Malioboro Writers, Meneguhkan Yogyakarta Sebagai Ibu Kota Kebudayaan
GUGAT news. com
KOTAGEDE — Di tengah gegap gempita pembangunan dan geliat pariwisata, Yogyakarta menghadapi paradoks kebudayaan. Kawasan bersejarah semakin dipercantik secara fisik, tetapi ruang bagi produksi gagasan, sastra, dan regenerasi seniman justru perlu terus diperjuangkan. Malioboro, yang dahulu menjadi kawah candradimuka para sastrawan, kini ditantang untuk kembali menjadi ruang hidup kebudayaan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam acara Malam Setu Paingan di Kotagede, yang diselenggarakan Komunitas Setu Paing bersama Yayasan Mahasabha Purbakala. Forum diskusi di Gedung Amongtangga Selokraman Kotagede ini menghadirkan budayawan Taufik Rahzein, aktivis sosial KRT Agus Istianto Nagoro, dan penggerak budaya Hangno Hartono. Diskusi mengangkat urgensi program Ngaji Malioboro Writers sebagai salah satu upaya meneguhkan posisi Yogyakarta sebagai ibu kota kebudayaan.
Digagas sebagai pertemuan reguler selapanan, Setu Paingan dirancang menjadi ruang dialog untuk menghidupkan dinamika kebudayaan Yogyakarta dan Nusantara. Forum ini tidak berhenti pada nostalgia sejarah, tetapi mendorong lahirnya gagasan dan gerakan kebudayaan yang relevan dengan tantangan zaman.
Taufik Rahzein menegaskan, Malioboro memiliki warisan penting dalam sejarah sastra Indonesia. Kawasan ini bukan sekadar pusat perdagangan dan wisata, melainkan ruang perjumpaan intelektual yang pernah melahirkan generasi penulis dan seniman berpengaruh.
Pada era 1960-an hingga 1970-an, Persada Studi Klub (PSK) yang dipelopori Umbu Landu Paranggi menjadi salah satu tonggak kehidupan sastra Malioboro. Dari lingkungan ini, nama-nama seperti Emha Ainun Nadjib dan Ebiet G. Ade tumbuh dalam atmosfer pergaulan kreatif yang mempertemukan sastra, pemikiran, dan kehidupan sehari-hari.
Menurut Taufik, program Malioboro Writers mendesak untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut melalui ruang kepenulisan, pertemuan lintas generasi, dan produksi karya. Warisan sastra tidak cukup dirawat sebagai cerita masa lalu, tetapi harus diteruskan menjadi praktik kebudayaan yang hidup.
KRT Agus Istianto Nagoro menyoroti perubahan fungsi Malioboro yang semakin kuat sebagai destinasi wisata belanja. Di tengah dominasi aktivitas ekonomi, ruang publik perlu tetap menyediakan tempat bagi masyarakat untuk belajar, berdialog, berefleksi, dan mengekspresikan gagasan.
Gerakan kepenulisan, menurutnya, dapat menjadi penyeimbang komersialisasi ruang kota. Masyarakat tidak cukup menjadi konsumen pariwisata; mereka juga perlu menjadi produsen pengetahuan dan karya budaya.
Taufik menambahkan, Malioboro Writers berpotensi memperluas diplomasi budaya Yogyakarta. Karya sastra, esai, dan dokumentasi sosial yang lahir dari kawasan ini dapat menjadi arsip peradaban sekaligus memperkenalkan nilai kemanusiaan dan harmoni sosial Yogyakarta kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Penggerak budaya Sigit Sugito turut mengkritisi kecenderungan Malioboro yang dipoles terutama untuk kepentingan komoditas pariwisata. Padahal, predikat kota budaya menuntut lebih dari penataan kawasan dan daya tarik wisata. Yogyakarta membutuhkan ekosistem kreatif yang memberi ruang bagi penulis muda, komunitas, dan perjumpaan lintas generasi.
Dalam konteks itu, Malioboro Writers diharapkan menjadi inkubator kepenulisan melalui diskusi, pendampingan, publikasi, dan regenerasi penulis. Pengakuan UNESCO terhadap Sumbu Filosofis Yogyakarta juga perlu diiringi kehidupan kebudayaan yang nyata, bukan berhenti sebagai legitimasi simbolis.
Acara dibuka oleh tuan rumah HM Satriya Wibawa dan dipandu Adi Mars. Forum diawali pembacaan Manifesto Dewan Kebudayaan Nusantara oleh Anastasia Hestu, Eko S. Dananjaya, Kuntardi, dan Achyar Harun. Suasana kebudayaan semakin terasa melalui pembacaan geguritan oleh Akhir Lusono, Oka Swastika Mahendra, dan Evi Idawati, serta penampilan lagu-lagu oleh Butheng.
Tantangan Yogyakarta bukan sekadar mempertahankan predikat kota budaya, melainkan memastikan kebudayaan tetap diproduksi, diperdebatkan, dan diwariskan. Malioboro akan kehilangan maknanya apabila hanya menjadi etalase pariwisata. Melalui Malioboro Writers, sejarah sastra diharapkan menemukan kelanjutannya: bukan sekadar dikenang, melainkan dihidupkan kembali oleh generasi baru. (Tor)









