Anak Muda Baca Puisi dan Orasi Kenang Umbu Landu Paranggi
GUGAT news. com
YOGYAKARTA — Sejumlah anak muda, sastrawan, dan seniman Yogyakarta akan menggelar "Anak Muda Baca Puisi dan Orasi" untuk mengenang maestro sastra Indonesia, Umbu Landu Paranggi, pada Minggu, 9 Agustus 2026, pukul 15.00 WIB di RoKopiRAN, Jalan KH Ali Maksum, Pojok Panggung, Krapyak, Yogyakarta. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan menyambut hari lahir Umbu Landu Paranggi yang diperingati setiap 10 Agustus.
Mengusung tema "Dialog dengan Batu", acara tersebut ingin menghidupkan kembali semangat kepenyairan, keberanian berpikir kritis, dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini diwariskan Umbu Landu Paranggi. Salah satu kutipan penyair yang menjadi inspirasi kegiatan ini berbunyi, "Batu tidak bisa bicara, tapi ia mengingat semua yang kita lupakan."
Panitia menilai sastra merupakan salah satu medium perjuangan yang paling kuat karena mampu menggugah emosi, membangun kesadaran kritis, sekaligus menyuarakan ketidakadilan melalui kekuatan bahasa. Melalui puisi, metafora, dan narasi, sastra dapat menghadirkan kritik sosial yang menyentuh tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Momentum ini juga menjadi ruang bagi generasi muda Yogyakarta untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan kebangsaan melalui jalur kebudayaan. Di tengah berkembangnya berbagai suara kritis di ruang publik, kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah dialog yang sehat sekaligus memperkuat semangat persatuan dalam mengawal cita-cita kemerdekaan.
Panitia menegaskan bahwa sepanjang sejarah Indonesia, anak muda bersama para sastrawan dan seniman selalu menjadi bagian penting dalam setiap fase perubahan sosial. Karena itu, ruang ekspresi kebudayaan perlu terus dijaga agar tetap menjadi tempat lahirnya gagasan, kritik, dan harapan bagi masa depan bangsa.
Para pembaca puisi yang akan tampil merupakan anak-anak muda yang aktif dalam kegiatan sastra, kampus, maupun gerakan sosial. Mereka adalah Kila Mustika, Jati Wiraguna, Elang Agni Khawarian, Okta Setiawan, Khuluqul Karim, Tazkiyah Ainul Qolbi, Niken Anjelita, Yuda Wirajaya, Okta Mahendra, dan Anastasia Hestu.
Selain pembacaan puisi dan orasi kebudayaan, kegiatan juga akan menghadirkan diskusi yang dipandu Mustofa W. Hasim dan Sutirman Eka Ardana, dengan moderator Eko Winardi dan Evidawati.
Rangkaian acara semakin semarak dengan pertunjukan musik experimental art oleh Nanang Garuda, live kopi printing karya Rudi Winarso, serta live sablon yang dipersembahkan Family Merdeka. Pengunjung dipersilakan membawa kaus polos untuk disablon langsung di lokasi.
Kegiatan ini diinisiasi Serikat Warga yang digawangi Sigit Sugito, Yoyok Hari Wahyono, Pril Huseno, Eko S. Dananjaya, Dewo PLO, dan Anastasia Hestu bersama Komunitas Seniman Yogyakarta.
Melalui puisi, orasi, dan berbagai ekspresi seni, para penyelenggara berharap semangat yang diwariskan Umbu Landu Paranggi tetap hidup di tengah generasi muda. Bukan sekadar mengenang seorang penyair, tetapi merawat keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan keyakinan bahwa kebudayaan selalu memiliki daya untuk menjaga nurani bangsa. (Tor)





