Membahagiakan Manusia, Jalan Menuju Ridhlo Allah
Oleh: Yuliantoro
"Jangan bercita-cita menjadi orang terkaya. Bercita-citalah menjadi orang yang paling banyak membahagiakan manusia."
Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang dalam. Kekayaan dapat habis, jabatan akan berakhir, dan popularitas mudah dilupakan. Lain halnya dengan kebaikan. Kebaikan membuat orang lain merasa dihargai, ditolong, dimuliakan, dan dibahagiakan akan terus hidup dalam ingatan manusia. Bahkan menjadi amal yang mengantarkan seseorang kepada ridha Allah SWT.
Sayangnya, ukuran kesuksesan pada zaman ini sering bergeser. Banyak orang bekerja tanpa lelah demi mengejar harta, kekuasaan, dan pengaruh, tetapi kehilangan kehangatan keluarga serta kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Ada yang disegani karena jabatannya, tetapi tidak dicintai anak buahnya. Ada yang dipuji di luar rumah, tetapi menjadi sumber ketakutan bagi pasangan dan anak-anaknya.
Islam menawarkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Misi kenabian bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, melainkan membentuk manusia yang menghadirkan rahmat bagi sesamanya. Karena itu, keberhasilan seorang Muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari sejauh mana orang lain merasa aman dari lisan, tangan, dan kekuasaannya.
Prinsip itu ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan, dan memberi kepada kaum kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan kezaliman." (QS. An-Nahl: 90).
Ayat yang selalu dibacakan pada penutup khutbah Jumat ini memuat fondasi peradaban. Berlaku adil, berbuat ihsan, dan peduli kepada sesama. Karena itu, membahagiakan manusia bukan sekadar anjuran moral, melainkan bagian dari ibadah kepada Allah.
Semuanya dimulai dari lingkungan terdekat. Bahagiakan pasangan dengan kasih sayang dan penghormatan. Bahagiakan anak-anak dengan perhatian, pendidikan, dan keteladanan. Berbaktilah kepada orang tua, eratkan silaturahmi dengan saudara, pedulilah kepada tetangga, setialah kepada sahabat, perlakukan karyawan dengan adil, dan bangun kerja sama yang jujur dengan rekan kerja. Jangan menjadi penyebab air mata, kekecewaan, atau hilangnya martabat orang lain. Hindari kezaliman, kesombongan, dan sikap meremehkan karena semua itu merusak persaudaraan.
Pandangan ini sejalan dengan ilmu sosial. Psikologi menjelaskan bahwa setiap manusia membutuhkan penghargaan, penerimaan, dan kasih sayang. Sosiologi menyebut kepercayaan, kepedulian, dan keadilan sebagai modal sosial (social capital). Robert D. Putnam menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi cenderung lebih aman, produktif, dan sejahtera. Sebaliknya, kezaliman dan kesombongan melahirkan konflik, meruntuhkan kerja sama, dan menghambat kemajuan.
Karena itu, Islam sangat keras mengecam kesombongan. Orang yang sombong sulit menghargai orang lain, enggan menerima kebenaran, dan mudah meremehkan sesamanya. Demikian pula kezaliman, baik kepada pasangan, anak, saudara, tetangga, karyawan, maupun masyarakat, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." Manfaat tidak selalu berupa harta. Ilmu, kejujuran, perlindungan, keteladanan, doa, senyuman, dan sikap yang menenangkan hati orang lain juga merupakan bentuk manfaat yang bernilai besar di sisi Allah.
Karena itu, biasakan bertanya setiap pagi, "Siapa yang hari ini akan saya bahagiakan?" Lalu setiap malam lakukan muhasabah, "Adakah hati yang saya sakiti, hak yang saya abaikan, atau kepercayaan yang saya khianati?" Dua pertanyaan sederhana itu akan membentuk pribadi yang lebih penyayang, pemimpin yang lebih adil, pengusaha yang lebih amanah, dan hamba yang lebih dekat kepada Allah.
Pada akhirnya, manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan bagaimana semua itu diperoleh, digunakan, dan memberi manfaat bagi sesama. Kesuksesan sejati adalah ketika keluarga merasa dicintai, tetangga merasa nyaman, sahabat merasa dihargai, karyawan diperlakukan adil, masyarakat merasakan manfaat, dan doa-doa kebaikan mengalir karena kehadiran kita. Itulah kebahagiaan yang melampaui dunia, sekaligus jalan sunyi menuju ridha Allah SWT. ***





