Alumni SMPN Baturetno 1986, Empat Puluh Tahun Berlalu. Persahabatan Tak Pernah Pensiun
GUGAT news. com
YOGYAKARTA — Rambut boleh memutih, wajah berubah dimakan usia, dan langkah tak lagi selincah masa remaja. Namun, Minggu, 18 Oktober 2026, waktu seolah berhenti bagi alumni SMP Baturetno Banguntapan Bantul Yogyakarta Angkatan 1986. Empat puluh tahun setelah meninggalkan bangku sekolah, mereka kembali berkumpul, tertawa, dan berbagi cerita. Jarak waktu empat dekade terasa luruh ketika kawan lama kembali berjumpa.
Sebanyak 60 alumni dari berbagai kota di Jawa menghadiri reuni di Limasan Klampok Resto, Yogyakarta. Jumlah itu mencapai sekitar 70 persen dari keseluruhan anggota angkatan. Dipandu Mualim Hadi Abdullah dan dimeriahkan organ tunggal, acara berlangsung meriah. Tidak ada sekat jabatan, kekayaan, maupun status sosial. Semua membaur dalam suasana akrab, merayakan persahabatan yang bertahan melintasi zaman.
Dahulu, mereka adalah remaja berusia sekitar 13–16 tahun. Belum memiliki KTP, belum mempunyai SIM, dan masih sibuk dengan pelajaran, pertemanan, serta kenakalan khas anak sekolah. Kini, sebagian telah memasuki masa pensiun. Mereka membawa kisah hidup masing-masing. Pekerjaan, usaha, keluarga, keberhasilan, perjuangan, hingga pengalaman kehilangan. Namun, di tengah pertemuan itu, semua kembali menjadi kanca lawas, teman seperjalanan yang pernah tumbuh bersama.
Ketua alumni sekaligus Ketua Panitia, Ramea Agus Purnomo, menempatkan reuni empat dekade ini bukan sekadar sebagai ajang nostalgia. Pertemuan tersebut menjadi momentum mempererat persaudaraan setelah setiap alumni melewati perjalanan hidup yang panjang.
Persahabatan Menjaga Kebahagiaan
Memasuki usia 55 tahun ke atas, kehidupan manusia mengalami banyak perubahan. Rutinitas pekerjaan mulai berkurang, anak-anak tumbuh dewasa, dan lingkungan pergaulan terkadang semakin terbatas. Masa pensiun memang memberi keleluasaan waktu, tetapi juga dapat menghadirkan rasa kehilangan peran, kesepian, dan kerinduan terhadap kebersamaan.
Dalam keadaan seperti itu, persahabatan lama mempunyai arti tersendiri. Reuni menyediakan ruang untuk kembali terhubung, berbagi pengalaman, dan menyadari bahwa seseorang tidak menjalani kehidupan sendirian. Canda, tawa, serta cerita masa sekolah menghadirkan kegembiraan yang tidak selalu bisa diperoleh dari kesibukan sehari-hari.
Secara psikologis, hubungan sosial yang positif berkaitan dengan kesejahteraan emosional dan kualitas hidup yang lebih baik. Percakapan dan aktivitas mengingat pengalaman bersama juga melibatkan perhatian serta ingatan. Reuni tentu bukan obat untuk mencegah Alzheimer atau demensia, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sosial yang aktif dan bermakna.
Kebahagiaan itu tidak harus hadir melalui acara mewah. Pertanyaan sederhana tentang kabar, keluarga, pekerjaan, atau tempat tinggal sudah cukup membuka percakapan panjang. Kenakalan remaja yang dahulu membuat guru menggelengkan kepala kini menjadi bahan tertawaan. Kenangan yang semula biasa saja berubah menjadi cerita berharga karena dibagikan bersama orang-orang yang mengalaminya.
Tak Ada Sekat di Antara Kawan
Salah satu makna penting reuni terletak pada kesetaraan. Di luar pertemuan, setiap alumni mungkin memiliki kedudukan ekonomi, profesi, dan pencapaian berbeda. Ada yang sukses membangun usaha, ada yang mengabdi sebagai pegawai, dan ada pula yang menjalani kehidupan sederhana. Namun, dalam reuni, semua kembali setara sebagai teman sekolah.
Kebersamaan seperti ini mengingatkan bahwa keberhasilan hidup tidak semata-mata diukur dari jabatan, kekayaan, atau prestasi anak. Setiap orang mempunyai jalan hidup, tantangan, dan kebahagiaannya sendiri. Reuni menjadi ruang untuk saling menerima, bukan membandingkan; saling menguatkan, bukan memamerkan pencapaian.
Persahabatan juga tidak seharusnya berhenti ketika acara selesai. Kabar tentang teman yang sakit, kunjungan kepada kawan yang membutuhkan, dan kesediaan mendengarkan persoalan sesama merupakan bentuk kepedulian yang jauh lebih bermakna daripada sekadar berfoto bersama.
Empat puluh tahun telah berlalu. Waktu mengubah penampilan, pekerjaan, dan keadaan keluarga, tetapi tidak harus menghapus kedekatan. Reuni alumni SMP Baturetno Banguntapan Angkatan 1986 menjadi pengingat bahwa memasuki masa pensiun bukan berarti kehidupan sosial ikut berakhir. Justru ketika tuntutan pekerjaan berkurang, persahabatan dapat menjadi sumber semangat untuk menjalani hari-hari berikutnya.
Rambut boleh memutih. Langkah boleh melambat. Masa kerja boleh berakhir. Namun, selama masih ada kemauan untuk saling menyapa, berbagi kebahagiaan, dan menjaga kepedulian, persahabatan tidak pernah benar-benar menua. Kekancan Seduluran Saklawase. Berteman, bersaudara, dan menjaga kebersamaan sepanjang masa. (Tor)









