Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Seniman DIY Gaungkan " Kedaulatan Rakyat= Kedaulatan Satra"
Senin, 09 Februari 2026
GUGAT news.com YOGYAKARTA
Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Yogyakarta dirayakan dengan cara berbeda. Komunitas Seniman dan Budayawan yang tergabung dalam Koperasi Seniman Yogyakarta (Koseta) menggelar pentas seni bertajuk “Kedaulatan Sastra” di Aula Kantor Harian Kedaulatan Rakyat, Jalan Margoutomo 40, Yogyakarta, Minggu (8/2/2026) petang.
Mengusung tema “Kedaulatan Rakyat = Kedaulatan Sastra”, acara ini menyuguhkan pembacaan puisi, musik puisi, tari tradisi hingga tari modern. Pentas tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus refleksi atas peran pers, seni, dan kebudayaan dalam menjaga masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Direktur Utama PT BP Kedaulatan Rakyat, Drs. HM Idham Samawi, menyampaikan bahwa tantangan bangsa hari ini tidak lagi semata penjajahan fisik, melainkan upaya penguasaan sumber daya nonfisik yang jauh lebih subtil.
“Dulu penjajahan fisik bisa dilihat dengan jelas. Kini, penjajahan nonfisik jauh lebih sulit dikenali. Indonesia masih memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. Harapannya, para pemimpin NKRI mampu mengelolanya dengan baik demi kesejahteraan rakyat,” ujar Idham Samawi.
Ketua Koseta Yogyakarta Sigit Sugito menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud konsistensi seniman dan budayawan dalam merawat nalar kritis, etika, dan kebebasan berekspresi melalui karya. Menurutnya, sastra dan seni memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan berpikir masyarakat.
Sejumlah seniman dan budayawan Yogyakarta turut tampil dalam acara tersebut, antara lain Prof. Aprinus Salam, Sigit Sugito, Idham Samawi, OK Swastika Mahendra, Evi Idawati, Ina Sita Nur’aini, Anastasia, Theo Sunu Widodo, serta Buteng Swami Ahimsa. Acara dipandu oleh Lucky Dewi Promo sebagai pembawa acara.
Pentas dibuka dengan tari “Edan-edanan” dan “Kewer-kewer” yang dibawakan Krisna Koe bersama Hastari Cs. Selanjutnya, kelompok CF Voice (Celo, Awan, Sando) menampilkan musik puisi “Pers Indonesia Pilar Keempat Demokrasi” karya Theo Sunu Widodo, dilanjutkan komposisi “Tragedi di Nusantara Loh Jinawi”.
Sigit Sugito membacakan puisi “Pledoi Sang Pewaris Tahta”, disusul Sita Nur’aini dengan puisi “Pena Jari-jari dan Pedang”. Prof. Aprinus Salam bersama istrinya, Kristi, membawakan puisi “Mantra Pisau”. Sementara Evi Idawati melalui puisi “Perjamuan Doa” menyampaikan doa dan harapan bagi insan pers Indonesia.
“Semoga HPN 2026 selalu mendapat cahaya,” ucap Evi.
Penampilan lain datang dari OK Swastika Mahendra yang membacakan puisi “Pers Pancasila” dan “Mencari Kambing Hitam”, serta Anastasia dengan puisi “Saatnya Waktu”. Acara semakin semarak dengan penampilan Salsa Dance asuhan Deddy Ratmoyo, iringan musik Buteng Swami Ahimsa, dan ditutup dengan flashmob tari Kewer-kewer.
Melalui pentas ini, para seniman DIY menegaskan bahwa pers, sastra, dan seni budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari perjuangan menjaga kedaulatan bangsa—bukan hanya dalam ranah politik dan ekonomi, tetapi juga dalam kesadaran, etika, dan imajinasi kolektif masyarakat.#TOR






