Memprihatinkan Penderita Autisme Terus Meningkat

Desember 21, 2021
Selasa, 21 Desember 2021


 GUGAT news.com

Selama ini, kita menganggap penyakit autisme hal yang biasa saja. Tapi begitu pakar pendidikan anak autis, Dr. Imaculata Sumayati, membeberkan berbagai fakta mengerikan di balik penderita Autisme,  kita jadi perlu memperhatikan. 

Anak Autisme itu satu fakta yang harus diperhatikan. Untuk pengobatannya memerlukan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya jika sekolah, dibutuhkan jumlah guru yang sama besarnya dengan penderita Autisme itu sendiri. 



"Untuk mengajar anak Autisme itu satu murid satu guru. Kalau anak normal, satu guru bisa mengajar 30 murid," para Dr. Imaculata Sumayati, dalam keterangan tertulis, Senin (20/12/2021).

Menurut Dr. Imaculata Sumayati, jumlah penderita Autisme tiap tahun meningkat. Sedikitnya, 500 anak tiap tahun tambahan anak autis. “Data terkahir jumlah penderita anak Autisme di Indonesia sekitar 2.4 juta. Dan naik terus dari tahun ke tahun,” paparnya.

Menurut data CDC (Center for Disease Control and Prevention, USA) pada tahun 2012, bahwa setiap setiap 88 anak, ditemukan 1 anak pengidap autisme. Dan angka ini terus meningkat. Pada tahun 2014, setiap 68 anak ditemukan satu anak autis. 


“Di Indonesia sendiri sampai saat ini belum ada survey mengenai jumlah akurat anak penyandang autism,” jelas Dr. Imaculata Sumayati.

Namun dari beberapa laporan para profesional yang bergerak dalam penanganan anak autis diketahui angka pertumbuhan jumlah angka penyandang autis meningkat pesat. 

Mengutip data Dr Melly Budiman pada tahun 2000, Dr. Imaculata Sumayati menyatakan, perbandingan anak autis adalah 1:500. Artinya setiap 500 anak terdapat satu anak penyandang autisme. 


Empat tahun kemudian, Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari menyatakan, jumlah anak penyandang autis adalah 475 ribu. Pada tahun 2006 jumlah anak penyandang autis di Indonesia adalah 1:150, artinya setiap 150 anak terdapat satu anak autis. 

“Hal ini jelas naik 300 persen hanya dalam tempo 6 tahun. Jika mengacu pada jumlah anak Indonesia di tahun 2012 adalah 52 juta, maka jumlah anak autis tahun 2012 sebanyak 532,200 anak,” ujar Dr. Imaculata Sumayati.

Jika pertambahan anak autis tiap tahun sebesar 53,220 anak, dan tiap hari kebanjiran penyandang autis sebanyak 147 anak. Dari tahun 2012 sampai tahun 2021 jika tiap hari pertambahan anak autis sebesar 147, maka dalam 10 tahun sedikitnya 529,200. Wajar jika tahun ini diperkirakan sebanyak 2,4 juta. 


         Makanku praktis dan tidak ribet

Dr. Imaculata Sumayati telah mendirikan sekolah Imaculata Autism Boarding School. Sekolah ini adalah sekolah berkebutuhan khusus dan mempunyai asrama. Didirikan sejak tahun 2000. Pada saat pertama kali dibuka menerima 5 pederita autis. Hanya selang sebulan sudah berjumlah 20 siswa autis. kemudian menerima 40 penderita autis. 

Sekolah ini mendidik anak berdasarkan kondisi anak masing - masing. Sehingga kurikulum yang dibuat berangkat dari kondisi anak tersebut. Kekurangan maupun kelebihan. Dengan demikian pendidikan berjalan dengan kurikulum untuk anak, bukan anak untuk kurikulum. 

Saat ini Imaculata Autism Boarding School menampung 70 penderita autis. Setiap tahun meningkat tapi karena kapasitasnya terbatas sehingga harus menunggu. 


