iklan



FOKUS

Ratusan Lukisan Meriahkan 98 Tahun Sumpah Pemuda, Seniman Gaungkan Pelestarian Alam


 GUGAT news. com

YOGYAKARTA — Peringatan 98 tahun Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum bagi para seniman untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan, kebudayaan, dan masa depan peradaban. Gerakan Ruang Jiwa menggelar pameran lukisan yang melibatkan hampir 30 pelukis dari berbagai daerah, termasuk seniman difabel, di Ballroom Hotel Horison Emerald Timoho, Yogyakarta, pada 28 Oktober–5 November 2026.

Pameran yang menghadirkan ratusan karya tersebut tidak sekadar menjadi ruang apresiasi seni rupa, tetapi juga wadah dialog publik tentang tanggung jawab manusia merawat alam dan menghadapi persoalan sosial di era digital.

Mengusung tema besar “Semangat Sumpah Pemuda: Rawat Ruwat Alam dan Mitigasi Sosial di Era Digital”, kegiatan ini dilengkapi diskusi publik pada Rabu (28/10), pukul 13.00 WIB. Diskusi mengangkat topik “Seni untuk Keberlangsungan Peradaban Dunia: Merawat Alam = Menjaga Peradaban Manusia dan Dialektika Kesadaran”.

Sejumlah narasumber dijadwalkan hadir, antara lain Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi, anggota DPRD DIY Arif Kurniawan, maestro pelukis Suhardiyono atau Mbah Kibar, seniman dan budayawan Tanto Mendut, seniman Brebes Joni Samudra, dosen ISI Yogyakarta Gus Black, serta Supadiyanto, dosen STIKOM Yogyakarta sekaligus Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman dan mantan Komisioner KPID DIY.

Ketua Panitia Sukoco mengatakan, antusiasme seniman terhadap kegiatan ini terlihat dari terus berdatangannya karya hingga menjelang pembukaan. Lukisan yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di DIY dan Jawa Tengah, dengan latar belakang seniman, gaya, dan pendekatan artistik yang beragam.

“Kami berharap pameran lukisan dan diskusi publik ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Yogyakarta, sekaligus memberikan dampak positif bagi pergerakan ekonomi dan sektor pariwisata DIY dan sekitarnya,” kata Sukoco di lokasi pameran.

Sejumlah pelukis yang berpartisipasi antara lain Mbah Kibar (Suhardiyono), Gus Black, Joni Samudra, Heri Susanto, Dudin Wangsa, Kelik, Amalia, Likyon, Alfian, Putri, Ni Putu Devita, Yogi, Kuswanto, Hanum Maharani, Kriskon, Nur Hananto, Merlyna, Agus Cavaleri, Sapto Agus, Yanto, Kristiyanto, dan sejumlah seniman lainnya.

Supadiyanto, yang bertindak sebagai kurator, menilai pameran ini memiliki kekuatan pada keragaman karya, teknik, genre, dan gagasan. Tema yang diangkat mencakup heroisme, nasionalisme, krisis lingkungan, persoalan sosial, budaya lokal, keseimbangan alam, hingga dinamika kontemporer dan isu global.

Menurutnya, keberagaman tersebut memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi medium untuk membaca perubahan zaman sekaligus membangun kesadaran publik. Seni tidak berhenti pada keindahan visual, tetapi juga mampu menghadirkan kritik, refleksi, dan tawaran pemikiran bagi kehidupan bersama.

Seni Bertemu Gerakan Penghijauan

Pameran ini juga disertai aksi nyata pelestarian lingkungan melalui penyerahan 100 bibit pohon kepada masyarakat. Bibit yang disiapkan meliputi matoa, sirsak, jambu mete, cemara udang, dan sengon laut.

Gerakan tersebut diarahkan untuk mendukung penghijauan, ketahanan pangan lokal, kelestarian lingkungan, serta estetika tata ruang perkotaan. Dengan demikian, pesan merawat alam tidak hanya disampaikan melalui lukisan dan forum diskusi, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan konkret.

Penyelenggara turut menyediakan papan khusus bagi pengunjung untuk menuliskan pesan dan kesan dalam rangka memperingati 98 tahun Sumpah Pemuda. Pameran terbuka untuk umum dengan ketentuan pengunjung tidak menyentuh atau memegang lukisan demi menjaga keamanan dan keutuhan karya.

Didukung Metropolitan Golden Management (MGM) dan berbagai pihak lainnya, kegiatan ini juga mengundang unsur pemerintah daerah se-DIY, termasuk Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wali Kota Yogyakarta, serta para bupati di wilayah DIY.

Di tengah peringatan Sumpah Pemuda, pameran ini menghadirkan pesan bahwa persatuan tidak cukup dirawat melalui slogan dan seremoni. Persatuan perlu diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap lingkungan, penghargaan terhadap keberagaman, dan keterlibatan nyata masyarakat dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

Melalui perjumpaan karya, gagasan, dan gerakan penghijauan, para seniman mengajak publik menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari ikhtiar merawat bumi dan membangun masa depan peradaban. (Tor)



BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close