iklan



FOKUS

Pasederekan Trah HB II Kembali Adakan Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan


 GUGAT news. com BANTUL

Suasana akrab penuh kekeluargaan namun tetap hidmat dan agung tampak pada kegiatan Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan Trah Hamengkubuwono (HB) II yang berlangsung pada Sabtu (11/7) di Omah Pleret, Pangkuran, Kaputren Pleret Bantul. Kegiatan ini diketuai oleh R. Sudaryaka dan nampak dihadiri tokoh nasional Muchdi Purwopranjono yang disambut tuan rumah KPH. Nurdiantoro Darmaningrat dan ratusan peserta yang tampak tekun mengikuti seluruh acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari.

Permulaan kegiatan dimulai dengan arak-arakan yang nampak megah dan semarak. Satu bregada prajurit nampak membawa air dari 7 sumber, pataka dan diikuti barisan pembawa pusaka memasuki lokasi. Arak-arakan menciptakan suasana sakral dan magis karena  disertai lantunan kidung pamuji dan sebaran bau harum yang berasal dari tungku yang dibawa. Sesi ini dipimpin oleh Siswo Pangarso dan tim dari Lembaga kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan Yogyakarta. 

Dilanjutkan kemudian dengan sarasehan dengan pokok bahasan yang merupakan tema kegiatan yaitu Nguri-uri Pusaka Adiluhung Menanamkan nilai folosofis pusaka kepada generasi muda. Berbicara sebagai narasumber R. Agus Parmadi (Ki Cokro) dari sanggar budaya Condrowinoto, R. Bambang Putranto (Rumah Pusaka Banyumas) dan R. Carwudi Ing Ngalogo (Fajar Utama). Nampak sarasehan yang dilanjutkan dengan konsultasi tosan aji ini berlangsung tertib dan mendapat perhatian besar dari seluruh peserta. 

Terungkap dalam sarasehan itu tentang apa arti jamasan pusaka dan ubo rampenya, benda apa saja yang lazim dijamas dan bagaimana ritual jamasan, serta apa tujuan dari ritual jamasan. Disampaikan bahwa orang Jawa umumnya akan bangga memiliki pusaka yang utuh dan sepuh karena benda ini rutin dijamas. Jamasan juga  menjadi penguat hubungan dengan leluhur termasuk meneladani hal-hal yan baik. Dalam forum ini para muda-mudi peserta memperoleh petunjuk bagaimana membuka keris yang benar yaitu hadapkanlah ke atas dengan maksud terhindar dari potensi racun karena keris lazim mengandung arsenik

Dalam forum sarasehan itu juga terungkap jika bagi orang jawa umumnya, keris adalah sebuah identitas dan benda yang penting. Bagi lazimnya orang Jawa sejati, ia akan berupaya agar memiliki setidaknya lima hal dalam hidupnya. Yaitu wisma (tempat berlindung), garwa (isteri), turangga (kuda/kendaraan), kukilo (burung/hewan peliharaan) dan curiga (senjata).  Senjata keris itulah yang paling lekat dengan identitas orang Jawa. Keris dihormati dan mempunyai kedudukan tinggi karena dibuat oleh empu dalam waktu yang lama, berasal dari bahan pilihan, dan menjadi simbul tinggi rendahnya kedudukan seseorang. 

Sementara itu sebagaimana diketahui, sejarah  mencatat HB II adalah seorang penegak dan pembela tradisi di Nusantara, khususnya negari Yogyakarta. Sebagaimana Sri Sultan Hamengku Buwono I, Ia juga meninggalkan karya-karya monumental. Mulai dari membentuk korps/satuan keprajuritan yang dilengkapi dengan perlengkapan dan persenjataan yang lebih baik, hingga membangun benteng.

Di bidang sastra Ia mewariskan karya-karya heroik yang berbau pertahanan dan militer, seperti: Babad Nitik Ngayogya dan Babad Mangkubumi. Dua karya babad ini menceritakan perjuangan berdirinya Keraton Yogyakarta. Juga karya sastra yang bersifat fiksi, di antaranya Serat Baron Sekender dan Serat Suryaraja. Yang terakhir merupakan karya pustaka yang dijadikan pusaka bagi Keraton Yogyakarta.

Selain itu, ia juga memerintahkan untuk membuat berbagai bentuk wayang kulit dengan watak perang dan menggubah wayang orang dengan lakon Jayapusaka. Tokoh utama dalam lakon tersebut adalah Bima yang begitu tepat menggambarkan watak jujur, keras dan juga tegas. Dalam cerita pewayangan, Bima digambarkan memegang keris sebagai senjata yang juga bermakna simbolis sesuai karakternya.

HB II saat ini sedang dalam proses pengusulan sebagai pahlawann nasional. Usulan ini diinisiasi oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo didukung penuh para akademisi, dan keturunan HB II serta komponen masyarakat lain. Menurut seksi dokumentasi kegiatan Hary Sutrasno, kegiatan berbasis budaya seperti jamasan dan sarasehan budaya seperti ini telah dan akan terus dikembangan oleh Pasederekan HB II di masa yang akan datang. Untuk terus menumbuhkembangkan jiwa guyub rukun trah, pada kegiatan jamasan dan sarasehan kali ini ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama.#TOR









BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close