Pak Budi dan Keihlasan Yang Tak Pernah Memasang Tarif
Sabtu, 12 September 2026
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Jenazah Tukiman Budi Santoso (73) hendak dikuburkan di Makam Kiai Gletak, Pakelrejo, Sorosutan, Umbulharjo Yogyakarta, Kamis (9/9/26)
Ada orang yang menyembuhkan dengan obat. Ada yang menguatkan dengan kata-kata. Ada pula yang menolong dengan tangannya sendiri, tetapi selalu mengatakan bahwa dirinya hanya sebuah lantaran. Tukiman Budi Santoso adalah salah satunya.
Aku pertama kali datang kepada Pak Budi di Prawirodirjan, Mergangsan, Yogyakarta, ketika tubuh sedang tidak bersahabat. Bagian punggung atau boyok sering tiba-tiba terasa seperti lumpuh saat tidur. Hendak bangun sulit. Sedikit bergerak terasa sakit. Sudah sebulan keadaan itu berlangsung. Dipijat ke beberapa tempat belum juga membaik.
“Pak, kulo niku nggen punggung. Kadang kalau tidur tiba-tiba seperti lumpuh. Mboten saged tangi, nggo obah sakit banget. Ini sudah sebulanan. Sampun kulo pijet, tapi dereng penak. Tasih sakit.”
Pak Budi mendengarkan tanpa banyak bertanya. “Monggo, kulo aturi lenggah mriku. Sukunipun selonjoran mriki,” katanya lembut dalam bahasa Jawa krama. Aku duduk. Kedua kaki ku selonjor di atas dingklik. Pak Budi kemudian memegang kaki ku. “Sampun nate dhawah, nggeh?”
“Nggeh. Nalika nom, SMP. Kaleh pas Voli, boyok e kecetit. Sakit.” Begitu aku menjawab nya. Entah bagaimana, Pak Budi seperti menemukan jejak sakit itu dari telapak kaki. Beberapa titik telapak dan pergelangan kaki mulai ditekan dan direfleksi. Sentuhannya sebenarnya tidak keras.
Namun rasa sakitnya luar biasa. Aku mengerang. Sesekali bahkan menjerit keras. Setiap titik yang disentuh seperti menyambungkan rasa sakit dari kaki menuju punggung. Pak Budi tetap tenang. “Menika syaraf kejepit. Niki kawulo dandani kanthi refleksi.”
Lalu ia mengatakan sesuatu yang sampai sekarang masih aku ingat. “Panjenengan ndedongo, nyuwun kalian Gusti diparingi gampang sembuh, sehat. Kulo namung dados lantaran.”
Aku hanya diam. Kalimat itu sederhana, tetapi menunjukkan cara Pak Budi memandang dirinya sendiri. Ia tidak pernah menempatkan diri sebagai orang yang mampu menyembuhkan. Ia hanya berusaha. Ia hanya menjadi lantaran. Yang menyembuhkan tetap Gusti Allah.
Terapi berlangsung sekitar 20–30 menit.
Sebelum saya pulang, ia berpesan agar datang kembali seminggu kemudian. “Meniko mangke menawi sakit mboten nopo-nopo. Niku mbenahi saraf awal rumiyin. Seminggu maleh mriki.” Saat itu uang yang aku bawa hanya Rp20.000. Aku datang bukan karena memiliki cukup uang, tetapi karena sedang membutuhkan pertolongan.
Dan dari situlah aku kemudian mengetahui sesuatu tentang Pak Budi yang justru jauh lebih berkesan daripada teknik refleksinya. Pak Budi tidak memasang tarif. Berapa pun uang yang diberikan pasien diterimanya dengan senang hati. Bahkan jika seseorang datang tanpa membawa uang, ia tetap dilayani dengan baik dan sungguh-sungguh.
Sepanjang mengenalnya, aku tidak pernah mendengar Pak Budi bercerita tentang berapa uang yang ia terima dari pasien. Ia juga tidak pernah sibuk menghitung-hitung jasa. Justru kepada pasien yang sudah sembuh ia sering mengatakan: “Kalau sudah sehat, nggak usah datang lagi. Cukup diseko pada titik yang diberitahu dengan botol air panas.”
