Membaca Bahasa Angin Dari Tubuh Seekor Rusa Logam
Jumat, 05 Juni 2026
Tri Suharyanto bersama tamu melihat karya patung rusa dari logam.
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Seekor rusa raksasa berdiri tegak dalam konstruksi logam, baja, kuningan, dan beton. Tubuhnya yang kokoh seolah tengah membaca arah angin. Kesan itulah yang muncul saat berhadapan dengan Membaca Angin #2, karya pematung asal Sonopakis Kidul, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Tri Suharyanto.
Berukuran 270 sentimeter × 130 sentimeter × 160 sentimeter, karya ini tidak sekadar menghadirkan bentuk satwa liar. Di balik sosok rusa yang waspada, tersimpan refleksi mengenai hubungan manusia dengan alam yang semakin renggang di tengah laju industrialisasi dan eksploitasi lingkungan.
Rusa dipilih karena dikenal memiliki kepekaan tinggi terhadap arah angin. Melalui hembusan udara, satwa ini mampu mengenali ancaman, perubahan cuaca, maupun keberadaan pemangsa. Kemampuan tersebut kemudian diangkat menjadi metafora tentang pentingnya membaca tanda-tanda alam yang kerap diabaikan manusia modern.
Kerusakan lingkungan sesungguhnya tidak hadir secara tiba-tiba. Deforestasi, pencemaran sungai, polusi udara, hingga menyusutnya habitat satwa liar merupakan rangkaian gejala yang terus berlangsung. Alam selalu memberikan sinyal, tetapi manusia sering kali kehilangan kepekaan untuk mengenalinya. Kegelisahan inilah yang menjadi landasan penciptaan Membaca Angin #2.
Secara visual, Tri tidak menghadirkan rusa dalam bentuk realistis. Tubuh satwa tersebut dibangun dari pelat logam, roda besi, sambungan baja, dan berbagai elemen mekanik yang menyerupai mesin. Pilihan bentuk ini menciptakan dialog simbolik antara alam dan peradaban modern. Tubuh yang seharusnya organik berubah menjadi mekanis, seakan menggambarkan bagaimana alam dipaksa mengikuti ritme industri yang diciptakan manusia.
Meski tersusun dari material keras, patung ini tetap memancarkan kesan waspada dan peka. Sang rusa tampak sedang mengendus arah angin, mencari petunjuk keselamatan di tengah perubahan yang terus berlangsung. Dari titik ini, karya tersebut berbicara bukan hanya tentang satwa liar, melainkan tentang nasib seluruh makhluk hidup yang kini menghadapi tekanan ekologis akibat aktivitas manusia.
Karya ini dikerjakan selama lima bulan pertama tahun 2026. Bagi Tri proses penciptaan bukan sekadar pekerjaan teknis mengolah material, melainkan perjalanan kontemplatif untuk menerjemahkan gagasan ke dalam bentuk visual. Seni menjadi medium untuk mengajukan pertanyaan, membangun kesadaran, dan membuka ruang refleksi.
Dalam perjalanan keseniannya, Tri dikenal melalui berbagai karya instalasi monumental berbahan logam dan material daur ulang. Namanya mendapat perhatian luas ketika menghadirkan Patung Naga Jalur Sutra di kawasan Bandara Internasional Yogyakarta. Ketertarikannya pada unsur-unsur alam seperti angin, air, api, dan bumi terus muncul dalam berbagai karya yang memadukan nilai budaya, spiritualitas, sejarah, dan isu sosial kontemporer.
Pilihan menggunakan logam bekas dan material rongsokan juga menjadi bagian penting dari praktik keseniannya. Material yang telah kehilangan fungsi diolah kembali menjadi karya baru yang memiliki makna. Pendekatan ini sekaligus menjadi kritik terhadap budaya konsumsi yang menghasilkan limbah tanpa henti serta ajakan untuk melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan.
Melalui Membaca Angin #2, Tri Suharyanto menunjukkan bahwa patung dapat menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan ekologis. Sosok rusa mekanik yang berdiri siaga itu mengingatkan bahwa alam tidak pernah berhenti berbicara. Pertanyaannya bukan apakah tanda-tanda itu ada, melainkan apakah manusia masih memiliki kepekaan untuk membaca bahasa angin sebelum semuanya terlambat. (Tor/*)