Makanku Makanan Sehat Siap Saji Masa Kini Solusi Di Saat Pandemi Covid-19

Dr. Imaculata Sumayati mengaku setiap tahun jumlah pendaftar sekolah tersebut meningkat. Tahun ini saja sedikitnya 600 anak autis yang masuk daftar waiting list untuk bisa masuk sekolah tersebut. 

*Penyebab Anak Lahir Autisme*
Menurut Dr Imaculata, salah satu yang paling layak untuk diduga dicurigai adalah penggunaan kemasan plastik yang mengandung Bisphenol A (BPA) terus menerus. Dan hampir di semua peralatan makan atau rumah tangga mengandung BPA. 

"Kenapa anak anak bisa kena autism. Lihat saja perilaku kita sehari hari, hampir tak pernah lepas dari plastik yang mengandung BPA. Makan, minum, mainan semua menggunakan plastik yang mengandung BPA," tutur Dr Imaculata.  

Studi terbaru oleh peneliti dari Universitas Chulalongkorn, Universitas Tohoku dan Universitas George Washington yang pertama mengidentifikasi gen kandidat autisme yang mungkin bertanggung jawab atas spesifikasi jenis kelamin dari Bisphenol A (BPA) pada otak.

Hal ini menunjukkan BPA dapat berfungsi sebagai faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap prevalensi bias pria pada gangguan spektrum austime (ASD). 


Banyak penelitian menunjukkan BPA merusak fungsi neurologis yang diketahui terganggu pada ASD. Para ilmuwan percaya bahwa BPA mungkin menjadi salah satu faktor risiko lingkungan utama untuk ASD.

Di tahun 2021 sedikitnya ada lima penelitian penting tentang zat BPA sebagai salah satu faktor penyebab autisme. Penelitian menemukan bahwa paparan BPA prenatal bahkan dalam konsentrasi yang rendah dapat meningkatkan risiko gejala autisme yang dapat memprediksi kemampuan sosial di kemudian hari. 

Penelitian paling mutakhir dipublikasikan oleh mdpl. Com pada 8 Desember 2021 lalu. Dalam jurnal yang berjudul Autisme - Related  Transcription Factors Underlying the sex - Spesific Effects of prenatal Bisphenol A Exposure on Transcription - Interactome Profiles in the offspring Preprontal Cortex. 

Jurnal tersebut menyatakan bahwa Bisphenol A (BPA) adalah faktor resiko lingkungan untuk gangguan spektrum autisme (ASD). 


Guru besar Departemen Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Prof. Dr Andri Cahyo Kumoro, S.T., M.T memberi pemahaman bagaimana zat BPA bisa lepas dari  plastik polycarbonat. 

Pelecutan zat BPA itu bisa terjadi apabila ada pemanasan dan gesekan. Dan kemungkinan terjadinya pelecutan atau migrasi BPA ke air yang paling mungkin terjadi di kota besar. Misal galon guna ulang, kalau beredar di kota pasti frekuensinya lebih tinggi bila di banding bukan di kota. 

"Di kota besar siklusnya lebih cepat. Di depo-depo isi ulang. Saya melihat di beberapa daerah membersihkan secara tradisional. Yang penting cepat, harusnya menggunakan sikat yang lembut sehingga kemungkinan kecil terjadinya pelecutan BPA," ungkap Prof.  Andri. 


     Masih melayani pembelian Kota Solo

Dengan fakta - fakta penelitian bahwa BPA sebagai salah satu faktor penyebabnya beberapa penyakit, dirinya sangat mendukung jika dilakukan pelabelan. Banyak konsumen tidak tahu simbol 7 itu artinya apa? Hanya produsen yang paham atau mereka yang berkecimpung di bidang ini. 

“Karena banyak masyarakat tidak paham kode-kode dalam kemasan tersebut, lebih baik kemasan mengandung BPA di beri label agar tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin pada ibu hamil,” ungkap Prof Andri./*** Eddie Karsito

               °°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Thanks for reading Memprihatinkan Penderita Autisme Terus Meningkat | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

TERKAIT

Show comments

HOT NEWS