Cek Cok Adu Mulut Warnai Ritual Sakral Pengetan Mangadeging Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Ke 275

September 06, 2020
Minggu, 06 September 2020

 

Tidak kurang dari 400 orang sesaki Sasana Sumewa Pegelaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari putra putri Ndalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII, Ulama, Sentanadalem hingga Abdi dalem dan warga Kota Surakarta. Foto : Achmad.

---------------------------------------------------------------GUGAT86.com. SURAKARTA. Siang itu, Sabtu (5/9/2020) sekitar pukul 12.15 WIB, usai dikumandangkannya adzan untuk shalat lohor dari Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, tak berapa lama dilantunkannya pula oleh puluhan ulama yang ada di Bangsal Sasana Sumewa Pegelaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu bacaan bacan ayat suci Al-Qur'an. Diantaranya Surat Al Baqarah dan Yassin. Mereka pun larut dalam suasana kekhusyukan hingga selesainya bacaan dzikir Tahlil. 

Menariknya, pasti hal in sudah dipersiapkan benar oleh penyelenggara, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Wandansari Koes Moertiyah MPd serta KP DR Eddy Wirabhumi SH MH, sebagai buktinya, dari ratusan kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta warga Kota Solo, saat itu bisa memenuhi apa yang menjadikan himbauan pemerintah akan protokoler kesehatan Covid-19. Dari tersedianya sarana untuk cuci tangan dengan sabun atau handsanitizer, pengecekan suhu tubuh, bermasker hingga sosial distancing dan physical distancing terjaga tertib.

Bukan hanya sosial distancing dan physical distancing saja dilakoni, melainkan kekhusyukan saat mengumandangkan lantunan bacaan ayat suci Al-Qur'an hingga ditutupnya dengan bacaan doa dzikir Tahlil guna melafazkan puji syukur kehadirat Gusti Kang Murbeng Dumadi Akaryo Jagad, Allah SWT pun terpenuhi. Sehingga tidaklah mengherankan lagi, jika waktu itu suasana ritual sakralpun terwujud. Yang membedakan dengan tahun tahun sebelumnya dalam Pengetan Pangadeging Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, hanyalah jumlahnya kerabat Ndalem yang hadir. Bisa jadi, kalau saja tamu undangan tidak dibatasi lantaran Pandemi Covid-19, bisa ribuan yang datang silaturahmi mengenang sejarah berdirinya Keraton Dinasti Mataram Islam Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu. 17 Suro Jumakir 1954 bertepatan dengan 5 September 2020.

Hanya saja, sepertinya cukup disayangkan manakala mereka para kerabat Ndalem tengah menikmati dengan khusyuknya doa bacaan dzikir Tahlil, mendadak suasana percikan kecil pun terjadi. Cekcok adu mulut diantara kerabat Ndalem dengan kehadiran seseorang yang mengatasnamakan utusan kuasa dari Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII, KPA Widodo Notohadinigrat yang saat itu menanyakan masalah perizinan dalam penggunaan Sasana Sumewa Pegelaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk gelaran acara Pengetan Pangadeging Keraton. "Kami hanya bertanya, sudahkah ada ijin dari Sinuhun? Karena yang berhak menggunakan semua milik Keraton itu hanya Sinuhun," papar KPA Widodo Notohadinigrat.

Sebenarnya cek-cok masalah kecil ini tidak perlu terjadi, kalau saja diantara salah satunya bisa bersabar sejenak. Artinya, tidaklah perlu mewujudkan rasa ketidaknyamanan, apalagi harus membuat "wirang" aib memalukan dari kesemuanya Putra Putri Ndalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII dengan insiden kecil tersebut. Sepertinya, tidak ada salahnya jika ditunggu sebentar supaya kekhusyukan saat melafazkan puji sembah syukur ke hadirat Ilahi itu tidak akan terganggu. Tidak ada salahnya bukan, bilamana mereka para kerabat Ndalem itu khusyuk berdoa sebagai konsekuensinya rasa syukur kepada Sang Pencipta Jagad raya, Allah SWT atas pemberian Rahmat Nya Kepada leluhur? Mangadeging sebuah Dinasti Mataram Islam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Begitu selesai, bisa dirembuk bersama untuk dibicarakan secara baik baik.

Dikatakan Direktur Eksekutif Lembaga Hukum Keraton, KP DR Eddy Wirabhumi SH MH, jika sebenarnya dirinya hendak bermaksud baik akan kedatangan KPA Widodo Notohadinigrat ke Sasana Sumewa Pegelaran, seandainya berkenan dipersilakan untuk turut bergabung dengan kerabat Ndalem yang tengah bersama sama mengungkapkan pujian rasa syukur terhadap Sang Kholiq, Allah SWT yang telah memberikan nikmatnya, wujud Dinasti Mataram Islam Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Cukup disayangkan, bukannya diterima dengan baik malahan marah. "Saya sudah menghormati kehadiran beliau, pastinya akan saya terima baik baik sekaligus penawaran untuk bergabung, berdoa bareng. Bukannya menerima tawaran baik saya, malahan marah. Ya sudah, saya tinggal saja!"jelasnya.

Dalam kesempatan itu, GKR Wandansari Koes Moertiyah MPd, mengungkapkan akan rasa ketidaknyamanannya jika ritual sakral itu harus terganggu oleh ketidaktahuannya orang luar yang bukan merupakan bagian dari Putra Putri Ndalem Sinuhun Paku Buwono (PB) XII. "Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini bukan milik pribadi atau golongan, melainkan kepunyaan Putra Putri Ndalem serta kerabat dari keturunan Sinuhun Paku Buwono (PB) II hingga Paku Buwono XIII. Merekalah yang telah memiliki hak menggunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan umat. Seperti saat ini. Kenapa orang diluar dari trah PB II-PB XIII, kudu turut campur dan membuat masalah?"tegas Gusti Moeng, sapaan akrab GKR Wandansari Koes Moertiyah.

Bukan hanya itu saja Gusti Moeng meluapkan rasa kekecewaannya yang selama ini disimpan dalam hatinya, saat itu pula disampaikanlah kepada semua tamu yang hadir. Diantaranya, belakangan ini ada seseorang yang mengaku faham dalam bidang sejarah, namun yang disampaikan itu tidaklah didukung dengan data dan fakta sejarahnya. Hanya ngawur belaka. "Selama ini, dari Sinuhun PB II hingga PB XIII, tidak ada satupun Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang pro, memihak Kolonialis Belanda. Bahkan Sinuhun PB XII lah, satu satunya raja yang ada di tanah air ini yang kali pertamanya menyatakan sikap bergabungnya dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan ditandai Maklumat 1 September 1945. Bahkan Sinuhun Sinuhun sebelumnya, sudah banyak serahkan harta untuk perang kemerdekaan saat itu,"tandas Gusti Moeng. # Yan G1.


------081325995968---------

                


Thanks for reading Cek Cok Adu Mulut Warnai Ritual Sakral Pengetan Mangadeging Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Ke 275 | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

TERKAIT

Show comments

HOT NEWS