iklan



FOKUS

Mengenang Umbu Dengan Memberi Ruang Kepada Anak Muda


Para budayawan tua dan muda foto bersama usai acara

GUGAT news. com

YOGYAKARTA — Sebuah puisi bisa menjadi cara untuk mengingat seseorang. Tetapi bagi Umbu Landu Paranggi, mengenangnya mungkin justru lebih tepat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menemukan suaranya sendiri.

Minggu sore, 9 Agustus 2026, sejumlah anak muda, penyair, seniman, dan pegiat kebudayaan Yogyakarta berkumpul di RoKopiRAN, Jalan KH Ali Maksum, Pojok Panggung, Krapyak. Mereka membaca puisi, berorasi, berdiskusi, bermusik, mencetak karya, dan berbagi gagasan. Tajuknya “Dialog dengan Batu”, sebuah ikhtiar untuk menyapa kembali sosok yang pernah menjadi pusat denyut sastra Malioboro: Umbu Landu Paranggi.

Acara itu digelar sehari sebelum hari lahir Umbu yang diperingati setiap 10 Agustus, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Namun, yang hendak dihidupkan bukan sekadar ingatan tentang seorang penyair. Lebih dari itu, semangat keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan keberpihakan pada kemanusiaan yang pernah ditanamkan Umbu kepada generasi muda.

Umbu nyaris menjadi mitos dalam sejarah kebudayaan Yogyakarta. Julukan “Presiden Malioboro” melekat pada dirinya, terutama ketika Persada Studi Klub (PSK) menjadi ruang bertemunya anak-anak muda dengan puisi, kegelisahan, dan gagasan pada dekade 1970-an hingga 1980-an.

“Umbu nyaris menjadi mitos. Namanya tak bisa dipisahkan dengan kebudayaan Malioboro,” kata budayawan Sigit Sugito.

Menurut Sigit, Umbu kemudian membawa pengalaman tersebut ke Bali dan membangun ekosistem sastra-kebudayaan di sana. Penyair berdarah bangsawan Sumba itu, katanya, ikut memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Indonesia.

Sutirman Eka Ardana, Eko Winardi dan Evi Idawati memandu acara diskusi

Tetapi mitos, betapapun kuatnya, tidak cukup untuk diwariskan. Ia harus diterjemahkan menjadi kerja kebudayaan yang terus bergerak.

Di situlah gagasan “Cara Lain Mengenang Umbu” menemukan relevansinya. Eko Winardi menilai mengenang Umbu tidak harus dilakukan dengan mengulang masa lalu atau menghadirkan kembali PSK dalam bentuk yang sama. Cara yang lebih bermakna adalah membuka ruang agar generasi baru membaca, menulis, berkesenian, berkumpul, sekaligus menemukan dirinya.

Umbu dikenal memiliki tangan dingin dalam menemukan dan menumbuhkan bakat muda. Anak-anak datang membawa sajak, kegelisahan, pertanyaan, bahkan keberbedaan. Mereka tidak sekadar diberi tepuk tangan, tetapi ditempa.

“Biarlah setiap generasi mengurusi kegelisahan masing-masing,” demikian salah satu pandangan Umbu yang terus terasa relevan.

Kini kegelisahan itu menemukan ruangnya melalui suara anak-anak muda: Kila Mustika, Jati Wiraguna, Elang Agni Khawarian, Okta Setiawan, Khuluqul Karim, Tazkiyah Ainul Qolbi, Niken Anjelita, Yuda Wirajaya, Okta Mahendra, dan Anastasia Hestu.

Puisi dan orasi menjadi pintu masuk. Diskusi yang dipandu Mustofa W. Hasim, Sutirman Eka Ardana, Eko Winardi, dan Evidawati memperluas percakapan. Musik eksperimental Nanang Garuda, live kopi printing Rudi Winarso, serta live sablon Family Merdeka membuat ruang itu tidak hanya menjadi tempat mengenang, tetapi juga tempat mencipta.

Mungkin di situlah cara paling sederhana untuk menjaga Umbu tetap hidup: bukan dengan membekukannya menjadi patung masa lalu, melainkan membiarkan anak-anak muda terus gelisah, bertanya, menulis, dan bersuara.

Sebab seorang guru kebudayaan tidak benar-benar selesai ketika namanya dikenang. Ia terus hidup ketika murid-muridnya berani berjalan dengan kaki sendiri. Dan mungkin, dari salah satu suara muda itu, kelak lahir sesuatu yang “meledak”. Saat itu, Umbu tidak sekadar dikenang. Ia sedang hidup kembali melalui karya. (Tor)


BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close