Menyeduh Kopi, Merawat Sejarah. IKPNI Hadirkan Jejak Pahlawan di Jogja Coffee Week 2026
Setelah mengunjungi booth Pahlawan nasional, founder sekaligus CEO Jogja Coffee Week Rahadi Saptata Abra berfoto bersama Hary Sutrasno, cucu pahlawan nasional Mr. Kasman Singodimedjo.
GUGAT news. com
YOGYAKARTA — Aroma kopi tidak hanya menghadirkan kehangatan, tetapi juga dapat menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif bangsa. Gagasan inilah yang dihadirkan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Koordinator Wilayah Yogyakarta dalam ajang Jogja Coffee Week 2026 yang berlangsung pada 3–6 September 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.
Pameran dan perayaan industri kopi tahunan berskala internasional tersebut mempertemukan seluruh ekosistem kopi, mulai dari petani, pelaku usaha, peracik kopi, hingga pecinta kopi dari berbagai daerah dan negara. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada Jumat (4/9).
Di tengah puluhan tenant kopi yang menyuguhkan cita rasa dan inovasi produk, IKPNI Yogyakarta menghadirkan ruang yang berbeda. Melalui Booth A32, komunitas keluarga pahlawan nasional ini mengusung tema “Pahlawan Nasional DI Yogyakarta”, sebuah upaya memperkenalkan sejarah bangsa kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih dekat, kreatif, dan membumi.
Petugas sedang menjelaskan tentang lukisan berbahan kopi dari para tokoh nasional dan jasa-jasanya kepada negara kepada salah satu pengunjung pameran.
IKPNI berkolaborasi dengan perupa Rudi Winarso, alumnus Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang selama ini dikenal mengembangkan karya seni berbahan kopi dan rempah-rempah Nusantara. Lukisan-lukisannya telah menjadi koleksi berbagai kalangan di dalam maupun luar negeri.
Melalui pertunjukan live coffee painting, Rudi menghidupkan kembali sosok-sosok penting dalam sejarah Indonesia. Goresan warna dari seduhan kopi menghadirkan figur Sultan Hamengku Buwono II, Sultan Hamengku Buwono VII, Sultan Hamengku Buwono IX, KGPAA Paku Alam VIII, Pangeran Diponegoro, Mr. Kasman Singodimedjo, Bung Karno, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, hingga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Kehadiran para tokoh bangsa melalui medium kopi memberi pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Sejarah tidak lagi hadir dalam bentuk narasi yang jauh dan kaku, melainkan menjadi ruang dialog yang hangat, akrab, dan dapat dinikmati sambil menyeruput secangkir kopi.
Selain pameran lukisan, IKPNI juga menampilkan panel informasi, buku profil tokoh, serta koleksi literatur sejarah dan kebudayaan. Salah satu yang menarik perhatian adalah display komik sejarah Mr. Kasman Singodimedjo yang menggambarkan perjalanan hidup tokoh asal rakyat sederhana ini hingga menjadi salah satu perintis angkatan bersenjata, parlemen, Kejaksaan Agung, dan hukum militer Indonesia.
Penulis buku Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu Hary Sutrasno menjelaskan materi buku pameran kepada founder Jogja Coffee Week Rahadi Saptata Abra.
Tersaji pula buku profil 40 tokoh pahlawan nasional yang memiliki keterkaitan erat dengan Yogyakarta, baik karena tempat kelahiran, lokasi perjuangan, tempat pemakaman, maupun hubungan genealogis dengan Bumi Mataram.
Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan live sablonase bergambar para tokoh bangsa dan pahlawan nasional pada berbagai ukuran kaos. Produk kreatif tersebut menjadi cendera mata sekaligus media edukasi yang mempertemukan sejarah dengan budaya populer.
Ketua IKPNI Korwil Yogyakarta menegaskan bahwa kehadiran komunitas keluarga pahlawan di ajang kopi internasional ini merupakan ikhtiar untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda melalui ruang-ruang kreatif yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya populer, upaya merawat ingatan sejarah membutuhkan cara-cara baru yang lebih komunikatif. Kopi, yang selama ini menjadi simbol perjumpaan dan percakapan, ternyata juga dapat menjadi medium untuk merawat nilai-nilai perjuangan.
Jogja Coffee Week 2026 menunjukkan bahwa kopi bukan semata komoditas ekonomi, melainkan juga ruang kebudayaan. Dari secangkir kopi, masyarakat diajak tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga mengenali kembali para tokoh yang telah meletakkan fondasi bangsa. Menyeduh kopi, pada akhirnya, dapat menjadi cara sederhana untuk merawat sejarah. (Tor)