Nasihat sederhana itu kemudian menjadi bagian dari ikhtiar saya. Namun terapi pertama ternyata belum langsung mengakhiri rasa sakit. Sepulang dari tempat Pak Budi, hampir setiap malam punggung ku masih mengalami kejang seperti lumpuh. Terutama ketika sedang tidur dan hendak bangun. Empat malam berturut-turut rasa sakit itu datang. Belum genap seminggu, aku kembali menemui Pak Budi.
Kaki ku kembali direfleksi. Kali ini, alhamdulillah, keadaan berubah. Rasa sakit berangsur hilang. Tubuh kembali terasa sehat. Sejak itu, ketika badan terasa kurang nyaman, aku sering melakukan apa yang pernah disarankan Pak Budi: seko menggunakan botol berisi air panas pada titik-titik tertentu.
Botol air panas itu kemudian bukan sekadar benda sederhana untuk menghangatkan tubuh. Ia menjadi pengingat. Bahwa pernah ada seseorang yang mau menolong orang lain tanpa lebih dahulu bertanya berapa imbalannya.
Waktu terus berjalan. Orang yang tangannya pernah membantu banyak orang itu ternyata mulai berhadapan dengan sakitnya sendiri. Menjelang kepergiannya, aku beberapa kali datang menemui Pak Budi. Aku bermaksud meminta bantuan merefleksi tangan dan jari anak ku yang sedang sakit.
Tiga kali datang, tiga kali pula Pak Budi menolak dengan halus. Bukan karena tidak mau menolong. Tubuhnya sudah tidak memungkinkan.
Adik ku kemudian bercerita bahwa sekitar sebulan terakhir Pak Budi sudah tidak mampu lagi merefleksi pasien karena sakit. Tubuhnya semakin kurus. Kondisinya terlihat lemah. Ada ironi yang menyentuh di sana.
Orang yang selama bertahun-tahun membantu mengurangi rasa sakit orang lain, pada akhirnya harus berhadapan dengan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Aku sebenarnya berencana membesuknya. Tetapi manusia boleh merencanakan, sementara waktu kematian berada di tangan Allah. Rabu sore, selepas Magrib, sekitar pukul 18.00, kabar itu datang.
Pak Budi meninggal dunia di RS Pratama.
Aku belum sempat membesuknya.
Yang datang lebih dahulu justru kabar duka. “Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.”
Sugeng sowan wonten ngarsanipun Gusti Allah, Pak Budi.
Aku kemudian teringat kembali pada kaki yang pernah ia pegang. Pada rasa sakit yang membuat saya menjerit. Pada Rp20.000 yang aku bawa ketika pertama kali datang. Pada tangannya yang bekerja tanpa tarif. Pada nasihatnya agar orang yang sudah sembuh tidak perlu terus datang.
Dan terutama pada kalimatnya: “Kulo namung dados lantaran.” Mungkin itulah warisan terbesar Pak Budi. Bukan sekadar teknik refleksi. Bukan pula cerita tentang berapa banyak pasien yang pernah datang kepadanya. Melainkan sebuah cara hidup: menolong dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak merasa menjadi penentu kesembuhan.
Di tengah kehidupan yang sering membuat segala sesuatu dihitung berdasarkan keuntungan, Pak Budi seperti mengingatkan bahwa masih ada bentuk kebaikan yang tidak selalu membutuhkan tarif.
Tangannya menyentuh saraf orang yang sakit. Tetapi ketulusannya menyentuh sesuatu yang lebih dalam: hati orang yang ditolong. Kini tangan itu telah berhenti merefleksi. Suara lembutnya tidak akan lagi terdengar mempersilakan pasien duduk dan selonjoran. Namun kebaikan seseorang tidak selalu berhenti ketika tubuhnya berhenti bekerja.
Ia tinggal dalam ingatan orang-orang yang pernah ditolongnya. Termasuk aku.
Semoga Allah mengampuni segala dosa Pak Budi, menerima seluruh amal kebaikannya, melapangkan alam barzahnya, menerangi kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga ketulusannya menjadi amal yang terus mengalir. Insyaallah, husnul khatimah.
Selamat jalan, Pak Budi. Panjenengan mboten namung dados lantaran kesembuhan. Panjenengan ugi sampun dados lantaran kula sinau babagan ikhlas. (Tor)






