Tampilkan postingan dengan label Budaya'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya'. Tampilkan semua postingan

Mau Wisata Ke Kampung Batik Laweyan? Ini Ada Petunjuknya

Desember 19, 2024


 Beberapa petunjuk arah lokasi wisata di Kampung Batik Laweyan, Solo. Hanya saja, masih cukup minim. Foto: Yani.

GUGAT news.com SOLO 

Kampung Laweyan adalah merupakan kampung tertua di Kota Solo, bahkan kabarnya lebih tua dari Kerajaan Kasultanan Pajang Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet yang lebih populer dengan sebutan Joko Tingkir abad 15 silam. Pasalnya, sebelum Kerajaan Kasultanan Pajang berdiri di sekitar wilayah Makamhaji dan Pajang, Kampung Laweyan sudah terlebih dahulu ada. 

Hanya saja, belum populer sebelum berdirinya Kerajaan Kasultanan Pajang, Kampung Laweyan masih merupakan hutan Pohon Kapas. Begitu berdirinya Kerajaan Kasultanan Pajang, mulailah Kampung Laweyan kesohor di berbagai daerah hingga kini dikenal sebagai Kampung Batik tertua di Kota Solo. Tak mengherankan lagi, jika bisa dipastikan akan banyak peninggalan heritage bersejarah peninggalan dari Kasultanan Pajang.

Demikian diungkapkan oleh beliau H Rosyadi, tokoh masyarakat yang asli kelahiran Kampung Laweyan 75 tahun silam. Sehingga tidaklah mengherankan lagi, jika beliau yang juga mantan penguasa batik di Laweyan itu sangat mengenal sekali Kampung Batik Laweyan yang hanya memiliki 10 rukun tetangga (RT) dan 3 rukun Warga (RW) namun hampir kesemuanya satu kampung itu banyak memiliki peninggalan sejarah dari leluhurnya.

"Hampir kesemuanya nama kampung di Kalurahan Laweyan ini, bisa dipastikan lagi memiliki nilai-nilai historis tersendiri. Sehingga ada puluhan peninggalan atau bahkan ratusan peninggalan sejarah. Dari rumahnya wong atau orang Laweyan saja sudah Bersejarah. Dibangun dari semasa kejayaan Kerajaan Kasultanan Pajang hingga Kasunanan Surakarta Hadiningrat ada semua dan tidak kurang jumlahnya ratusan meski juga tak sedikit yang direnovasi," jelas Rosyadi bangga.

Sehingga adanya papan petunjuk area arah lokasi wisata bersejarah yang di pasang di dekat Jembatan Laweyan itu cukup membantu, namun masih kurang. Akan lebih bagusnya lagi di setiap gang masuk ke Kampung Batik Laweyan diberi semacam papan petunjuk untuk mereka para wisatawan. Untuk yang terpasang di sebelah timur jembatan Sungai Jenes Laweyan ini, masih kurang beberapa petunjuk lokasi peninggalan sejarah.

"Benar, itu masih kurang beberapa peninggalan leluhur bersejarah yang belum dicantumkan. Misal ke arah kiri atau timur, masih ada Bandar Kabanaran abad 15, Makam Jayeng Rono Bupati Surabaya yang dibunuh PB II Kartasura Hadiningrat (1700 an). Keluarga pembatik yang di bom Belanda. Serta sebelah barat, ada Masjid Laweyan (1546). Makam Ki Ageng Henis dan Ki Ageng Beluk jaman Pajang serta kerabat Ndalem Kerajaan Majapahit ada ribuan," pungkas H Rosyadi. #Yani.

