Akhir Lusono Undang Sahabat Tengah Malam, Kenduren Geguritan Sambut Usia 57 Tahun
GUGAT news. com
BANTUL — Sastrawan Jawa yang dikenal dengan gaya mbeling, Akhir Lusono, kembali membuat gebrakan yang tidak biasa. Kali ini, ia mengundang sahabat dan rekan-rekannya untuk berkumpul pada tengah malam, menggelar kembul bujono dan kenduren gurit dalam rangka menyambut ulang tahunnya yang ke-57.
Acara yang berlangsung Sabtu malam, 24 Oktober 2026, hingga Minggu dini hari, 25 Oktober 2026, ini terbilang unik. Dalam undangan yang beredar, pertemuan dijadwalkan mulai pukul 23.00 WIB hingga 01.00 WIB. Para tamu tidak sekadar datang untuk merayakan ulang tahun, tetapi juga diajak membaca geguritan karya Akhir Lusono yang telah disiapkan.
Bagi Akhir, kegiatan semacam ini bukan sekadar mencari sensasi. Justru, ekspresi budaya yang dianggap nyeleneh oleh sebagian orang merupakan bagian dari kesenangan dan ruang kreativitasnya.
“Acara beginian sebenarnya bukan untuk sensasi-sensasian. Bagi saya, kegiatan yang mungkin dianggap aneh itu biasa saja. Bahkan orang-orang terdekat, seperti anak dan istri, terkadang menganggapnya aneh. Yang terpenting, kegiatan itu tidak melanggar norma agama maupun norma masyarakat,” ungkapnya.
Pemilihan waktu tengah malam juga bukan tanpa alasan. Akhir sengaja mengundang para sahabat mulai pukul 23.00 WIB agar perayaan melewati tanggal 24 dan tepat memasuki 25 Oktober, hari kelahirannya. Menurut penuturan orang tuanya, waktu tersebut bahkan berdekatan dengan jam kelahirannya dahulu.
Di balik gaya mbeling dan berbagai gebrakannya, Akhir merupakan sosok yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia kebudayaan dan sastra Jawa. Sejumlah penghargaan telah diraihnya, termasuk rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), penghargaan tokoh dari kategori budayawan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) DIY setahun lalu, serta penghargaan dari Presiden ke-7 Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto.
Ia juga pernah bersaing dengan Bondan Nusantara, tokoh kethoprak, dalam perebutan penghargaan Tokoh Penggerak Bahasa dan Sastra Jawa dari Balai Bahasa Yogyakarta.
Berbagai amanah kelembagaan turut dijalankannya. Akhir menjadi anggota Dewan Kebudayaan Bantul dan Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta atas penunjukan wali kota. Ia pernah memimpin Lembaga Seni Budaya dan Olahraga di lingkungan PRM, PDM, hingga PWM DIY. Kini, ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Perjalanan Akhir di dunia sastra Jawa dimulai sejak 1993. Selama lebih dari tiga dekade, ia merasakan beragam dinamika, termasuk getirnya kehidupan sastrawan yang kerap berhadapan dengan apresiasi dan honorarium yang belum sepadan dengan kerja kreatifnya.
Meski demikian, produktivitasnya tidak surut. Ia terus menggelar kegiatan berbasis bahasa Jawa dan menerbitkan sejumlah buku, baik kumpulan puisi Jawa maupun cerita cekak. Salah satu bukunya bahkan telah memasuki cetakan kedua.
Akhir mengajak masyarakat untuk lebih nyata mengapresiasi keberadaan sastrawan Jawa, salah satunya dengan membeli dan membaca karya-karya berbahasa Jawa. “Jangan hanya mengatakan ingin melestarikan bahasa Jawa. Apresiasi juga karya para sastrawannya dengan membeli buku-buku berbahasa Jawa, termasuk karya saya yang paling gres dan kini sudah masuk cetakan kedua,” tuturnya dalam kesempatan sebelumnya.
Doktor lulusan perguruan tinggi tersebut menegaskan akan terus berkontribusi dalam pengembangan sastra Jawa. Di samping menjalankan peran sebagai akademisi dan aparatur negara yang mendekati masa purna tugas, ia justru merasa perjalanan akademiknya baru mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Baginya, bahasa dan sastra Jawa bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas kebudayaan yang harus terus dirawat dan dikembangkan. Keberadaan Undang-Undang Keistimewaan DIY yang memberikan ruang bagi penguatan bahasa dan sastra Jawa menjadi salah satu harapan bagi masa depan kebudayaan tersebut.
Di usia yang semakin matang, Akhir Lusono masih memilih jalan yang sama: berkarya, bergerak, dan sesekali membuat sesuatu yang tidak biasa. Melalui geguritan dan perjumpaan sederhana di tengah malam, ia ingin terus menjaga agar bahasa Jawa tetap hidup, dekat dengan masyarakat, dan mampu hanjayeng bawana—jaya di seluruh jagat. (Tor)









