iklan



FOKUS

Rina Kurniyati Mengabadikan Hujan di Atas Kaca, Menemukan Keindahan Dari Rintik Yang Sering Terlupakan


 GUGAT news. com YOGYAKARTA

Rintik hujan sering datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak. Rina Kurniyati justru memilih menyimpannya dalam karya seni. Perupa asal Yogyakarta itu menghadirkan lima lukisan kaca bertema Seri Hujan dalam pameran Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan yang berlangsung bersamaan dengan Grand Opening Ary's Wabi Sabi Co & Cafe di Ary's Garden Hotel Yogyakarta, Jalan Suryodiningratan, Mantrijeron.

Lima karya yang dipamerkan berjudul Arah Hujan (2023), Lahan Basah (2023), Hujan di Manhattan (2023), Mencari Hujan (2023), dan Hujan Berhenti Sejenak (2024). Seluruh karya dikerjakan menggunakan teknik enamel on glass dengan ukuran sekitar 40 x 25 sentimeter.

Rina menghadirkan hujan bukan sebagai objek alam semata, melainkan sebagai pengalaman visual yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Inspirasi tersebut muncul dari kebiasaan sederhana saat menempuh perjalanan. Tetes air yang menempel di kaca kendaraan menghadirkan pemandangan yang selalu memikat perhatiannya.

“Setiap melakukan perjalanan, saya sering melihat tetes hujan yang jatuh di kaca mobil. Bentuk dan pola yang tercipta selalu berbeda. Pengalaman visual itu kemudian saya tuangkan ke dalam lukisan kaca,” ujar Rina.

Ketelitian menjadi kekuatan utama dalam karya-karya tersebut. Permukaan kaca dipenuhi detail tetesan air yang tampak nyata. Lanskap di baliknya sengaja dibuat samar sehingga menciptakan kesan ruang, suasana, dan emosi yang mendalam. Cahaya kota, jalanan, pepohonan, maupun bangunan hadir sebagai latar yang membiarkan hujan tampil sebagai tokoh utama.

Kemampuan mengolah detail tersebut memperlihatkan konsistensi Rina sebagai pelukis kaca realis. Selama bertahun-tahun, ia dikenal tekun mengeksplorasi medium kaca dengan beragam tema, mulai dari kendaraan klasik, arsitektur, lanskap alam, hingga potret kehidupan sehari-hari.

Seri Hujan menunjukkan sisi lain dari eksplorasi artistiknya. Karya-karya itu tidak hanya merekam bentuk fisik hujan, tetapi juga menghadirkan ruang kontemplasi bagi penikmatnya. Setiap tetes air seolah mengajak pengunjung memperlambat langkah dan menikmati momen yang sering terabaikan di tengah kesibukan.

Nuansa puitis terasa kuat ketika pengunjung berdiri di depan karya-karya tersebut. Pemandangan yang biasanya hanya terlihat sekilas dari balik kaca kendaraan berubah menjadi pengalaman estetis yang mengundang ingatan, perasaan, dan refleksi personal.

Pameran Keindahan Dalam Ketidaksempurnaan menghadirkan 21 perupa lintas generasi dengan berbagai pendekatan artistik. Kurator, budayawan, sekaligus dosen ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, membuka pameran yang mengangkat filosofi Wabi Sabi, yakni cara pandang yang menghargai keindahan dalam ketidaksempurnaan, perubahan, dan kefanaan.

Kehadiran Seri Hujan memberi warna tersendiri dalam pameran tersebut. Rina Kurniyati mengubah fenomena yang berlangsung sesaat menjadi karya yang dapat dinikmati lebih lama. Tetes-tetes hujan yang biasanya menghilang bersama waktu memperoleh bentuk keabadiannya di atas kaca, sekaligus mengingatkan bahwa keindahan sering hadir dari hal-hal sederhana yang kerap luput dari perhatian. (Tor)



BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close