Ridlo Pada Taqdir, Kajian Rohis Fisipol UGM 1989 Ajak Syukuri Sisa Umur Dengan Memperbanyak Ibadah
GUGAT news. com
MAGELANG—Memasuki usia yang tidak lagi muda, kebahagiaan hidup tidak lagi diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan. Yang jauh lebih penting adalah memiliki hati yang ridlo menerima takdir Allah, mensyukuri setiap nikmat yang diberikan, serta memanfaatkan sisa umur untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Pesan itu disampaikan Ketua Rohis Fisipol UGM Angkatan 89 Ustadz Agus Murtono dalam Kajian Rutin Rohis Fisipol UGM Angkatan 1989 yang digelar di kediaman Zanuar Efendi, Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Magelang, di Dusun Ponggok RT 01 RW 10, Desa Rambeanak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Minggu (5/7/2026).
Dalam suasana hangat penuh kekeluargaan, para alumni saling mengingatkan bahwa kehidupan manusia sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah. Karena itu, setiap orang hendaknya belajar ridlo terhadap setiap takdir, baik yang menyenangkan maupun yang terasa berat.
Agus Murtono menjelaskan, ridlo terhadap takdir bukan berarti menyerah tanpa ikhtiar. Sebaliknya, setiap muslim tetap diwajibkan berusaha sebaik mungkin, kemudian menerima hasilnya dengan lapang dada. "Sikap inilah yang melahirkan ketenangan batin dan menjauhkan seseorang dari rasa iri, kecewa, maupun keluh kesah yang berlebihan."
Kajian juga mengajak peserta mensyukuri seluruh bentuk rezeki yang selama ini sering luput disadari. Rezeki tidak hanya berupa uang dalam jumlah besar. Berapa pun penghasilan yang diperoleh merupakan nikmat Allah yang patut diterima dengan rasa syukur.
Demikian pula kesehatan, umur yang masih dipanjangkan, keluarga yang harmonis, serta anak-anak yang tumbuh menjadi pribadi saleh dan salehah merupakan karunia yang nilainya tidak dapat diukur dengan materi.
Para peserta sepakat bahwa nikmat terbesar dalam kehidupan bukanlah kekayaan ataupun kedudukan. Nikmat yang paling agung adalah ketika Allah memberikan hidayah sehingga seseorang dapat terus menjaga keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta menjalankan ibadah dengan hati yang tenang, penuh rasa senang dan bahagia. Semua itu merupakan tanda kasih sayang Allah yang patut dipelihara sepanjang hayat.
Seiring bertambahnya usia, orientasi hidup pun semestinya berubah. Jika pada masa muda energi banyak dicurahkan untuk membangun karier dan keluarga, maka pada masa berikutnya semakin banyak waktu yang dipersembahkan untuk memperbanyak amal saleh. Memperbanyak shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, menolong sesama, menyambung silaturahmi, serta menghadiri majelis ilmu menjadi bekal terbaik menghadapi kehidupan yang kekal.
Kajian rutin Rohis Fisipol UGM Angkatan 1989 tidak hanya menjadi forum mempererat persaudaraan sesama alumni, tetapi juga menjadi ruang muhasabah untuk saling menguatkan dalam perjalanan spiritual. Kebersamaan yang terjalin selama puluhan tahun menjadi sarana mengingatkan bahwa usia terus berkurang, sedangkan kesempatan beramal semakin terbatas.
Melalui kajian tersebut, para alumni berharap dapat terus istiqamah menjaga keimanan, mensyukuri setiap nikmat, menerima seluruh ketentuan Allah dengan ridlo, serta mengisi sisa umur dengan amal-amal terbaik. Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa dekat seorang hamba dengan Allah dan seberapa besar keridhaan-Nya menyertai perjalanan hidup. (Tor)







