Jogja Internasional Kite Festival 2026 Hadirkan Peserta 17 Negara, Usung Misi Merekatkan Keluarga
GUGAT News. com BANTUL
Langit Pantai Parangkusumo kembali akan dipenuhi aneka layang-layang raksasa dari berbagai penjuru dunia. Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 tidak sekadar menyuguhkan atraksi udara. JIKF juga mengangkat pesan penting tentang kebersamaan keluarga di tengah semakin minimnya interaksi antara orang tua dan anak.
Memasuki penyelenggaraan ke-11, festival layang-layang internasional tersebut digelar pada 11–12 Juli 2026. JIKF menghadirkan peserta dari 17 negara, puluhan klub layang-layang nasional, kompetisi memperebutkan Piala Raja, hingga berbagai program edukasi yang menjadi inovasi baru tahun ini.
Ketua Jogja International Kite Festival, Anang Sarjiyanto, mengatakan penyelenggaraan tahun ini mengusung tema "Melayang Bersama Keluarga Membentuk Generasi Emas." Tema tersebut dipilih karena pelaksanaan festival bertepatan dengan momentum libur sekolah yang dinilai menjadi kesempatan ideal untuk mempererat hubungan dalam keluarga.
Interaksi antara orang tua dan anak, menurut Anang, semakin berkurang akibat kesibukan masing-masing. Kondisi tersebut mendorong panitia menghadirkan festival yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang bersama bagi keluarga melalui aktivitas kreatif dan edukatif.
"Momentum libur sekolah kami manfaatkan agar keluarga memiliki ruang untuk berkegiatan bersama. Kami ingin hubungan orang tua dan anak semakin dekat melalui aktivitas yang positif, sekaligus membentuk karakter generasi emas," ujar Anang saat konferensi pers, Rabu (1/7/2026).
Partisipasi internasional menjadi salah satu daya tarik utama JIKF 2026. Sebanyak 17 negara akan menampilkan beragam layang-layang artistik maupun layang-layang berukuran raksasa yang selama ini menjadi ikon festival tersebut.
Sorotan tahun ini tertuju pada kehadiran Saula, peserta asal Lituania yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Indonesia. Kehadirannya memperlihatkan semakin luasnya jejaring internasional yang berhasil dibangun penyelenggara.
Anang mengungkapkan perkenalannya dengan Saula bermula dalam sebuah festival layang-layang di India dua tahun lalu. Undangan untuk tampil di Yogyakarta akhirnya disambut positif. "Undangan itu akhirnya dipenuhi. Ini membuktikan bahwa Jogja International Kite Festival semakin dikenal di dunia internasional dan mampu menarik peserta dari berbagai negara," katanya.
Persaingan nasional juga dipastikan berlangsung sengit. Sebanyak 45 klub layang-layang dari berbagai daerah seperti Bali, Kalimantan, Lampung, Blitar, dan sejumlah wilayah lain akan bertarung memperebutkan Piala Raja.
Rangkaian kegiatan tahun ini tidak berhenti pada kompetisi dan pertunjukan udara. Panitia menambahkan sejumlah program edukasi yang menyasar pelajar, mahasiswa, komunitas fotografi, hingga masyarakat umum.
Salah satu program baru berupa seminar dan praktik kite aerial photography, yakni teknik fotografi udara menggunakan kamera yang dipasang pada layang-layang. Kegiatan berlangsung pada 7–9 Juli 2026 sebagai alternatif fotografi udara yang lebih ramah lingkungan dan berbiaya relatif murah dibanding penggunaan drone maupun helikopter.
"Kami ingin memperkenalkan teknik fotografi udara menggunakan layang-layang. Selama ini masyarakat lebih mengenal drone atau helikopter, padahal layang-layang juga dapat menghasilkan foto udara yang unik dan menarik," jelas Anang.
Inovasi berikutnya hadir melalui Olimpiade Layang-Layang Indonesia yang dikurasi Lembaga Prestasi Nasional. Kompetisi tersebut dirancang sebagai media pembelajaran berbasis kreativitas sesuai jenjang pendidikan.
Siswa SD kelas 1 hingga kelas 3 akan mengikuti lomba mewarnai layang-layang. Peserta SD kelas 4 hingga kelas 6 berkompetisi dalam lomba melukis layang-layang, sedangkan siswa SMP ditantang merakit layang-layang menggunakan bahan yang telah dipersiapkan dari rumah.
Seluruh proses perakitan dilakukan di arena lomba dengan pendampingan orang tua. Format tersebut diharapkan mampu membangun kreativitas sekaligus memperkuat kolaborasi di dalam keluarga.
Ekspansi penyelenggaraan juga menjadi pembeda JIKF 2026. Festival Layang-Layang Tingkat Daerah untuk pertama kalinya digelar di Kabupaten Kulon Progo sebagai ajang pembinaan komunitas lokal sebelum tampil pada festival internasional.
Pemilihan lokasi, menurut Anang, memerlukan koordinasi panjang karena sebagian besar wilayah Kulon Progo berada dalam kawasan keselamatan operasional penerbangan. Panitia akhirnya menetapkan kawasan persawahan di sekitar Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dekat Bandara Yogyakarta sebagai lokasi yang dinilai aman untuk aktivitas menerbangkan layang-layang.
Aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam festival tersebut. Pembekalan kepada peserta meliputi pemilihan lokasi yang aman, teknik menerbangkan layang-layang, hingga pentingnya menghindari kawasan jalan raya maupun wilayah operasional penerbangan.
Langkah edukatif itu dilakukan menyusul sejumlah insiden yang pernah terjadi akibat aktivitas bermain layang-layang di lokasi yang tidak semestinya.
"Kami ingin masyarakat memahami cara bermain layang-layang yang aman sehingga tidak membahayakan pengguna jalan maupun aktivitas penerbangan. Keselamatan menjadi prioritas utama," tegas Anang.
Saula mengaku terkesan dengan kunjungan pertamanya ke Indonesia. Panorama alam yang indah dipadukan dengan karakter angin yang berbeda dari negaranya menjadi tantangan tersendiri dalam menerbangkan layang-layang.
"Indonesia sangat istimewa dan sangat indah. Saya tertantang karena karakter anginnya berbeda sehingga saya harus memikirkan cara terbaik untuk menerbangkan layang-layang di sini," ujar Saula. (Tor)