Boyolali Akan Ramai Dikunjungi Musisi Rockers

November 20, 2024


Tidak kurang dari 20 Grup Musik Rock Bakal Manggung di Boyolali atau lebih tepatnya berada di destinasi wisata air Kalipepe Land, Gagak Sipat, Ngemplak, Boyolali. Bertajuk Rock in Solo XX 

GUGAT news.com, Boyolali 

Festival musik Rock in Solo sebagai ajang kreatifitas yang digelar setiap tahun di Solo. Festival musik yang memasuki tahun ke-20 ini akan diikuti 20 grup musik rock baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Adapun gelaran tahunan bertajuk A Journey of Rock in Solo XX ini akan digelar di panggung megah yakni di Kalipepe Land yang berada di Gagaksipat, Ngemplak, Boyolali, pada Sabtu (14/12/2024).

Dalan jumpa pers di Balekambang, Solo, Senin (18/11),
Dewan Jenderal Rock in Solo, Stephanus Adjie mengemukakan bahwa Rock in Solo XX tahun ini merupakan momentum untuk merefleksi perjalanan panjang yang telah dilalui sejak pertama kali digelar pada 2004.

“Karena itu, tajuk yang kami usung yakni A Journey of Rock i  Solo XX. Maksudnya mengawali semangat baru yang telah dimulai sejak dulu sekaligus ucapan terima kasih kami kepada masyarakat karena telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Rock in Solo,” kata Adjie.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa festival nantinya akan dilaksanakan selama satu hari dengan tiga panggung pertunjukan yang tersebar di tiga titik di Kalipepe Land, yakni panggung Rajamala, XX, dan Sakjose. Untuk dua panggung pertama itu nantinya akan diisi oleh  grup band penampil A Journey of Rock in Solo XX dari mancanegara, seperti Wormrot dari Singapura, Dark Mirror of Tragedy dari Korea Selatan, serta beberapa grup penampil dari dalam negeri, seperti Koil, Down for Life, Kapital, Turtles Jr, Kenya, Hantam, Sprayer, Suabakar, Fornicaras, Senja dalam Prosa, Unity 23, Sisi Selatan, Numeron, Torment, Sunday Sad Story, Eden Adversary, dan Knog of Freedom.

Sedang di panggung Sakjose, nantinya akan digunakan untuk penampilan beragam genre musik lainnya, seperti elektrik, hiphop, hingga noise dengan grup penampil seperti, MTAD (DJ Set), Rhyme Protect, Metzdub, Bengawan Noise Syndicate, serta Leisure.

“Dengan adanya tiga panggung yang mencerminkan kebudayaan sekitar dan band dengan beragam genre musik ini, menunjukkan panjangnya perjalanan kami serta banyaknya pihak yang telah bersama-sama menghidupkan ekosistem musik di Solo dan Indonesia,” jelasnya.

Adjie juga menyampaikan terkait harga tiket Rock in Solo XX, ada beberapa jenis dengan harga yang berbeda-beda di antaranya, Early Bird Rp 20.000, Early Entry Rp 33.333, Pre Sale 1 Rp 66.666, Pre Sale 2 Rp 99.999, serta On The Spot Rp150.000.

“Pembelian tiket melalui online di Artatix mulai 17 November 2024. Khusus Early Bird sudah habis terjual sebelumnya,” kata dia.

Dalam festival Rock in Solo XX nanti juga akan disiapkan beberapa fasilitas lainnya yang memungkinkan para penonton melakukan kegiatan selain menonton festival, seperti Rockmarket yang merupakan pasar pernak-pernik musik dari berbagai toko band yang ada. Selain Rockcon sebuah panggung diskusi terbuka dari pelaku industri musik, dan Band Submission yang merupakan kesempatan terbuka bagi band-band lain yang ingin tampil di Rock in Solo XX.

“Ada juga nantinya Community Space dan Playgroun Anak, yang bisa dimanfaatkan oleh penonton maupun pengunjung lainnya di Kalipepe Land,” paparnya.

