Pentas Teater Alam, Bambang Ekalaya, Panggung Yang Menggugat Makna Belajar
GUGAT news. com YOGYAKARTA
Di atas panggung, Bambang Ekalaya bukan sekadar tokoh pewayangan. Ia hadir sebagai simbol tentang hasrat manusia untuk belajar, sekaligus potret mereka yang memiliki kemampuan tetapi kerap terhalang oleh batas-batas pengakuan. Melalui pementasan Bambang Ekalaya, Teater Alam mengajak penonton melihat kembali persoalan yang sesungguhnya masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Benarkah kemampuan selalu mendapatkan tempat, atau justru legalitaslah yang lebih menentukan nasib seseorang?
Pertunjukan berdurasi sekitar 75 menit ini akan dipentaskan pada Rabu, 5 Agustus 2026, di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Naskahnya ditulis Agus "Leyloor" Prasetya berdasarkan tesis akademiknya, kemudian dihadirkan ke atas panggung di bawah arahan sutradara Meritz Hindra bersama asisten sutradara Nano Asmorodono. Berangkat dari dunia pewayangan, lakon ini menawarkan tafsir baru yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam kisah klasik, Ekalaya dikenal sebagai pemuda berbakat yang ingin berguru kepada Resi Durna. Namun keinginannya ditolak. Durna hanya diperkenankan mengajar para pangeran Astina, yakni Pandawa dan Kurawa. Penolakan itu tidak memadamkan semangat Ekalaya. Ia membangun patung Durna dari tanah bekas pijakan sang resi, lalu menjadikannya lambang guru yang selalu menemaninya berlatih. Tanpa ruang kelas, tanpa kurikulum, tanpa pengakuan resmi, Ekalaya menempa dirinya sendiri hingga menjadi pemanah yang kemampuannya mampu menyaingi bahkan melampaui Arjuna.
Ironinya, keunggulan itu justru menjadi awal petaka. Demi menjaga Arjuna tetap menyandang predikat murid terbaik, Durna meminta guru dakshina berupa ibu jari tangan kanan Ekalaya. Permintaan tersebut dipenuhi sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang ia anggap guru, meski pengorbanan itu membuat kemampuan memanahnya tidak lagi sama. Sejak saat itu, bakat dan kerja keras seolah kalah oleh sebuah sistem yang menentukan siapa yang layak diakui dan siapa yang harus tersisih.
Di tangan Teater Alam, kisah tersebut tidak berhenti sebagai legenda. Ekalaya dihadirkan sebagai metafora bagi banyak orang yang terus belajar secara mandiri, mengembangkan keterampilan melalui pengalaman, kursus, komunitas, maupun berbagai ruang belajar nonformal. Mereka memiliki kemampuan nyata, tetapi tidak selalu memperoleh legitimasi yang sama dengan mereka yang mengantongi ijazah atau sertifikat formal.
Di sinilah pementasan ini menemukan relevansinya dengan kehidupan masa kini. Dunia pendidikan Indonesia masih menjadikan pendidikan formal sebagai pintu utama menuju pengakuan sosial. Ijazah menjadi syarat memperoleh pekerjaan, menduduki jabatan, hingga mengikuti berbagai seleksi yang menentukan masa depan seseorang. Di sisi lain, menjamurnya lembaga bimbingan belajar, kursus keterampilan, pelatihan profesi, dan platform pembelajaran digital memperlihatkan bahwa proses belajar tidak lagi berlangsung hanya di sekolah.
Fenomena tersebut menghadirkan pertanyaan yang patut direnungkan. Bila sekolah telah mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik, mengapa masyarakat masih merasa perlu mencari ruang belajar tambahan? Sebaliknya, bila kemampuan dapat tumbuh melalui beragam jalur pembelajaran, mengapa pengakuan terhadap kompetensi masih sangat bergantung pada legalitas administratif?
Lakon Bambang Ekalaya tidak sedang mempertentangkan pendidikan formal dengan pendidikan nonformal. Keduanya memiliki fungsi yang saling melengkapi. Yang menjadi sorotan adalah kecenderungan menempatkan legalitas sebagai ukuran utama, sementara kapasitas, ketekunan, dan hasil belajar sering kali berada di posisi kedua.
Melalui bahasa teater yang puitis sekaligus kritis, Teater Alam menghidupkan kembali tokoh Ekalaya bukan sebagai pahlawan yang kalah, melainkan sebagai lambang semangat belajar yang tak pernah padam. Pementasan ini mengingatkan bahwa pengetahuan lahir dari ketekunan, bukan semata-mata dari pengakuan administratif.
Pada akhirnya, pertunjukan ini tidak hanya mengajak penonton mengenang kisah pewayangan, tetapi juga mengajukan pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini: apakah sistem pendidikan telah benar-benar memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang sesuai kemampuan, atau justru masih membangun pagar-pagar yang menentukan siapa yang berhak diakui dan siapa yang tetap berada di luar? (Tor)






