iklan



FOKUS

Salep Dua Ribu Rupiah, Jalan Kesembuhan


 GUGAT News. com

Setahun lebih aku bergulat dengan gatal di tubuh. Awalnya muncul bintil-bintil merah kecil, terutama di kedua paha. Rasa gatalnya luar biasa. Kadang menjalar hingga sekitar pinggang.

Aku mencoba berbagai cara. Minum CTM hanya meredakan gatal, itu pun tidak sepenuhnya. Bintil-bintilnya tetap ada.

Aku berobat ke Puskesmas. Tidak sembuh. Aku kemudian ke dokter kulit di rumah sakit. Berbagai salep, termasuk yang harganya cukup mahal, sudah dicoba. Hasilnya belum juga tuntas.

Ikhtiar berlanjut ke pengobatan tradisional. Aku mencoba terapi air hangat bercampur belerang di Sungai Serayu dan Pemandian Kalianget, Wonosobo. Aku juga mencoba Parangwedang di Parangtritis. Gosok belerang dengan minyak tanah, aku gunakan berkali-kali. Ramuan jahe pun pernah dicoba.

Seorang teman bahkan mengatakan aku terkena sesuatu yang dalam kepercayaan Jawa disebut sawan. Aku mencoba ramuan inggu (Ruta angustifolia) . Belum sembuh juga. Aku pun pernah mendatangi seorang tabib yang disebut memiliki kemampuan khusus sebagai juru sembuh. Tetap saja gatal itu belum benar-benar pergi.

Setahun lebih saya menjalani berbagai ikhtiar. Banyak cara sudah dicoba. Lama-lama bukan hanya tubuh yang lelah. Pikiran pun ikut lelah. Pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa sendiri. Sebisanya.

Bertemu Pak Budi

Dalam perjalanan itulah aku mengenal almarhum Tukiman Budi Santoso, juru pijat refleksi di Prawirodirjan, Yogyakarta. Aku biasa memanggilnya Pak Budi. Awalnya aku datang bukan untuk berobat gatal. Aku berobat sakit pada punggung yang ku rasakan seperti saraf terjepit. Ketika kambuh, sakitnya luar biasa. Bergerak pun sulit. Alhamdulillah, setelah terapi kedua, keluhan itu sembuh.

Pada terapi berikutnya, aku teringat penyakit kulit yang sudah lebih dari setahun mengganggu. “Pak, kulo sampun setahun langkung sakit gatel-gatel. Utamane ing paha tengen lan kiwa. Wonten bintil-bintil abang alit. Saiki sampun rada berkurang, nanging dereng tuntas. Tasih gatel. Obate nopo nggeh, Pak?”

Pak Budi menjawab santai. “Niku gampil obaté. Tumbas saleb Sriti. Insyaallah dados margi sembuh. Ing apotek saged. Ing pasar-pasar nggeh wonten. Biasane ingkang sadean kapur barus keliling pasar nggawa saleb Sriti.” 

Aku tidak langsung membeli. Nasihat itu sempat terlupakan. Beberapa minggu kemudian, mungkin sekitar sebulan, aku mengantar istri ke pasar. Tiba-tiba aku teringat pesan Pak Budi. “Dik, tulung takokke, ana saleb Sriti ora?”

Istri ku kemudian bertanya kepada seorang pedagang. “Pak, ada saleb Sriti?” “Ada.” Pedagang itu mengeluarkan kemasan kecil berwarna putih. Bentuknya sederhana. Aku bahkan teringat pada mainan anak-anak plembungan cethet. 

“Harganya dua ribu.” “Beli dua, Pak,” kata istri saya. Sampai di rumah, aku langsung mengoleskannya pada bagian yang gatal. Beberapa menit kemudian, rasa gatal itu mereda.

Aku terdiam. Setelah berbulan-bulan mencoba berbagai cara, sesuatu yang sederhana justru menjadi jalan yang aku rasakan membawa kesembuhan. Salep itu hanya dua ribu rupiah.

