Klowor, Melukis Alam Sebagai Laku Spiritual
Klowor Waldiyono sedang berkarya di bengkelnya Klowor Art House Jaten Sendang Adi Mlati Sleman
GUGAT news. com
Pagi bagi Klowor Waldiyono bukan sekadar pergantian waktu. Dari rumah sekaligus ruang kerjanya di Klowor Art House, Jaten, Sendangadi, Mlati, Sleman, pelukis senior itu bisa memandang gunung. Setiap hari ia menyaksikan bentang alam yang sama, tetapi tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai sesuatu yang sama. “Setiap pagi saya bisa melihat gunung. Betul-betul bisa menikmati proses karya.”
Klowor percaya, alam selalu menyimpan cerita. Hutan, binatang, flora, fauna, hingga lanskap gunung tidak berhenti sebagai objek visual. Alam membawa pesan moral. Manusia, menurutnya, terlalu sering merasa sebagai penguasa alam. Padahal, alam hanya merespons apa yang dilakukan manusia.
“Banyak tema lanskap yang kita angkat berkaitan dengan pesan moral. Lanskap berkaitan dengan hutan, binatang, flora, fauna. Kondisi sekarang sudah memprihatinkan,” ujarnya di kediamannya kemarin.
Bencana ekologis yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra kemarin menjadi salah satu kegelisahan Klowor. Bencana tersebut, baginya, tidak bisa semata-mata dilihat sebagai peristiwa alam. Ada jejak panjang tindakan manusia yang ikut membentuknya. “Alam sebetulnya cuma mengimbangi apa yang dilakukan manusia,” katanya.
Gagasan itu tidak berhenti dalam percakapan. Klowor menerjemahkannya ke dalam kanvas. Melukis, bagi lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu, bukan sekadar ekspresi seni. Melukis merupakan panggilan jiwa, laku spiritual, sekaligus ungkapan syukur atas segala karunia yang diberikan Sang Pencipta.
Lahir di Yogyakarta, 31 Januari 1968, perjalanan Klowor sebagai seniman penuh kejutan. Ia pernah melukis daun anthurium sebagai bagian dari usaha bertahan di tengah masa sulit. Pengalaman itu kemudian membawanya menjelajah berbagai kemungkinan artistik. Gejolak Gunung Merapi, lanskap alam, hingga bentuk-bentuk kehidupan di sekitarnya menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Klowor tidak pernah ingin berhenti belajar dari alam. Perjalanan artistiknya terus bergerak. Dari kucing monokrom hingga lanskap penuh warna. Dari garis-garis tegas hingga lapisan warna yang menenangkan. Setiap karya menjadi semacam catatan perjalanan batin seorang seniman yang terus mencari hubungan antara manusia dan alam. “Sebagai pelukis itu harus selalu berkarya. Berkarya itu bagian dari laku spiritual. Ungkapan kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Bagi Klowor, seorang pelukis tidak seharusnya hanya berkarya ketika hendak berpameran. Pameran hanyalah salah satu ruang untuk mempertemukan karya dengan publik. Proses berkarya harus terus berlangsung, sebab di sanalah seorang seniman menjaga hubungan dengan dirinya sendiri, alam, dan Sang Pencipta. “Jangan hanya mau pameran saja,” katanya.
Klowor segera memasuki babak penting dalam perjalanan artistiknya. Pameran tunggal ke-10 akan digelar pada September mendatang di Grand Hotel Ambarukmo. Pameran berikutnya direncanakan berlangsung Oktober di Legareca Art Gallery, ruang seni milik Butet Kartaredjasa. Awal tahun depan, karya-karyanya akan kembali hadir di Laku Art Space, Jalan Imogiri.
Semuanya telah dipersiapkan. Sepuluh pameran tunggal bukan sekadar angka bagi Klowor. Setiap pameran menyimpan fase perjalanan, kegelisahan, dan pencarian artistik. Alam tetap menjadi salah satu sumber inspirasinya. Gunung yang setiap pagi dipandangnya dari rumah, hutan yang terus terdesak, binatang dan tumbuhan yang kehilangan ruang hidup, semuanya hadir sebagai pengingat.
Klowor melukis bukan untuk sekadar memindahkan pemandangan ke atas kanvas. Ia sedang membaca alam. Melalui warna, garis, dan lanskap, ia mengajak manusia bercermin. Alam tidak pernah benar-benar diam. Manusia yang terlalu sering gagal mendengarkan. (Tor)






