Hidup Cuma Sekali. Banyak Banyaklah Reuni
Oleh: Yuliantoro
Waktu seolah berhenti sejenak di Sabtu, 4 Juli 2026 ini. Setelah 37 tahun berpisah sejak lulus dari SMA Negeri 8 Yogyakarta pada 1989, kami kembali duduk dalam satu ruangan. Wajah-wajah yang dahulu akrab di bangku sekolah kini menyimpan jejak perjalanan hidup masing-masing. Ada yang menetap di Yogyakarta, merantau ke berbagai kota di Indonesia, bahkan meniti kehidupan di luar negeri. Jalan hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Reuni mempertemukan kami kembali pada satu titik yang sama: "persahabatan".
Tahun 1986 kami datang sebagai remaja dengan penuh mimpi di sekolah yang berlokasi di Jalan Sidobali 1 Muja Muju Umbulharjo. Tiga tahun kemudian kami berpisah membawa cita-cita masing-masing. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana kehidupan akan membawa setiap orang. Ada yang menjadi guru, dosen, dokter, pengusaha, birokrat, akademisi, petani, pekerja profesional, maupun ibu rumah tangga. Ada yang telah menikmati keberhasilan, ada yang berkali-kali bangkit dari kegagalan. Bahkan, tidak sedikit sahabat yang telah lebih dahulu berpulang sehingga hanya nama dan kenangannya yang masih hadir dalam setiap cerita.
Karena itulah reuni terasa begitu berharga. Di tengah dunia yang semakin sibuk, menemukan waktu untuk kembali berkumpul justru menjadi sesuatu yang mahal. Menyatukan puluhan orang dengan kesibukan, domisili, dan tanggung jawab yang berbeda bukan perkara mudah. Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi, yang hadir bukan sekadar nostalgia. Yang hadir adalah rasa syukur masih diberi kesempatan bertemu.
Sosiolog Maurice Halbwachs menyebut ingatan sebagai collective memory, memori kolektif yang dibangun melalui interaksi sosial. Banyak kenangan masa sekolah sesungguhnya baru kembali hidup ketika diceritakan bersama. Nama guru yang hampir terlupakan, kejadian lucu di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kisah-kisah yang dulu dianggap biasa tiba-tiba menjadi bagian penting dari identitas bersama. Reuni mengenang masa lalu. Reuni merawat memori kolektif yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Dalam perspektif รmile Durkheim, reuni dipahami sebagai ritual sosial modern. Setiap komunitas membutuhkan ruang untuk memperbarui solidaritas. Pertemuan seperti ini menghidupkan kembali kesadaran bahwa kami pernah tumbuh dalam lingkungan yang sama. Kami pernah belajar nilai-nilai yang sama, dan saling menyaksikan proses pendewasaan satu sama lain. Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, ritual sederhana seperti berjabat tangan, tertawa bersama, dan saling menyapa ternyata memiliki kekuatan sosial yang luar biasa.
Robert D. Putnam menyebut kekuatan semacam itu sebagai social capital atau modal sosial. Reuni memperkuat jaringan, kepercayaan, dan rasa saling memiliki. Dari sebuah obrolan santai bisa lahir kolaborasi pekerjaan, peluang usaha, kerja-kerja sosial, bahkan bantuan bagi teman yang sedang menghadapi kesulitan. Tidak sedikit komunitas alumni yang kemudian menjadi ruang berbagi beasiswa, bantuan kesehatan, hingga pendampingan bagi keluarga sahabat yang membutuhkan. Persahabatan yang dahulu dibangun di ruang kelas berkembang menjadi modal sosial yang bermanfaat bagi banyak orang.
Antropolog Victor Turner menawarkan perspektif yang menarik melalui konsep communitas. Dalam reuni, berbagai atribut sosial seolah ditanggalkan untuk sementara. Jabatan, pangkat, kekayaan, dan status menjadi tidak terlalu penting. Seorang pejabat dapat bercanda dengan teman yang kini menjadi petani. Pengusaha sukses duduk berdampingan dengan pensiunan guru tanpa sekat. Semua kembali menjadi teman sekelas yang pernah mengenakan seragam putih abu-abu. Kesetaraan simbolik semacam ini menghadirkan kehangatan yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sudut pandang psikologi, manfaat reuni sangat luas. Roy F. Baumeister dan Mark R. Leary menjelaskan bahwa kebutuhan untuk merasa memiliki need to belong) merupakan kebutuhan dasar manusia. Hubungan sosial yang hangat membantu mengurangi kesepian, memperkuat rasa diterima, serta meningkatkan kesehatan mental. Tidak mengherankan jika setelah menghadiri reuni banyak orang merasa lebih ringan, lebih bahagia, dan kembali bersemangat menjalani kehidupan.
Psikolog Constantine Sedikides juga menunjukkan bahwa nostalgia bukan sekadar kerinduan terhadap masa lalu. Nostalgia merupakan emosi positif yang mampu meningkatkan optimisme, memperkuat harga diri, mengurangi kecemasan, serta menghadirkan harapan terhadap masa depan. Saat teman-teman mengenang guru yang disiplin, cerita lucu di kelas, atau kenakalan masa remaja, sesungguhnya otak sedang menghidupkan kembali pengalaman emosional yang menyehatkan.
Penelitian Julianne Holt-Lunstad bahkan menunjukkan bahwa hubungan sosial yang kuat berkorelasi dengan kesehatan fisik yang lebih baik dan risiko kematian yang lebih rendah. Dukungan sosial membantu mengurangi stres, menjaga kestabilan tekanan darah, meningkatkan kualitas tidur, serta memperkuat daya tahan tubuh.
Percakapan, tawa, dan pelukan hangat dalam reuni bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi juga bagian dari proses biologis yang menumbuhkan hormon kebahagiaan seperti oksitosin, dopamin, dan serotonin, sekaligus membantu menekan hormon stres, kortisol.
Dalam perspektif agama, reuni memperoleh makna yang lebih dalam. Ia adalah silaturahmi, sebuah amalan yang dianjurkan karena memperkuat persaudaraan dan membuka pintu saling memaafkan. Rasulullah ๏ทบ bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah menyambung silaturahmi. Para ulama menjelaskan bahwa umur yang panjang bukan hanya soal hitungan tahun, melainkan keberkahan hidup yang dirasakan melalui hubungan yang baik dengan sesama.
Perspektif tasawuf mengajak kita memandang reuni bukan hanya sebagai perjalanan kembali ke masa lalu, tetapi juga perjalanan menuju kesadaran akan waktu. Rambut yang memutih, langkah yang mulai melambat, dan jumlah sahabat yang semakin berkurang menjadi pengingat bahwa kehidupan bergerak tanpa dapat dihentikan. Pertemuan seperti ini menghadirkan rasa syukur karena masih diberi kesempatan berjumpa, saling mendoakan, dan saling menguatkan dalam kebaikan.
Di situlah reuni menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar mengenang siapa kita dahulu, melainkan menyadari siapa kita hari ini dan bagaimana persahabatan tetap menjadi anugerah yang layak dirawat. Sebab hidup memang cuma sekali. Maka, selama Allah masih memberi umur, kesehatan, dan kesempatan, banyak-banyaklah reuni. Selamat bereuni, berkumpul, nostalgia bersama di lereng Gunung Merapi, Kaliurang Yogyakarta. ***
*Penulis: SMAN 8 Yogyakarta (Delayota) Tahun 1986-1989





