iklan



FOKUS

MALIOBORO MEMBARA : Ketika Malioboro Menjadi Maliya Bara


         Miko Hiphop Hikmah

     (Tri Wijatmoko)

Penulis asal Kotagede,Yogyakarta


Ketika keramaian di Jalan Malioboro sore itu saya lihat bukan sekadar lalu-lalang wisatawan dan pedagang, melainkan gema hati yang berteriak ingin didengar. Di bawah plang hijau bertuliskan JL. MALIOBORO, saya melihat anak-anak muda mengangkat tiga jari ke udara.

Bukan ancaman, melainkan janji. Janji Sumpah Pemuda yang belum selesai: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa — bahasa kebenaran.

Di momen itulah saya memahami, Malioboro yang kita kenal hari ini sejatinya adalah Walioboro.

*Walioboro: Obor Para Wali*

Secara harfiah, Malioboro sering diartikan dari bahasa Sanskerta, Malyabhara, yang berarti rangkaian bunga. Namun bagi saya yang tumbuh di Kotagede, ada makna yang lebih dalam. Malioboro adalah Walioboro, obor para wali yang tak pernah padam.

Obor itu adalah cahaya ilmu, cahaya kebenaran, dan cahaya tauhid yang ditancapkan oleh para pendiri tanah Jawa di jantung kota ini. Jalan Malioboro adalah jalan lurus, filosofi poros imajiner dari Panggung Krapyak ke Keraton hingga ke Gunung Merapi. Ia adalah jalan untuk meluruskan kembali apa yang bengkok di negeri ini.

Tiga jari tanpa satu jari tidak akan menjadi tiga. Begitu pula persatuan tanpa kebenaran adalah kosong.

*Shastri, Santri, dan Santi*

Saya teringat cita-cita besar pendiri Jogja, Pangeran Mangkubumi. Beliau memiliki harapan agar masyarakat Jogja menjadi masyarakat yang berilmu. Lidah orang Jawa kemudian menyebutnya dengan kata "santri" untuk memudahkan penyebutan dari kata Sanskerta "Shāstrī", yaitu masyarakat yang berilmu dan berpihak pada kebenaran.

Dan ujung dari Shastri itu adalah Santi. Dalam bahasa Sanskerta, Santi berarti kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, kebebasan dari kegelisahan. Inilah siklus Jogja: dari ilmu menuju damai.

Maka ketika saya melihat pemuda-pemuda di Jalan Malioboro hari ini berorasi, bernyanyi, bahkan berpuisi dengan keresahan, saya tidak melihat kekacauan. Saya melihat benih Shastri yang sedang tumbuh. Benih yang sedang menyampaikan kegelisahannya.

*Kegelisahan yang Sah*

Kegelisahan itu nyata dan sah. Kegelisahan atas praktik kecurangan, korupsi, kolusi, nepotisme, manipulasi terhadap konstitusi, dan seabrek permasalahan negeri yang membuat lidah orang kecil kelu.

Pemuda Malioboro tidak sedang membenci negerinya. Justru karena mencintai, mereka berteriak. Karena mereka masih percaya bahwa jalan lurus Malioboro ini harus tetap lurus. Tidak boleh bengkok oleh kepentingan segelintir orang.

Refleksi jalan lurus Malioboro hari ini adalah cermin untuk meluruskan kembali nurani bangsa.

*Menuju Maliya Bara*

Maka tugas kita selanjutnya adalah menjaga agar Walioboro — obor para wali itu — tidak padam. Dan mengembalikannya menjadi Maliya Bara, rangkaian bunga yang semerbak harum.

Bunga yang harumnya menyamankan hati, yang mengantar kita menuju Ayodya. Ayodya dalam makna Jogja: tempat yang damai yang tak berhenti memberi rasa nyaman bagi siapa pun yang datang.

Malioboro tetaplah Walioboro. Jadilah kita para pembawa obor wali zaman ini. Menerangi gang-gang kecil Kotagede, menerangi trotoar Malioboro, menerangi ruang-ruang digital dengan kebenaran.

Karena ketika obor itu menyala bersama, Malioboro benar-benar membara. Bukan membara karena amarah, tapi membara karena harapan.






BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close