Teater Alam Pentas di Taman Budaya Jogja. Bambang Ekalaya, Ketika Pengakuan Lebih Mahal Daripada Ilmu
Bambang Ekalaya di pertapaan
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Aula Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Rabu malam (5/8/26) mendadak hening. Ratusan pasang mata terpaku pada sosok Bambang Ekalaya yang tampil di atas panggung. Tidak lama kemudian, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan berkapasitas 1000 orang. Selama 75 menit, Teater Alam Bambang Ekalaya, Ketika Pengakuan Lebih Mahal daripada Ilmu yang tajam tentang pendidikan, kekuasaan, dan hasrat manusia mengejar pengakuan.
Pementasan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 54 Teater Alam dan haul ke-6 pendirinya, Azwar AN, yang selama hidupnya dikenal menjadikan teater sebagai media perenungan atas persoalan kemanusiaan.
Dalam kisah Mahabharata, Ekalaya adalah seorang ksatria dari suku Nisada yang bercita-cita berguru memanah kepada Resi Durna. Namun keinginannya ditolak. Durna hanya bersedia mengajar para pangeran Astina, Pandawa dan Kurawa. Penolakan itu tidak memadamkan semangat belajar Ekalaya. Ia membuat patung Durna, lalu berlatih seorang diri hingga menjelma menjadi pemanah yang kemampuannya bahkan melampaui Arjuna.
Ironisnya, justru ketika kemampuannya mencapai puncak, Ekalaya harus membayar mahal demi sebuah pengakuan. Resi Durna meminta ibu jari tangan kanannya sebagai guru dakshina. Permintaan itu dipenuhi tanpa penolakan. Sejak saat itu, bakat luar biasa Ekalaya lumpuh bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena dikalahkan oleh sistem yang tidak memberinya tempat.
Allegori itulah yang ingin disampaikan Agus "Leyloor" Prasetya melalui lakon ini. Menurutnya, persoalan terbesar pendidikan bukan semata-mata soal ilmu, melainkan soal legalitas.
"Padahal tanpa berguru kepada Durna pun kemampuan memanah Ekalaya sudah melampaui Arjuna. Tetapi ia tidak memiliki pengakuan. Yang dicari akhirnya bukan lagi ilmu, melainkan legalitas," ujarnya.
Pesan tersebut terasa relevan dengan realitas pendidikan Indonesia. Di satu sisi, sekolah menjadi jalur utama memperoleh ijazah sebagai syarat memasuki dunia kerja dan berbagai profesi. Di sisi lain, bimbingan belajar, kursus, hingga pelatihan keterampilan terus berkembang karena banyak orang tua merasa pendidikan formal saja belum cukup membekali anak-anak mereka.
"Lha kalau sekolah sudah cukup, mengapa masih ikut bimbingan belajar dan les privat?" pertanyaan sederhana itu menggema sepanjang pertunjukan.
Para pemain berfoto usai pementasan Bambang Ekalaya
Bambang Ekalaya tidak sedang mempertentangkan pendidikan formal dengan pendidikan nonformal. Lakon ini justru mengajak penonton mempertanyakan mengapa kemampuan nyata sering kali kalah oleh selembar ijazah. Mengapa orang yang terus belajar secara mandiri masih harus berjuang memperoleh pengakuan?
Pertunjukan ini juga menyentil wajah kekuasaan. Tokoh-tokoh seperti Resi Durna, Bathara Kresna, dan para elite Astina tampil sebagai simbol sistem yang acap kali melindungi kepentingan kelompok sendiri. Dalam pembacaan kontemporer, mereka menjadi metafora tentang oportunisme, praktik pilih kasih, serta budaya penjilat yang masih mudah dijumpai dalam kehidupan publik.
Di akhir pementasan, tepuk tangan panjang menjadi penutup yang layak. Bukan semata karena kualitas artistiknya, melainkan karena Bambang Ekalaya berhasil mengingatkan bahwa peradaban tidak akan maju apabila pengakuan lebih dihargai daripada kemampuan, legalitas lebih dimuliakan daripada integritas, dan akses belajar masih dibatasi oleh tembok-tembok yang dibangun manusia sendiri.
Melalui panggung teater, Ekalaya kembali mengajukan pertanyaan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab: apakah yang lebih berharga, selembar ijazah atau kemampuan yang lahir dari ketekunan belajar tanpa henti?
Naskah Bambang Ekalaya ditulis oleh Agus "Leyloor" Prasetya berdasarkan tesis akademiknya, lalu diadaptasi ke panggung di bawah penyutradaraan Meritz Hindra dengan didampingi asisten sutradara Nano Asmorodono.
Tokoh utama Bambang Ekalaya diperankan oleh Sutra Fidana. Deretan pemeran lainnya menghadirkan Dr. Drs. Hajar Pamadi, M.A. sebagai Sri Krisna, Anastasia sebagai Dewi Peri, Nano Asmorodono sebagai Bima, Novi Pristiani Dewi sebagai Anggraini, Oka Swastika Mahendra sebagai Resi Durna, Amat Kartela sebagai Arjuna, Yan Haryo Darmista sebagai Yudistira, Jamil On sebagai Durmogati, Eko Pamiluhono sebagai Prajurit, Wiji Jhoe sebagai Citraksi, Anto Aziz sebagai Nakula, serta Junior FLK sebagai Sadewo.
Pementasan juga diperkuat oleh para penari, yakni Isti M. Kristina R., Retno Aziz, Puri, Yoanariris, Saptowati, Carla Ridwan Rizaldi, Rama Miki, Dhimas Duta, dan Rozak. Sementara itu, tata musik digarap secara kolaboratif oleh Nanang Garuda, Buteng Swami Ahimsa, Miftah Rizaq, Mamad, dan Vincent, yang menghadirkan atmosfer dramatik sekaligus memperkuat emosi dalam setiap adegan. (Tor)







