iklan



FOKUS

Spirit Of Life, Pameran Seni Rupa Yang Menghadirkan Kritik Sosial dan Politik


 GUGAT news. com

BANTUL — Seni rupa tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca kehidupan, menyuarakan kegelisahan, dan mengkritik kekuasaan. Gagasan tersebut mengemuka dalam Spirit of Life, pameran seni rupa bersama yang dibuka pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Artnovation Balai Rupa, Jalan Rogocolo RT 09, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pembukaan pameran yang dikuratori Hajar Pamadhi itu dilakukan oleh Wawan Harmawan (Wakil Walikota Yogyakarta.  Acara turut dimeriahkan pertunjukan tari kontemporer Wong Ayu dan pertunjukan eksoakustik oleh Titik Wieber. Pameran berlangsung pada 18–31 Oktober 2026 dengan menghadirkan puluhan seniman dari berbagai latar belakang, termasuk peserta dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.

Mengusung semangat kehidupan, Spirit of Life menjadi ruang pertemuan beragam gagasan dan ekspresi artistik. Karya-karya yang dipamerkan menawarkan kemungkinan pembacaan atas kehidupan personal, persoalan sosial, dinamika kebudayaan, hingga kritik terhadap praktik kekuasaan.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah “Koalisi Babi” karya Tri Suharyanto. Patung berbahan resin berukuran 140 × 43 × 48 sentimeter ini menghadirkan satire terhadap praktik politik yang berpotensi menjauh dari kepentingan masyarakat.

Melalui figur babi dengan tubuh tambun dan detail anatomi yang menonjol, Tri menggunakan metafora kerakusan untuk mempertanyakan makna koalisi dalam demokrasi. Kerja sama antarpartai yang semestinya dibangun berdasarkan kesamaan visi dan tanggung jawab kepada rakyat dapat kehilangan substansinya ketika kepentingan jabatan dan pembagian keuntungan lebih dominan.

Kritik tersebut tidak serta-merta menempatkan setiap koalisi sebagai praktik yang buruk. Koalisi tetap menjadi bagian dari mekanisme demokrasi. Persoalannya muncul ketika kerja sama politik lebih mengutamakan kepentingan elite daripada amanah publik.

Wakil Walikota Yogyakarta Wawan Harmawan

Dengan pendekatan satiris dan provokatif, “Koalisi Babi” mengajak pengunjung melihat hubungan antara kekuasaan, kerakusan, dan tanggung jawab. Karya ini sekaligus mengingatkan bahwa persatuan politik tidak otomatis menjamin kesamaan tujuan.

Kehadiran karya tersebut memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjadi medium kritik tanpa harus berubah menjadi khotbah politik. Bentuk, material, dan simbol justru membuka ruang tafsir bagi publik untuk mempertanyakan realitas di sekitarnya.

Selain karya Tri Suharyanto, pameran ini diikuti sejumlah perupa, di antaranya Dodot, Choirudin, Awang Darmawan, Gustaf, Torres, Yamiek, Putri Rembrandt, Tirta, Heru Priyono, Agus Katro, Triadiwijoyo, Donas, Titiek Wieber, Eko Hand, Yessi Dwi Rzf, Arip Soesahtidoer, Tri Sasongko, Hendra Buana, Nur Azizah Zie, Dio Pamola, Juliyanto, Alfi Ardiyanto, Budi Santosa, Bernad Wora Wari, Achid Agung Libriyanto, Eko SMSR, Yuliono Singsoot, Wiyono, Budi Hartono, Beny Kampai, Tengku Sabir, Supri Monyenk, dan Satrio.

Kehadiran seniman dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand turut memperluas perjumpaan artistik lintas negara. Pertemuan tersebut memberi peluang bagi para perupa untuk memperkenalkan karakter karya sekaligus membangun dialog melalui bahasa seni yang melampaui batas geografis.

Melalui Spirit of Life, Artnovation Balai Rupa menjadi ruang bagi pertemuan seni, gagasan, dan kehidupan masyarakat. Pameran ini mengingatkan bahwa karya seni tidak berhenti sebagai objek untuk dinikmati, tetapi juga dapat menjadi pemantik percakapan tentang persoalan yang kerap dihindari dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seni berani menyentuh wilayah sosial dan politik, pengunjung tidak hanya diajak melihat, tetapi juga berpikir. Di situlah seni menemukan daya hidupnya: menghadirkan pertanyaan, menggugat kemapanan, dan membuka ruang bagi kesadaran baru. (Tor)











BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close