iklan



FOKUS

Buka Layanan Kajian Tosan Aji, Ethniic Indonesia Libatkan 3 Kerator Bersertifikat BNSP


 GUGAT news. com SURABAYA

Ketika satu keris bisa mendapatkan keterangan berbeda dari orang yang berbeda, pertanyaan tentang siapa yang melakukan kajian menjadi penting.

Bukan hanya soal menyebut dhapur, pamor atau tangguh, tetapi bagaimana informasi mengenai sebuah pusaka didokumentasikan secara bertanggung jawab agar tidak berubah atau bahkan hilang ketika keris berpindah tangan.

Persoalan itulah yang coba dijawab Ethnic Indonesia melalui layanan sertifikasi kuratorial keris dan Tosan Aji dengan melibatkan tiga kurator yang telah memiliki sertifikat kompetensi BNSP.

Mereka adalah Ilham Triadi, Harjo Herlambang dan KRA Rivo Cahyono.

Ketiganya terlibat dalam kajian terhadap pusaka yang diajukan masyarakat maupun kolektor, sebelum hasil kajian tersebut dituangkan dalam Sertifikat Kuratorial Ethnic Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan dokumentasi pusaka yang tidak hanya berbicara tentang kondisi fisik sebuah keris, tetapi juga merekam pengetahuan yang melekat di dalamnya.

KRA Rivo Cahyono mengaku gagasan tersebut justru berangkat dari pengalaman pribadinya ketika masih menjadi kolektor pemula.

Ia pernah menemukan sebuah keris yang mendapatkan penjelasan berbeda ketika ditanyakan kepada orang yang berbeda. Perbedaan itu bahkan menyangkut unsur penting seperti dhapur, pamor maupun tangguh.

Pengalaman tersebut membuat Rivo menyadari bahwa mengoleksi keris tidak bisa berhenti pada aktivitas memiliki.

Ada proses belajar yang harus berjalan bersamaan.

“Dulu saya juga pernah berada pada posisi kolektor pemula. Pernah keliru dan bingung karena mendapatkan keterangan yang berbeda-beda. Dari situ saya mulai berpikir bahwa pusaka sebaiknya tidak hanya dikoleksi, tetapi juga dipelajari dan didokumentasikan dengan lebih baik,” ujar Rivo.

Pemikiran itulah yang kemudian berkembang melalui Ethnic Indonesia, yang selama ini juga membiayai dan memproduksi berbagai konten budaya, khususnya mengenai keris dan Tosan Aji.

Dalam layanan yang dikembangkan Ethnic Indonesia, sebuah pusaka akan melalui proses pengamatan dan kajian kuratorial.

Sejumlah unsur diperhatikan, mulai dari dhapur, pamor, ricikan, tangguh atau estimasi periodisasi, perabot, kondisi pusaka hingga informasi pendukung lainnya.

Yang membedakan, hasil kajian tidak hanya ditopang oleh satu nama.

Sertifikat Kuratorial Ethnic Indonesia ditandatangani oleh tiga kurator yang memiliki sertifikat kompetensi BNSP, yakni Ilham Triadi, Harjo Herlambang dan KRA Rivo Cahyono.

Keterlibatan tiga kurator tersebut diharapkan memberikan proses kajian yang lebih komprehensif sekaligus menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan pusaka secara lebih bertanggung jawab.

Namun ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Sertifikat kompetensi BNSP bukanlah sertifikat keaslian keris.

Sertifikasi kompetensi BNSP melekat pada kompetensi kurator yang melakukan kajian. Sementara dokumen yang diterbitkan Ethnic Indonesia merupakan hasil kajian kuratorial berdasarkan kondisi objek pada saat diperiksa.

Penegasan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami istilah “sertifikasi keris”.

Menariknya, Rivo tidak mendapatkan kompetensi tersebut secara instan.

Ia pernah gagal ketika mengikuti uji kompetensi kurator keris untuk pertama kalinya.

Kegagalan tersebut justru membuatnya kembali belajar sebelum akhirnya mengikuti ujian untuk kedua kalinya dan dinyatakan kompeten serta memperoleh sertifikat kompetensi BNSP.

Bagi Rivo, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa dunia keris sangat luas dan seorang kurator pun harus terus belajar.

“Tidak lulus pada ujian pertama membuat saya semakin sadar bahwa dunia keris sangat luas. Sampai sekarang pun saya masih belajar. Sertifikat kompetensi bukan berarti seseorang sudah mengetahui semuanya, tetapi justru membawa tanggung jawab untuk terus belajar dan berhati-hati dalam memberikan pendapat,” katanya.

Ethnic Indonesia juga mencoba menjawab persoalan lain yang tak kalah penting: bagaimana memastikan informasi sebuah keris tetap mengikuti perjalanan bendanya.

Karena itu, sertifikat kuratorial yang diterbitkan dilengkapi QR Code.

Kode tersebut dapat dipindai untuk mengakses dokumentasi digital mengenai pusaka yang bersangkutan.

Informasi yang tersedia dapat mencakup identitas pusaka, filosofi dhapur dan pamor, keterangan tangguh atau periodisasi, dokumentasi visual serta informasi lain yang relevan dengan hasil kajian.

Dengan demikian, dokumentasi sebuah keris tidak berhenti di atas kertas. Ada jejak digital yang diharapkan dapat terus menyertai pusaka tersebut ketika kelak berpindah kepada anak, cucu maupun kolektor berikutnya.

“Saya membayangkan suatu hari keris ini berpindah kepada anak, cucu atau kolektor berikutnya. Kerisnya mungkin masih ada, tetapi jangan sampai pengetahuan tentang keris tersebut hilang. Karena itu kami mencoba menghubungkan sertifikat fisik dengan jejak dokumentasi digital,” jelas Rivo.

Layanan tersebut kini dibuka bagi masyarakat dan kolektor yang ingin melakukan identifikasi maupun kajian kuratorial terhadap keris dan Tosan Aji yang dimiliki.

Tidak harus menunggu menjadi kolektor senior. Justru mereka yang baru mulai mengoleksi dapat memanfaatkan proses tersebut sebagai bagian dari pembelajaran.

“Tidak perlu merasa harus menjadi ahli terlebih dahulu untuk datang. Kalau baru mulai mengoleksi pun tidak masalah. Semangat kami bukan menghakimi koleksi seseorang, tetapi bersama-sama belajar memahami dan mendokumentasikannya dengan lebih bertanggung jawab,” ujar Rivo. //




BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close