Sinergi Kemanusiaan di Jantung Kota : Ketika Setetes Darah Menjadi Harapan
GUGAT news.com YOGYAKARTA
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kota Yogyakarta, Kamis pagi, 12 Februari 2026, Top Malioboro Hotel di Jalan HOS Cokroaminoto tampak berbeda. Bukan rombongan wisatawan yang mendominasi lobi, melainkan barisan orang dengan satu niat yang sama: menyumbangkan setetes darah demi menyelamatkan kehidupan orang lain.
Aksi donor darah ke-15 yang digelar hotel tersebut bukan sekadar agenda rutin. Ia menjelma ruang perjumpaan kemanusiaan lintas profesi—wartawan, karyawan hotel, pengusaha, komunitas, hingga warga biasa—yang dipersatukan oleh nilai empati. Kegiatan ini semakin bermakna karena diselenggarakan bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
“Donor darah adalah cara paling sederhana, tetapi paling konkret untuk berbuat baik,” ujar Ketua PMI DIY, GBPH Prabukusumo, yang hadir langsung menyapa para pendonor. Dengan nada reflektif, Gusti Prabu menekankan bahwa solidaritas sosial semacam ini menjadi fondasi penting ketahanan kemanusiaan di tengah tantangan zaman.
Ungkapan itu bukan retorika kosong. Data panitia mencatat 56 calon pendonor hadir sejak pagi. Mereka datang dengan latar belakang beragam, membawa cerita dan alasan masing-masing. Dari jumlah itu, 28 kantong darah berhasil dikumpulkan dan siap disalurkan melalui PMI Kota Yogyakarta. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bernilai besar bagi mereka yang menanti transfusi darah di ruang-ruang perawatan.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Agus Susanto, pengurus PWI DIY sekaligus panitia kegiatan. Hari itu, ia melakukan donor darahnya yang ke-77. “Ini bentuk syukur kami sebagai insan pers,” ujarnya singkat. Bagi Agus, menyampaikan kabar kebaikan melalui tulisan harus sejalan dengan tindakan nyata di lapangan.
Ariyanto, Direktur Utama Bakpia Jogkem Grup, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar memperluas makna HPN. “Pers tidak hanya bicara soal kebebasan dan profesionalisme, tetapi juga kepedulian sosial,” katanya. Pernyataan itu diperkuat oleh dukungan berbagai mitra, mulai dari PMI Kota Yogyakarta, Joxzin Lawas, Apotek Kimia Farma, Akur Optic, hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY.
Di sudut ruangan, para pendonor berbaring tenang, jarum infus terpasang di lengan. Ada yang baru pertama kali, ada pula yang sudah puluhan kali. Petugas PMI sigap memastikan proses berjalan aman dan edukatif, menjelaskan manfaat donor darah tidak hanya bagi penerima, tetapi juga bagi kesehatan pendonor itu sendiri—mulai dari regenerasi sel darah hingga deteksi dini kondisi kesehatan.
General Manager Top Malioboro Hotel Yogyakarta, Maria Veronica, menyebut kegiatan ini sebagai energi moral bagi institusinya. “Kami percaya hotel bukan hanya ruang bisnis, tetapi juga ruang kemanusiaan,” ujarnya. Konsistensi hingga edisi ke-15 menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh jika dirawat bersama.
Aksi donor darah berikutnya dijadwalkan pada 19 April 2026 di Bakpia Jogkem Grup Alkid. Targetnya bukan sekadar jumlah kantong darah, melainkan memperluas kolaborasi dan kesadaran publik.
Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh perbedaan, aksi sederhana ini mengingatkan: kemanusiaan selalu menemukan jalannya—melalui setetes darah, ketulusan niat, dan sinergi banyak tangan. (Tor/*)






