"Di Antara Doa dan Jatuh Tempo'
Oleh: Yuliantoro
"Besok jatuh tempo utang Dasawisma. Harus ada uang sekian juta. Jangan sampai kita dipermalukan." Sepenggal paragraf pendek itu disampaikan istri ku tiga hari sebelum batas pembayaran. Ucapannya pelan, tetapi cukup untuk membuat siapa pun gelisah. Aku menatapnya sebentar dengan senyuman, lalu menjawab tanpa berpikir panjang.
"Insyaallah selesai. Allah Maha Kaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Menolong, Maha Memberi, Maha Memudahkan. Bagi Allah, semua persoalan mudah dan pasti terselesaikan."
Jawaban itu bukan lahir dari keberanian karena sudah memiliki uang. Justru sebaliknya. Saat itu aku sama sekali belum tahu dari mana rezeki sebesar itu akan datang. Beberapa pekerjaan memang sedang berjalan, tetapi belum ada yang menghasilkan. Tidak ada lagi harta benda yang bisa dijual. Tidak ada juga simpanan yang dapat diandalkan. Yang aku miliki hanya keyakinan bulat 100% bahwa "pertolongan Allah pasti hadir, meski jalannya sering kali tidak mampu ditebak oleh akal."
Hari-hari berikutnya aku jalani seperti biasa. Aku kuatkan, tertibkan ibadahnya. Shalat wajib aku tertibkan. Shalat sunnah aku perbanyak. Begitu pun dzikir dan shalawat terus mengalir dalam setiap kesempatan. Pagi, siang, hingga malam, bibir terus menyebut asma Allah. Sementara hati tak henti memohon agar Dia membuka jalan keluar.
Hari pertama berlalu. Hari kedua menyusul. Belum ada satu pun tanda yang mengarah pada datangnya rezeki. Anehnya, hati justru tetap tenang. Aku yakin pertolongan Allah pasti datang cepat ataupun terlambat. Dan selalu tepat pada waktunya.
Ketika itu siang di bawah terik matahari, ketika berjalan sambil berdzikir, tiba-tiba muncul dorongan kuat untuk bersilaturahmi kepada seorang gus yang aku kenal sebagai sosok alim dan saleh. Tanpa banyak pertimbangan, ku arahkan sepeda motor ke rumah beliau.
Begitu tiba di rumahnya, setelah berbincang sejenak, aku to the point menyampaikan sesuatu yang tersimpan. "Gus, ngapunten. Besok saya harus mendapatkan uang sekian juta untuk melunasi utang. Saya sudah beberapa hari berdoa dan berdzikir, tetapi belum melihat jalan keluarnya. Adakah amalan yang bisa saya lakukan?"
Beliau tersenyum tenang. "Kalau yang serba instan saya tidak tahu. Tetapi ada amalan Hasbunallahu wa ni'mal wakil. Bacalah 19.000 kali dalam satu majelis. Insyaallah menjadi wasilah pertolongan Allah. Saya pernah mengamalkannya ketika menghadapi persoalan besar." Aku mengangguk mantap.
Aku bergegas pamit dari bertamu. Sore itu juga, aku bergerak menuju sebuah masjid kuno peninggalan Kerajaan Mataram. Aku berjamaah Asar dilanjutkan duduk di masjid. Tasbih demi tasbih, hitungan demi hitungan aku lalui tanpa jeda. Waktu seolah berhenti. Ketika selesai, jam menunjukkan pukul delapan malam. Badan terasa letih, tetapi hati justru dipenuhi ketenangan yang sulit dijelaskan.
Dalam perjalanan pulang, aku masih melantunkan doa & dzikir. Sesekali aku meminta rejeki fulus untuk membeli BBM. Itu semua agar dapat berangkat rutinan mengaji ke Solo keesokan pagi. Uang aku belum cukup.
Di tengah sedikit kegalauan, tiba-tiba terlintas nama seorang teman yang belum lama memberi pekerjaan menulis. "Lik, kalau ada rezeki, aku pinjam dulu untuk ongkos ke Solo."
Tak lama kemudian telepon genggam ku berbunyi. "Sudah ku transfer." Belum hilang rasa syukur itu, masuk lagi pesan dari teman lain. "Aku kirim sedikit ya. Anggap saja tanda persaudaraan." Aku hanya mampu berucap lirih, "Alhamdulillah."
Keesokan paginya aku tetap berangkat ke Solo bersama istri. Persoalan pokok memang belum selesai. Tetapi hati terasa jauh lebih ringan. Aku percaya, Allah sedang membuka pintu-pintu yang belum aku lihat.
Sepulang dari Solo, aku menemui seorang teman yang sedang mengerjakan proyek buku. "Kalau memungkinkan, boleh dicairkan sebagian dulu?" Beliau meminta maaf karena pembayaran belum bisa dilakukan.
Aku pulang tanpa membawa hasil. Namun entah mengapa, keyakinan itu belum juga berkurang. Menjelang petang aku mengantarkan pesanan madu. Di rumah pembeli, seorang anggota keluarganya ikut tertarik. "Kalau benar madu asli, pesan sekalian."
Pembayaran langsung ditransfer saat itu juga. Alhamdulillah. Sebagian kebutuhan sudah terkumpul.
Malam harinya aku menghadiri rapat. Sebelum sampai lokasi, ku menyempatkan diri berziarah dan berdoa di makam seorang waliyullah. Ziarah bukan untuk meminta kepada penghuni makam. Ziarah memohon kepada Allah agar diberi jalan keluar.
Sesampainya di tempat rapat, seorang teman tiba-tiba menghampiri. "Saya punya rencana buku. Tolong dikerjakan, ya. Ini saya transfer uang muka dulu." Aku terdiam beberapa saat.
Satu per satu pintu yang sebelumnya tampak tertutup ternyata mulai terbuka. Rezeki datang melalui cara-cara yang sama sekali tidak aku rencanakan. Bukan turun sekaligus dari satu arah, melainkan mengalir sedikit demi sedikit hingga persoalan yang semula terasa begitu besar akhirnya dapat diselesaikan.
Malam itu, sambil menikmati secangkir teh bersama istri, kami saling berpandangan. Aku semakin memahami bahwa setiap kesulitan ternyata menyimpan pelajaran yang tidak ternilai. Allah tidak selalu segera mengangkat beban seorang hamba. Kadang Dia membiarkan kita berjalan beberapa langkah dalam kegelisahan agar hati lebih sering mengetuk pintu-Nya, lisan lebih banyak berdzikir, dan jiwa semakin menyadari bahwa tidak ada tempat bergantung selain kepada-Nya.
Sejak saat itu aku semakin percaya, doa dan tawakal memiliki besar, sedangkan hasil adalah hak Allah. Tugas manusia hanyalah berusaha sebaik-baiknya, memperbanyak doa, lalu bertawakal dengan sepenuh hati. Karena berkali-kali aku menyaksikan sendiri, ketika semua jalan di bumi seolah buntu, Allah selalu mempunyai satu jalan yang terbuka dari langit. ***





