Pembukaan Pekan Dewantara 2026 Belajar Dari Nyi Hajar Dewantara
Narasumber, wakil Majelis Luhur, para kepala museum, wakil keluarga pahlawan nasional dan panitia berfoto bersama
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Puluhan anak muda usia 18 sampai 25 tahun yang yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta dan tergabung dalam komunitas Cakra Dewantara menginisiasi kegiatan Pekan Dewantara. Suasana khidmad, guyub namun meriah tergambar dalam pembukaan kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/3) di Pendapa Tamansiswa, Jalan Tamansiswa 25 Yogyakarta. Hadir dan memberi sambutan kepala Museum Dewantara Kirti Griya Ki Murwanto dan Cucu dari putera kedua Ki Hadjar, Purbo Wijoyo. Tampak hadir para Kepala Museum anggota Barahmus DIY, wakil Majelis luhur, senior dan alumni Tamansiswa, perwakilan keluara pahlawan nasional, anggota komunitas, dan masyarakat umum.
Ketua Cakra Dewantara Shintia Putri mengatakan tujuan pokok dari kegiatan ini adalah mengangkat ke hadapan publik peran RAy. Sutartinah (Nyi Hadjar Dewantara) pada kokohnya fondasi keluarga dan lahir, tumbuh dan perkembangan Tamansiswa. “Tema kegiatan ini adalah Bukan Sekdar Isteri, Berdikari Seperti Sutartinah. Peran RAy. Sutartinah dalam kehidupan RM Suwardi Suryoningrat (Ki Hadjar Dewantara) dan Tamansiswa sangat fundamental. Setidaknya ada 4 hal yang saya catat : Beliau rela dipinang sebagai isteri oleh Suwardi yang saat itu merupakan narapidana dan harus menjalani pembuangan ke negeri Belanda” ucap Shintia.
“kedua, selama di negeri Belanda, Sutartinah juga tidak mau membebani bahkan ikut menopang ekonomi keluarga dengan bekerja sebagai guru, karena pemerintah kolonial hanya memberi jaminan hidup untuk Suwardi. Ketiga, saat kembali ke tanah air dan Suwardi kembali ditangkap karena aktivitas politiknya, Sutartinahlah yang menyarankan agar Suwardi lebih baik memilih jalan perjuangan di bidang Pendidikan. Yang terakhir, saat Tamansiswa berdiri dan belum memiliki pamong, maka Sutartinahlah pamong pertama perguruan Tamansiswa”, demikian tambah Shintia.
Sementara itu pada sesi talkshow, hadir ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta sekaligus pinisepuh dan sejarawan Tamansiswa, Priyo Dwiarso. “Saya lahir 1943 dan sampai tahun 1959 tinggal sehalaman dengan keluarga Ki Hadjar Dewantara. Nyi Hadjar adalah aristokrat yang taat pada kodratnya sebagai isteri. Perannya besar tetapi tidak mau mengungguli suaminya. Mendampingi suaminya dalam pembuangan di negeri Belanda, ia menjadi guru di lembaga Frabel de Garten (pendidikan usia dini). Saat itu lembaga tersebut menerapkan reformasi pendidikan di Eropa yang merubah metodologi, dari semula top down menjadi buttom up. Saya menduga pengalaman Nyi Hadjar ini yang menjadi salah satu inspirasi Ki Hadjar mendirikan sistem pendidikan Tamansiswa sebagai antitesis pendidikan kolonial yang diskriminatif, eksklusif dan tidak berbasis budaya sendiri”, demikian Priyo Dwiarso.
Anak muda dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta sebagai panitia Pekan Dewantara berfoto bersama
“Saat kembali dari pembuangan di tahun 1919, Ki dan Nyi Hadjar menemui KHA Dahlan yang berpesan agar Suwardi segera saja membuat sekolah nasional, dan berdirilah perguruan Tamansiswa di Jalan. Tanjung 26 (sekarang Jalan Gadjah Mada 26). Dalam interaksi berikutnya, atas masukan Sutartinah ke Nyi Ahmad Dahlan berdiri pula sekolah usia dini, Frabel Kauman. Selanjutnya atas saran Sutartinah pula akhirnya Ki Hadjar kemudian lebih fokus berjuang di lapangan pendidikan. Saat berpidato pada penganugrahan gelar Doktor (HC) oleh UGM kepada Ki Hadjar Dewantara tahun 1956, Ki Hadjar mengakui peran Nyi Hadjar dengan mengatakan : Tanpa ada Nyi Hadjar disamping saya saya bukan siapa-siapa”, demikian tambah Priyo Dwiarso.
Paska pembukaan Pekan Dewantara, para hadirin menuju Museum Dewantara Kirti Griya. untuk menyaksikan memorial Ki dan Nyi Hadjar Dewantara dan koleksi benda sejarah yang berkait langsung dengan perjuangannya. Gedung museum, yang dulu merupakan rumah kedua Ki Hadjar Museum berarsitektur rumah Indies dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. “Seluruh koleksi museum merupakan benda asli (original) yang menggambarkan perjalanan asal-usul, riwayat pendidikan dan riwayat perjuangan Ki dan Nyi Hadjar. Koleksi masternya antara lain: mesin ketik yang digunakan untuk menuis artikel di De Expres berjudul Alas Ik Eens Nederlander Was (seandainya saya orang Belanda) yang dianggap sangat prvokatif dan berbahaya bagi pemerintah kolonial dan pakaian penjara pekalongan, akibat beliau terkena delik bicara tahun 1921”, tutur Agus, pemandu museum.
Menurut ketua kegiatan Febry Fajar Mabruroh Pekan Dewantara tahun 2026 mengagendakan kegiatan pameran, lomba dolanan anak, workshop, seminar, dan napak tilas yang berlangsung mulai Sabtu (25/3) sampai dengan Minggu (3/5). “Pekan Dewantara ini kami desain sebagai ruang belajar. Silakan menggali bagaimana Ki dan Nyi Hadjar menggagas pendidikan harus berbasis sistem among dengan dua prinsip, yaitu kemerdekaan dan kodrat alam, Anak didik harus dibiasakan merasakan dan memelihara kebebasan secukupnya. Dimerdekakan batin, pikiran dan tenagnya. Kepada segenap masyarakat disilakan untuk hadir. Harapan kami, Semoga berkesan dan ada sesuatu yang dapat dibawa pulang bagi yang mengikutinya”, demikian Febry Fajar Mabruroh.(TOR