Dalam jumpa pers, Sosiolog Urban Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Akhmad Ramdon menyampaikan bahwa dalam refleksi 20 tahun perjalanan Rock in Solo ini diketahui bahwa telah terjadi transformasi yang signifikan dari Rock in Solo itu sendiri. Yang mana, menurut dia, Rock in Solo telah mengubah dirinya menjadi entitas yang lebih besar daripada sebuah perkumpulan pecinta musik rock.

“Kita tahu pada awal digelarnya Rock in Solo di Stadion Manahan pada 2004 lalu itu sebatas sebagai euforia menyambut Piala Euro 2004. Di situ, pecinta sepak bola dan musik berhimpun menggelar perayaan,” kata Ramdon.

Lebih lanjut, Ramdon mencatat setidaknya ada tiga fase yang dilalui Rock in Solo hingga saat ini, pertama di awal perjalanan pada 2004 tersebut. Kedua pada satu dekadenya Rock in Solo, yakni 2014 lalu yang mana menurut Ramdon adalah momen Rock in Solo memantapkan dirinya sebagai festival musik yang besar yang ada di Indonesia. Dan terakhir, ketiga ialah pasca pandemi Covid-19.

“Pasca pandemi, Rock in Solo masih tetap mengudara bahkan tidak hanya menampilkan pemusik-pemusik rock semata, tapi memasukan unsur-unsur kebudayaan di dalamnya serta menggandeng pemusik dari berbagai genre lainnya. Artinya Rock in Solo berhasil mengubah dirinya menjadi entitas yang lebih besar dari sebelumnya,” paparnya. (**)



Wedangan Ringin Jongke Bekas Makam Kuno

Agustus 13, 2024


 Pohon beringin Jongke ini usianya sudah ratusan tahun silam, bahkan kabarnya sejaman dengan berdirinya Kerajaan Kasultanan Pajang. Foto: Yani 

GUGAT news.com SOLO 

Puluhan tahun silam, jangankan pada malam hari untuk siang hari saja terasa ada sesuatu yang ganjil saat melintas di jalan depan pohon beringin Jongke yang kabarnya umurnya sudah cukup tua, sejaman dengan berdirinya Kerajaan Kasultanan Pajang Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet yang lebih populer dengan sebutan Joko Tingkir abad 15 silam.

Menurut penuturan beberapa orang orang tua yang tinggal di sekitar beringin Jongke yang kini masuk wilayah Sondakan RT 02 RW 06 Laweyan, Solo itu, konon area keberadaan beringin Jongke merupakan bagian dari Alun-alun Kerajaan Kasultanan Pajang selain yang kini menjadi lapangan sepak bola Makamhaji. 

"Dari cerita turun temurun kakek nenek kami, pohon beringin Jongke dahulunya merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Kasultanan Pajang, hanya saja seiring perjalanan waktu dengan runtuhnya Kerajaan Kasultanan Pajang, berakhir pula kemegahan dari pohon beringin Jongke yang malahan akhirnya menjadi makam tua," tutur Gus Im, tokoh pemuda di Kampung Premulung yang tidaklah jauh dari area beringin Jongke.

Gus Im (kaos love) bersama rekan rekan spiritualnya di Wedangan Ringin Jongke sambil menikmati wedangan dan tembang keroncong. Foto : Yani.

Sekitar beberapa tahun ini, lanjut Gus Im, pemakaman kuno yang dahulunya biasa dipakai untuk sarana permainan berbagai bentuk judi, baik kartu remi, domino hingga yang sempat marak yaitu Cap Jie Kie, kini kesemuanya itu telah berlalu. Berbuah menjadi semacam destinasi wisata Kuliner, dari wedangan sampai jajanan kekinian. Bukan hanya itu saja, ada live musik dengan beragam jenis pula. Keroncong, dangdut campursari sampai album tembang kenangan dengan iringan organ.

