Masjid Laweyan Mulai Kehilangan Marwah Sejarahnya

November 10, 2023
Jumat, 10 November 2023


 Masjid Laweyan yang didirikan oleh Ki Ageng Henis pada tahun 1546

GUGAT news.com SOLO

Cukup memprihatinkan, demikian diungkapkan Ir Alfabela warga Kampoeng Batik Laweyan yang dipercayai Pemerintah Kabupaten Sukoharjo perihal arsitek kebudayaan cagar budaya menyaksikan keadaan Masjid Laweyan, masjid tertua di Kota Solo 1546.

Bagaimana tidak, nilai historis ratusan tahun silam sudah banyak mengalami perubahan, sehingga marwah nilai historisnya semakin pudar. Keaslian sejarahnya banyak berubah. "  Bangunan pemasangan batu alam berwarna hitam dihampir seluruh ruangan pengimaman atau ruang utama telah merubah karakter wujud aslinya," terang Alfabela.

Cukup disesalkan, masih menurut penuturan Alfabela, penempelan batu alam berwarna hitam dari yang semula berwarna tembok hijau muda itu tanpa sepengetahuan apalagi kajian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Parahnya lagi, kayu jendela dan penutupnya dari kayu jati berusia ratusan tahun itu harus dikorbankan. Ditutup dengan tembok semen dan batu alam!' terang Alfabela, kecewa.

Semoga saja, lanjut Alfabela, nantinya setelah pihak panitia Masjid Laweyan yang mengaku telah mengajukan permohonan ke pemerintah yang berkompeten bisa ditemukan solusi jalan terbaiknya. "Lha bagaimana lagi penutupan tembok ruang utama dengan batu alam sudah hampir rampung 100 %. Mau bagaimana lagi? Semoga ini menjadikan pembelajaran bagi semuanya tentang BPCB!" tegas Alfabela.

Berdasarkan pantauan GUGAT, sebenarnya cukup beralasan dan benar adanya akan apa yang disampaikan Alfabela tentang Masjid Laweyan mulai kehilangan marwah sejarahnya. Ada beberapa titik yang sudah berubah tentang Madjid Laweyan peninggalan Ki Ageng Henis ulama besar di jaman Kasultanan Pajang yang terkenal dengan Rajanya Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet juga Joko Tingkir.

Dari tangga semen berundak untuk masuk ke area masjid, sudah berubah. Selain tangga berinfak ditengahnya juga ada jalan turunan layaknya perosotan anak anak, sudah hilang, mungkin dihilangkan. Pagar balok kayu jati sudah berubah pagar cor besi motif bunga. Tembok pagar pada sisi Utara di jembol, untuk masuk sepeda, motor dan pejalan kaki.

Pintu butulan dari sisi Utara juga telah hilang, ditutup rapat dan bekas ruangan pintu dipakain untuk tempat kran air wudhu. Menyedihkan lagi, tempat wudhu yang diciduk atau harus diambil dengan gayung, sudah hilang rata dengan tanah dan dipakai shalat jika jamaah membludak.

Tragisnya lagi, lantai ubin, tegel kotak berukuran 20cm X 20 cm atau lebih sedikit, sudah berganti total dengan lantai keramik putih polos. Belum lama ini, perubahan karakter pada dinding ruang utama sekaligus penutupan jendela dengan tembok yang pastinya fungsi jendela hilang sama sekali. 

"Masjid Laweyan sudah banyak beribah dari nilai historisnya yang harus dipertahankan sebagai Cagar Budaya. Kalau sudah begini, apalagi yang harus dibanggakan sebagai masjid tertua di kota Solo yang keaslian sejarahnya sejak Abah 15 sudah banyak hilang atau dihilangkan!" tandas Kanjeng Pangeran (KP) Bambang Pradhoto Nagoro SH pengacara yang banyak menangani kasus cagar budaya. #Yani








Thanks for reading Masjid Laweyan Mulai Kehilangan Marwah Sejarahnya | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

TERKAIT

Show comments

HOT NEWS