iklan



FOKUS

Road To JIKF 2026 : Semangat Pelayang Cilik Hingga Senior Terbangkan Train Naga Warnai Langit Banaran


 GUGAT news. com KULONPROGO

Langit persawahan Banaran, Galur, Kulon Progo, kembali dihiasi train naga yang meliuk mengikuti arah angin pada Minggu (5/7/2026). Hari kedua rangkaian Road to Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026 menghadirkan perlombaan kategori train naga anak dan train naga dewasa yang diikuti puluhan pelayang dari berbagai daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Sebelumnya, pada Sabtu (4/7/2026), Road to JIKF 2026 telah membuka rangkaian perlombaan melalui kategori layang-layang tradisional dan layang-layang kreasi. Memasuki hari kedua, suasana semakin semarak dengan atraksi train naga yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi sekitar 15.000 pengunjung yang memadati area persawahan Banaran. 

Kehadiran peserta dari berbagai kelompok usia masih memperebutkan juara pertama untuk mendapatkan Golden Ticket Jogja International Kite Festival di Pantai Parangkusumo pada 11-12 Juni 2026. Sebanyak 19 klub mengikuti kategori train naga dewasa dan 7 klub berlaga pada kategori train naga anak. Semangat peserta dalam lomba ini menunjukkan bahwa seni layang-layang terus berkembang sebagai ruang pembelajaran sekaligus regenerasi bagi komunitas pelayang.

Ketua Panitia Jogja International Kite Festival 2026, Anang Sarjiyanto, mengatakan antusiasme peserta terhadap kategori train naga terus meningkat dan memiliki potensi besar terutama pada anak-anak. Semangat yang dimiliki oleh anak-anak menjadi cikal bakal regenerasi pelayang terutama train naga. Anang sebagai ketua pelaksana kegiatan ini optimis bahwa event ini berpeluang untuk berkembang menjadi ajang perlombaan tersendiri pada masa mendatang.

"Antusiasmenya luar biasa meski butuh waktu dan proses untuk mengajak lebih banyak peserta. Mungkin suatu saat kita bisa membuat event khusus train naga. Bahkan pelayang internasional juga sangat tertarik dengan layangan train naga ini karena di negara mereka tidak ada layangan seperti ini," ujar Anang.

Daya tarik train naga juga mendapat perhatian dari peserta internasional yang hadir sebagai tamu dalam rangkaian Road to JIKF 2026. Salah seorang pelayang asal Vietnam, An, mengaku terkesan dengan keindahan serta kekompakan para peserta saat menerbangkan train naga.

"Saya datang bersama tim dari Vietnam. Saya terkesan karena semuanya sangat indah. Saya merasa senang bisa datang dan bergabung di event ini," ungkapnya.

Semangat regenerasi terlihat dari keterlibatan pelayang muda dalam perlombaan. Farhan (15), anggota Klub Bolo Srewu yang mengikuti kategori train naga anak, menceritakan bahwa timnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyiapkan karya yang diterbangkan dalam kompetisi tersebut.

"Kita bikin layangan train naga anak, Kak. Itu sekitar tiga bulan bikinnya," katanya.

Tidak hanya anak-anak, para pelayang senior dan orang tua juga turut berperan mendampingi proses perlombaan. Samidi (61) dari Royal Team mengaku senang dapat mendampingi para peserta muda sekaligus memastikan mereka tetap aman selama mengikuti kegiatan.

"Saya merasa senang bisa mendampingi anak-anak. Terutama sebagai orang tua juga harus mendampingi supaya tidak terjadi apa-apa karena dari pengalaman pernah ada yang mengalami kecelakaan. Meski agak repot, keinginan anak tetap perlu didukung," ujarnya.

Selain menjadi arena kompetisi, Road to JIKF 2026 juga memperkenalkan kawasan persawahan Banaran sebagai lokasi yang ideal untuk menerbangkan layang-layang. Hamparan sawah yang berada di sekitar Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dan tidak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) memberikan ruang terbuka yang luas tanpa mengganggu aktivitas penerbangan.

Anang menjelaskan bahwa lokasi penyelenggaraan telah memenuhi aspek keselamatan penerbangan karena berada di luar Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP).

"Meski lokasinya terbilang cukup dekat dengan bandara, tetapi ini berada di zona aman. Lokasi ini berada di luar KKOP dengan radius lebih dari 15 kilometer sehingga aman digunakan untuk menerbangkan layang-layang," jelasnya.

Melalui keterlibatan pelayang cilik hingga senior, dukungan masyarakat, serta apresiasi dari peserta internasional, Road to JIKF 2026 kembali menegaskan bahwa festival layang-layang bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang regenerasi, pelestarian budaya, sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan seni layang-layang Indonesia kepada masyarakat dan dunia. (Tor)




BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close