Semuanya itu, masih menurut penuturan Gus Im, tidaklah terlepas dari kepindahan Kantor Kalurahan Sondakan yang semula ada di Jalan KH Samanhudi pindah ke Jalan Agus Salim setelah tidak kurang dari 750 jasad yang ada di Pemakaman kuno Ringin Jongke itu dipindahkan oleh pemerintah dengan persetujuan ahli waris. Dampaknya, ya seperti sekarang ini. Meriah dengan beberapa kulineran kekinian dan wedangan tradisional Hidangan Istimewa Kampung (HIK).

"Tidak menutup kemungkinan, nantinya akan tambah semarak, meriah dengan pengunjung yang datang dari kampung kampung di Kota Solo. Setidaknya lokasinya cukup strategis dan nyaman serta aman. Pasalnya di Kantor Kalurahan Sondakan yang 24 Jam ada petugas keamanan. Kulineran dengan musik pun berakhir hanya sampai jam 23.00 WIB. MABUK dilarang masuk MASUK dilarang mabuk," pungkas Gus Im tertawa yang turut diiyakan oleh rekan rekan spiritualnya. #Yani.

Destinasi Wisata Air Bandar Kabanaran Dinantikan Warga Laweyan dan Banaran

Juli 22, 2024


 Situs Bandar Kabanaran membelah Desa Banaran, Sukoharjo dan Kampung Laweyan Solo. Foto : Yani

GUGAT news.com SUKOHARJO 

Subur (50) saat di temui di sekitar bekas Waduk Kabanaran yang kini menjadi food court, kulineran, mengaku senang sekali jika Mas Gibran Rakabuming Raka yang akan menjadi Wakil Presiden dan Pak Jokowi yang masih menjabat Presiden, berkenan mewujudkan Situs Bandar Kabanaran kembali menjadi layaknya bandar atau pelabuhan seperti tempo dulu, dijaman keemasan Kerajaan Pajang Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet yang lebih populer dengan sebutan Joko Tingkir abad 15 silam.

Setidaknya, lanjut Subur yang juga memiliki usaha wedangan di Bekas Waduk Kabanaran, Situs Bandar Kabanaran bisa diubah menjadi sarana destinasi wisata air yang nantinya bisa melibatkan Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Khususnya Kampung Batik Laweyan serta Kalurahan Banaran bisa masalah UMKM nya. Bukan hanya masalah wisata batik saja, namun juga ada wisata air.

'"Pastinya akan lebih cepat kalau semuanya itu dilakukan oleh Mas Gibran dan Pak Jokowi, karena banyak melibatkan berbagai sektor, pariwisata, agraria, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), baik kota Solo, Kabupaten Sukoharjo serta Propinsi Jawa Tengah. Insyaallah kalau Pak Jokowi dan Mas Gibran cukup mudah menyelesaikan masalah itu," urai Subur yang diiyakan oleh ibu ibu yang tinggal di bantaran Sungai Jenes, Sungainya Bandar Kabanaran.

Sepertinya apa yang disampaikan uneg-uneg Subur tersebut bukan tanpa alasan dan sepertinya juga patut diapresiasi, diperhitungkan sekaligus diperhatikan. Bahkan sebelum Subur dan emak emak bantaran Sungai Jenes yang ada di sekitar Situs Bandar Kabanaran mengeluhkan hal itu, lebih dahulu Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puger salah satu Putra Ndalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sudah mengatakan itu semua kepada Presiden Jokowi dan Mas Gibran Rakabuming Raka.

" Nggih pak, iya pak, kami sangat senang sekaligus bangga sekali dengan apa yang diusahakan GPH Puger serta Pak Subur yang berkenan memperjuangkan kembalinya heritage bersejarah peninggalan leluhur. Pastinya, kami sangat bersyukur sekali jika Bandar Kabanaran benar menjadi destinasi wisata air. Siapa tahu menjadikan berkah rejeki tersendiri bagi kami wong cilik yang tinggal di bantaran sungai," ujar Asih (60) yang kepingin bisa jualan di destinasi wisata air Situs Bandar Kabanaran. #Yani.