, Denny JA menyebut Negara Merobek Selimut Ibuku sebagai “zikir kemanusiaan di tengah reruntuhan ideologi.” Menurutnya, kisah-kisah dalam buku ini menghadirkan potret manusia-manusia biasa yang tetap menjaga martabat dan kemanusiaan di tengah tekanan kekuasaan.

Penulis Isti Nugroho, Indra Tranggono dan Kamerad Kanjeng berkolaborasi dengan 3 pelukis Moelyono, Rudi Winarso dan Harjiman dalam "Negara Memyobek Selimut Ibuku".

Selain peluncuran buku, publik juga dapat menikmati 28 karya seni rupa yang dipamerkan hingga awal Juli mendatang.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah lukisan kepala suku Papua karya Rudi Winarso. Berbeda dari kebiasaan pelukis pada umumnya, Rudi menggunakan bahan-bahan alami Nusantara seperti kopi dan rempah-rempah sebagai medium berkarya. Selama bertahun-tahun, ia konsisten mengembangkan teknik melukis berbasis material alam sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan pengetahuan lokal.

Pelukis Harjiman menghadirkan karya-karya yang lahir dari refleksi personal mengenai rasa bersalah, penyesalan, pertobatan, dan kesadaran diri. Selain karya orisinalnya, pameran juga menampilkan sejumlah reproduksi dan tafsir ulang terhadap karya-karya maestro dunia seperti Rembrandt, Van Gogh, Picasso, Raden Saleh, hingga Angel of Death karya Gustave Dorรฉ.

Sementara itu, Moelyono menampilkan karya yang menjadi sampul buku Negara Merobek Selimut Ibuku. Lukisan tersebut menggambarkan seorang mama muda Papua yang menatap masa depan dengan kegelisahan di tengah kerusakan lingkungan, perubahan sosial, dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.

Menurut Kamerad Kanjeng, keseluruhan proyek sastra dan seni rupa ini lahir dari kegelisahan bersama tentang hubungan manusia dengan sejarah, ruang hidup, dan ingatan kolektif yang perlahan memudar di tengah laju modernitas.

“Pameran ini tidak menghadirkan romantisme masa lalu, melainkan upaya membaca kembali jejak-jejak ingatan yang masih hidup dalam tubuh, tanah, hutan, laut, dan pengalaman rakyat Nusantara. Kami berangkat dari kegelisahan yang sama mengenai bagaimana sejarah dan kemanusiaan terus berhadapan dengan perubahan zaman,” katanya. (Tor/*)




BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close