Mie PROMEGA, Inovasi Pangan Lokal Untuk Cegah Stunting di Gunung Kidul
Tim dosen Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) mengembangkan mie kering berbahan pangan lokal Mie PROMEGA.
GUGAT news. com
YOGYAKARTA — Tim dosen Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) mengembangkan mie kering berbahan pangan lokal bernama Mie PROMEGA. Hasil uji laboratorium terakreditasi menunjukkan kandungan protein mie tersebut mencapai 22,15 gram per 100 gram, atau sekitar 2,5 kali kandungan protein mie kremes komersial yang dijadikan pembanding.
Mie PROMEGA dibuat dari campuran tepung terigu, tepung ayam omega, daun kelor, kunyit, dan temulawak, dengan sari daun pokcay sebagai pengganti air pada adonan. Berbeda dengan mie instan pada umumnya yang digoreng, mie ini dimatangkan dengan cara dikukus selama 10 menit lalu dioven pada suhu 120 derajat Celsius. Cara tersebut membuat kandungan lemaknya hanya 4,63 gram per 100 gram, atau sekitar seperempat dari mie kremes komersial yang mencapai 19,27 gram per 100 gram.
Pengembangan produk ini didanai Program Hilirisasi Riset Prioritas — Pengujian Model dan Prototipe Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), diketuai oleh Endah Puji Astuti, SSiT., M.Kes, dengan anggota Dr. Bdn. Tri Sunarsih, S.ST., M.Kes., Nur'Aini Purnamaningsih, S.Si., M.Sc., Elvika Fit Ari Shanti, SST., M.Kes
Ketua tim peneliti, Endah Puji Astuti, menjelaskan bahwa yang dikejar timnya bukan sekadar angka protein yang tinggi, melainkan perbandingan antara protein dan energi. “Anak balita di wilayah rawan gizi umumnya tidak kekurangan energi, karena sumber karbohidrat mudah didapat. Yang kurang justru protein bermutu,” kata Endah.
“Kalau produk tambahannya tinggi energi, anak keburu kenyang dan menolak makanan utama.
Mie PROMEGA kami rancang supaya menyumbang protein cukup banyak tanpa membawa energi berlebih.”
Satu takaran saji 22 gram Mie PROMEGA menyumbang 18,7 persen kebutuhan protein dan 21 persen kebutuhan seng anak usia 1 sampai 3 tahun, sementara sumbangan energinya hanya 7,5 persen. Seng merupakan salah satu zat gizi yang berkaitan dengan pertumbuhan anak dan kerap kurang pada produk berbasis tepung-tepungan.
Uji profil asam amino menunjukkan protein mie tersebut memenuhi atau melampaui pola kebutuhan anak usia 1 sampai 2 tahun yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia pada delapan dari sembilan kelompok asam amino esensial. Uji cemaran mikroba juga memenuhi syarat, dengan Escherichia coli nol dan Salmonella negatif.
Anggota tim, Tri Sunarsih, menyampaikan bahwa bahan baku mie sepenuhnya berasal dari sumber daya setempat. Daun kelor, kunyit, dan temulawak dibudidayakan warga melalui Taman Gizi Terpadu di Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Ayam omega merupakan hasil inovasi pakan yang dikembangkan tim yang sama melalui program pengabdian pada 2023.
Anggota tim lainnya, Nur'aini Purnamaningsih, menangani aspek keamanan pangan dan proses produksi. Produksi percobaan telah dilakukan di UMKM Griya Sumber Prima sebagai mitra hilirisasi. Uji penerimaan telah dilakukan terhadap 26 ibu dan pengasuh balita di posyandu Kalurahan Sumberwungu. Hasilnya, warna produk paling disukai panelis, sedangkan tekstur dinilai masih terlalu keras untuk balita. Temuan tersebut menjadi bahan perbaikan tahap berikutnya.
“Kami menyampaikan hasil ini apa adanya, termasuk yang belum memuaskan,” kata Endah. “Prototipe memang untuk diuji, bukan untuk dipuji. Perbaikan tekstur menjadi prioritas kami sampai Desember nanti, termasuk kemungkinan membuat varian yang lebih lunak untuk anak di bawah dua tahun.”
Formulasi Mie PROMEGA telah memperoleh perlindungan Paten Sederhana dengan nomor S00202414872 pada 2024. Saat ini tim tengah menyiapkan permohonan paten untuk proses produksinya, serta menyiapkan dokumen perizinan usaha dan sertifikasi halal bagi UMKM mitra.
Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Bantuan Prototipe Tahun 2026. Program berlangsung selama enam bulan, dari Juli sampai Desember 2026.
Mie PROMEGA belum dipasarkan. Produk masih berstatus prototipe dan akan diuji coba terbatas sebagai bahan pemberian makanan tambahan di posyandu pada akhir tahun ini, sebelum diajukan untuk izin edar. (Tor)







