Watie Respati Rayakan Keindahan Hidup Lewat " Decora Of Life"
Watie Respati dalam sambutan
GUGAT news. com
YOGYAKARTA — Kehidupan bergerak seperti musim. Kebahagiaan datang dan pergi, pergulatan batin meninggalkan jejak, sementara perubahan terus berjalan tanpa selalu bisa dikendalikan. Di tengah dinamika itu, manusia tetap memiliki ruang untuk menemukan keindahan. Gagasan tersebut dihadirkan pelukis Watie Respati melalui pameran tunggal ketiganya bertajuk Decora of Life di LAV Gallery Contemporary Art Space, Jalan DI Panjaitan 66, Mantrijeron, Yogyakarta. Pameran dibuka oleh Dyan Anggraeni pada Sabtu (17/10/2026).
Mengusung tema Merayakan Ritme, Hiasan, dan Esensi Kehidupan, pameran ini menempatkan seni dekoratif bukan sekadar permainan ornamen atau pemanis visual. Warna, bentuk, dan komposisi menjadi bahasa artistik untuk mengungkapkan pengalaman hidup, ingatan, emosi, serta hubungan manusia dengan alam.
Kurator pameran, Heri Kris, menjelaskan bahwa menghias merupakan bagian dari perjalanan panjang manusia dalam menandai keberadaannya. Melalui karya-karyanya, Watie menghidupkan kembali gagasan tersebut sebagai refleksi tentang keindahan yang tetap dapat ditemukan di tengah kerumitan kehidupan.
“Menghias adalah cara manusia purba menandai keberadaannya di dunia. Hari ini melalui Decora of Life, Watie Respati menandai kembali bahwa hidup serumit apa pun jalannya selalu menyisakan ruang untuk merayakan keindahan,” tulis Heri Kris dalam pengantar kuratorialnya.
Lahir di Yogyakarta pada 21 Oktober 1968, Watie menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta pada 1983. Ketertarikannya terhadap gaya dekoratif tumbuh sejak 1987. Pendekatan ini memiliki jejak kuat dalam perkembangan seni rupa Indonesia, antara lain melalui karya maestro Widayat dan Kartono Yudhokusumo.
Dalam pameran ini, burung hantu dan kupu-kupu menjadi objek penting yang merepresentasikan perjalanan batin sang perupa. Burung hantu, antara lain melalui karya The Lord of the Night (2018) dan Ibu Kandung (2016), menghadirkan asosiasi tentang ketenangan, ketajaman pengamatan, dan kebijaksanaan.
Sementara itu, kupu-kupu menjadi metafora transformasi, kebebasan, kasih sayang, dan perubahan. Gagasan tersebut hadir dalam karya Dalam Lindungan Ibu, Selalu Bersama, Yang Datang dan Pergi, serta Menjaga Rasa, yang dibuat pada 2026. Eksplorasi artistiknya juga merambah karya instalasi berbahan campuran dengan objek kupu-kupu.
Melalui Decora of Life, Watie mengajak pengunjung membaca kehidupan sebagai rangkaian pengalaman yang saling terhubung. Kebahagiaan dan kesedihan bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan bagian dari perjalanan manusia menemukan makna.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, pameran ini menawarkan pengingat bahwa merayakan kehidupan bukan berarti meniadakan luka. Keindahan justru tumbuh ketika manusia mampu menerima kenyataan dan terus memberi makna pada setiap pengalaman yang dijalaninya. (Tor)









