iklan



FOKUS

Rudi Winarso, Menyeduh Sejarah dari Secangkir Kopi


 GUGAT news. com 

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Banguntapan Permai, Bantul, aroma kopi tidak hanya berasal dari cangkir yang mengepul di atas meja. Di ruang kerja itu, ampas kopi berubah menjadi medium seni. Di tangan Rudi Winarso, S.Sn., M.Sn., limbah yang lazim dibuang justru menjelma menjadi potret raja-raja Mataram, tokoh sejarah, hingga kritik terhadap cara bangsa ini mengingat masa lalunya.

Rumah Desain yang didirikannya bukan sekadar studio. Tempat itu menjadi media pertemuan antara seni, sejarah, teknologi, dan kebudayaan. Dari ruang inilah lahir gagasan-gagasan yang kerap menabrak batas disiplin ilmu. Rudi tidak hanya dikenal sebagai pelukis kontemporer, tetapi juga perupa, desainer komunikasi visual, peneliti sejarah, sekaligus inovator teknologi berbasis budaya.

Lahir di Kertosono, Jawa Timur, Rudi menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Kediri sebelum menetap di Yogyakarta. Kota ini menjadi laboratorium kreatif yang membentuk perjalanan intelektual dan artistiknya. Pendidikan Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memberinya fondasi berpikir visual, sementara studi magister seni memperluas pendekatannya menjadi lebih konseptual dan interdisipliner.

Bagi Rudi, melukis bukan sekadar memindahkan objek ke atas bidang gambar. Setiap karya adalah hasil dialog panjang antara riset, pengalaman lapangan, dan pergulatan gagasan.

Salah satu eksplorasinya yang paling dikenal ialah seni lukis menggunakan ampas kopi. Ketika sebagian orang memandang kopi sebatas minuman atau limbah dapur, Rudi justru melihat kemungkinan estetik yang belum banyak disentuh.

Ia memanfaatkan karakter alami setiap varietas kopi sebagai palet warna. Robusta menghasilkan sapuan gelap dengan kontras kuat yang efektif membangun bayangan dan kedalaman ruang. Arabika menawarkan nuansa yang lebih terang dan transparan sehingga cocok menghadirkan efek cahaya. Beragam jenis kopi lokal kemudian dipadukan untuk membentuk spektrum cokelat monokrom yang kaya gradasi.

Eksperimen itu dilakukan di berbagai media. Pada kanvas, lapisan kopi bertahan di permukaan sehingga lebih mudah dikendalikan. Sebaliknya, pada kertas aquarelle yang memiliki daya serap tinggi, cairan kopi menciptakan efek spontan yang tidak selalu dapat diprediksi. Justru di sanalah Rudi menemukan kebebasan artistik.

Teknik tersebut mencapai salah satu puncaknya melalui seri Sepuluh Raja Yogyakarta. Potret Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga Sri Sultan Hamengkubuwono X dikerjakan secara manual menggunakan medium kopi di atas kertas aquarelle ukuran A3. Warna cokelat alami menghadirkan kesan hangat sekaligus menguatkan nuansa historis yang menjadi ruh karya-karya tersebut.

Namun, bagi Rudi, sejarah tidak cukup dipotret secara romantis. Ia percaya sejarah harus terus dipertanyakan.  Keyakinan itu melahirkan salah satu karya terpentingnya, Tertangkapnya Raden Saleh. Lukisan yang mulai digagas sejak awal dekade 2000-an ini membalik narasi terkenal Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh. 

Dalam tafsir Rudi, justru para pejuang Perang Jawa yang mengepung dan "menangkap" sang maestro.

Parodi visual tersebut bukan dimaksudkan untuk menafikan sejarah, melainkan mengajak publik membaca ulang makna perlawanan terhadap kolonialisme. Melalui pembalikan narasi, Rudi mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengendalikan ingatan sejarah dan bagaimana sebuah karya seni dapat membuka ruang tafsir baru.

Pendekatan itu lahir dari proses yang panjang. Selama lebih dari satu dekade, sekitar 1999 hingga 2011, ia menelusuri berbagai jejak pengasingan tokoh-tokoh bangsa di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Perjalanan lapangan itu menjadi fondasi penting sebelum gagasan visualnya diwujudkan dalam kanvas.

Disiplin riset tersebut memperoleh pengakuan ketika karya Tertangkapnya Raden Saleh dipilih tampil dalam pameran monumental Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh hingga Kini di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada 2015. Pameran yang dikuratori Jim Supangkat, Werner Kraus, dan Peter Carey itu mempertemukan karya Raden Saleh dengan interpretasi seniman lintas generasi mengenai sosok Pangeran Diponegoro.

Keikutsertaan Rudi dalam pameran tersebut menjadi penanda bahwa pendekatan artistiknya memiliki bobot intelektual yang diakui secara Karyanya berdialog langsung dengan salah satu lukisan paling penting dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Aktivitas Rudi tidak berhenti pada kanvas. Ia juga terlibat dalam proyek lintas disiplin Negara Merobek Selimut Ibuku, yang mempertemukan karya sastra Indra Tranggono, Isti Nugroho, dan Kamerad Kanjeng dengan tafsir visual para perupa. Kolaborasi itu menunjukkan bahwa seni baginya merupakan ruang percakapan untuk membaca ulang persoalan sosial dan politik bangsa.

Yang membuat perjalanan Rudi semakin unik adalah keberaniannya memasuki wilayah teknologi.

Di tengah kegelisahan melihat becak tradisional perlahan terdesak modernisasi, ia merancang Belia (Becak Listrik Android). Bentuk becak kayuh tetap dipertahankan agar identitas visual Yogyakarta tidak hilang, tetapi sistem penggeraknya diubah menggunakan motor listrik berdaya 350 watt.

Belia mampu menempuh sekitar 40 kilometer dalam sekali pengisian daya selama empat jam. Kendaraan itu juga dilengkapi sistem navigasi berbasis Android, lampu sein, serta mekanisme maju-mundur yang dirancang sederhana sehingga mudah dioperasikan. Gagasan tersebut bukan sekadar inovasi teknis, melainkan upaya mempertemukan tradisi dengan teknologi ramah lingkungan.

Bagi Rudi, kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai nostalgia. Kebudayaan harus hidup, beradaptasi, dan memberi solusi bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, ia melihat seni bukan sebagai benda pajangan, melainkan sebagai cara berpikir.

Dalam diri Rudi Winarso, kuas dapat berdampingan dengan mesin listrik. Ampas kopi mampu berdialog dengan sejarah bangsa. Kanvas menjadi ruang perdebatan intelektual, sementara becak tradisional dapat memasuki era digital tanpa kehilangan jati dirinya.

Di studionya yang sederhana di Banguntapan, setiap goresan tidak sekadar melahirkan gambar. Ia sedang menyeduh ingatan, merawat sejarah, sekaligus membayangkan masa depan kebudayaan Indonesia melalui bahasa yang paling ia kuasai: seni. (Tor)



BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close