iklan



FOKUS

Madu Murah-Asli Abal Abal-& Jelas Cairan Gula di Sarang Lebah


 GUGAT news. com

Madu Rp 45.000 per kilogram. Madu Rp 50.000 per kilogram. Harga murah selalu punya daya pikat. Di tengah daya beli masyarakat yang tertekan, madu yang dijual jauh di bawah harga pasar tentu mudah menarik perhatian. Namun, ketika harga itu terasa terlalu murah, pertanyaan penting semestinya muncul: madu ini sebenarnya berasal dari mana?

Sebab, tidak semua cairan manis berwarna kecokelatan yang dijual sebagai madu lahir dari bunga.

Di alam, lebah harus terbang mencari nektar. Dari bunga ke bunga, kadang menempuh jarak yang tidak pendek. Nektar kemudian dibawa ke sarang dan diproses melalui mekanisme alami dalam koloni lebah. Ada waktu, ada kerja, dan ada ketergantungan pada musim berbunga. Proses itu tidak bisa dipaksa seenaknya.

Namun, praktik di lapangan menunjukkan adanya cara lain. Ketika bunga sulit ditemukan atau musim paceklik tiba, lebah diberi cairan gula atau sirup. Pemberian pakan tambahan dalam kondisi tertentu memang dikenal dalam peternakan lebah. Masalah muncul ketika gula diberikan secara berlebihan, terutama saat musim panen, lalu hasil olahan lebah tersebut dipasarkan sebagai madu. Inilah yang kerap disebut sebagai pemalsuan tidak langsung.

Manusia tidak secara langsung mencampurkan gula ke dalam madu. Lebah yang diberi bahan baku gula. Cairan itu diproses di dalam koloni, kemudian dipanen dan dijual kepada konsumen sebagai madu. Di atas kertas, tampak alami. Tetapi persoalannya justru ada pada proses dan bahan bakunya.

Peternak nakal memiliki alasan yang sangat sederhana: keuntungan. Dengan memberi pakan gula, biaya produksi dapat ditekan dari berbagai sisi. Lebah tidak perlu terbang jauh mencari nektar. Bahkan, koloni tidak harus digembalakan dipindah-pindahkan mengikuti musim bunga.

Dalam peternakan lebah, perpindahan koloni atau migrasi ke lokasi sumber pakan tentu membutuhkan biaya. Ada ongkos transportasi, tenaga, waktu, dan risiko selama perjalanan. Namun, dengan pemberian cairan sirup, lebah cukup ditempatkan di satu lokasi. Peternak tidak perlu mengangon koloni ke tempat lain demi mengejar bunga.

Biaya migrasi dipangkas. Produksi dipercepat. Volume panen digenjot. Siklus panen pun menjadi tidak wajar. Madu dari proses alami umumnya membutuhkan waktu lebih panjang, sekitar 15 hingga 30 hari, tergantung jenis lebah, kondisi koloni, sumber bunga, dan lingkungan. Sementara madu dari pakan gula dapat dipanen jauh lebih cepat. Dalam praktik tertentu, panen bahkan dilakukan setiap tiga sampai empat hari. 

Tiga hari. Angka itu semestinya membuat konsumen bertanya. Sebab, tidak ada proses alam yang bisa dipercepat tanpa konsekuensi.

Madu yang dihasilkan dari pakan gula memiliki karakter berbeda dengan madu yang berasal dari nektar bunga. Kadar airnya berpotensi lebih tinggi. Kandungan nutrisinya pun tidak dapat begitu saja disamakan dengan madu murni yang berasal dari keragaman sumber bunga. Masalahnya, konsumen sering hanya melihat warna, rasa manis, dan harga.

Padahal, madu palsu tidak selalu  tampil mencurigakan. Ia bisa terlihat seperti madu. Bisa terasa manis. Bahkan bisa dikemas dengan label yang meyakinkan.

Di sinilah praktik tersebut menjadi persoalan serius. Konsumen bukan sekadar membeli produk dengan kualitas lebih rendah. Mereka berpotensi membayar untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan informasi yang diterima.

Harga murah memang tidak otomatis berarti madu palsu. Tetapi harga yang terlalu murah, ditambah siklus panen yang tidak masuk akal, patut dicurigai. Sebab, madu bukan sekadar gula cair dari sarang lebah.

Ia adalah hasil kerja lebah dan alam. Ketika proses itu digantikan dengan gula demi mengejar volume dan memangkas ongkos produksi, yang hilang bukan hanya kualitas madu. Kejujuran dalam rantai pangan pun ikut dipertaruhkan. (Tor)


BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close