Bukan Soal Dua Ribu Rupiah

Peristiwa itu terus saya renungkan. Bukan karena salep dua ribu rupiah lebih hebat daripada obat dokter. Bukan pula karena pengobatan sebelumnya sia-sia. Semua yang aku lakukan adalah ikhtiar.

Aku justru melihatnya dari sisi yang berbeda.

Selama sakit, aku telah mendatangi banyak tempat dan mencoba berbagai cara. Aku mencari kesembuhan ke mana-mana. Namun akhirnya aku diingatkan bahwa manusia hanya mampu berusaha. Kesembuhan bukan milik manusia. Obat hanyalah sebab. Dokter adalah sebab. Terapi adalah sebab. Bahkan salep yang aku beli di pasar pun hanya sebab.

Yang menyembuhkan adalah Allah.

Al-Qur'an mengingatkan doa Nabi Ibrahim:

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu'ara: 80)

Dari pengalaman itu aku belajar, ketika Allah menghendaki kesembuhan, jalan bisa datang dari mana saja. Melalui dokter. Melalui obat. Melalui terapi. Atau melalui sesuatu yang sederhana dan tidak pernah kita duga.

Dalam pengalaman ku, jalan itu datang melalui sebuah salep kecil seharga dua ribu rupiah. Karena itu, ikhtiar silakan saja dilakukan. Berikhtiarlah dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuan. Tetapi hati jangan bergantung kepada ikhtiar.

Berobat, tetapi jangan meyakini obat sebagai penyembuh. Datang kepada dokter, tetapi jangan menempatkan dokter sebagai pemilik kesembuhan. Berusaha semaksimal mungkin, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Ikhtiar merupakan kewajiban manusia. Kesembuhan adalah kehendak Allah.

Pelajaran dari Juru Pijat Refleksi

Semakin lama aku justru merasa bahwa pertemuan dengan Pak Budi bukan sekadar tentang salep. Ada pelajaran lain yang jauh lebih penting. Pak Budi mungkin bukan guru agama yang mengajarkan tauhid di mimbar. Ia seorang juru pijat refleksi. Namun melalui ucapan sederhananya, aku memperoleh pengingat tentang tauhid.

Ia hanya berkata, “Tumbas saleb Sriti.”

Sederhana.

Tetapi dari pengalaman itulah saya kembali memahami bahwa jalan kesembuhan tidak boleh membuat manusia lupa kepada Yang Maha Menyembuhkan. Tauhid bisa datang dari siapa saja. Dari mana saja. Kapan saja.

Jalan yang dipilih Allah untuk mengingatkan manusia juga tidak selalu melalui peristiwa besar. Kadang justru melalui sesuatu yang sangat kecil.

Dalam kasus ku, melalui salep dua ribu rupiah. Kini Pak Budi telah berpulang.

Rabu sore 8 September 2026 sekitar pukul 18.00, setelah beberapa hari sakit di rumah, beliau meninggal dunia di RS Pratama Yogyakarta. Kabar itu membuat aku kembali mengingat pertemuan-pertemuan kami. Terutama percakapan sederhana tentang salep Sriti.

Aku mengenal Pak Budi sebagai seorang muslim yang baik, suka menolong dan melayani orang dengan ikhlas. Kini ia telah menghadap Sang Khaliq. Semoga Allah menerima amal baiknya, mengampuni segala kekhilafannya, melapangkan alam kuburnya, dan menempatkannya bersama para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh.

Pak Budi meninggalkan satu pelajaran yang bagi ku sederhana, tetapi dalam:

Berikhtiarlah mencari kesembuhan. Namun jangan pernah menggantungkan kesembuhan kepada ikhtiar. Sebab obat hanya sebab. Manusia hanya perantara.

Allah-lah Yang Maha Menyembuhkan.

Al-Fatihah. (Tor)






BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close