Memperkuat Aliansi Untuk Palestina

April 05, 2021
Senin, 05 April 2021


 Oleh: Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, M.A.; Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI.

Spirit Israel untuk melakukan aneksasi dan menghancurkan rakyat dan bangsa Palestina tidak pernah berhenti. Belum lama ini Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu memutuskan membangun permukiman baru di Palestina pada saat rakyat Palestina sedang berjuang melawan Covid-19.

Rakyat Palestina semakin terancam dan terusir dari tanah airnya. Karena itu situasi sosial, ekonomi dan kesehatan rakyat Palestina semakin buruk.

Langkah-langkah Benyamin Nentanyahu untuk memperluas wilayah kekuasaan Israel didukung sepenuhnya oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kerjasama Israel-Amerika ini telah membuktikan dua fakta penting, pertama, spirit imperialisme abad XXI masih berlangsung. Kedua, kejahatan hukum, politik dan kemanusiaan masih terjadi.


Apa yang terjadi di Palestina bukanlah semata-mata merupakan konflik politik biasa di wilayah Timur Tengah, akan tetapi merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan kemerdekaan wilayah, hak asasi manusia, serta penghancuran terhadap kehidupan sosial ekonomi dan keamanan Palestina.

Apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi politik, tragedi kemanusiaan, dan tragedi hukum yang sangat memalukan. Pelaku utamanya ialah Israel yang selama ini didukung oleh Amerika Serikat. Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Israel telah menciptakan sebuah sejarah gelap selama abad ke-20 hingga awal abad ke-21 sekarang ini.

Upaya penyelesaian dan menciptakan perdamaian sesungguhnya sudah berkali-kali dilakukan. Majelis Umum dan Dewan Kemananan Persatuan Bangsa-bangsa, misalnya, sudah menegaskan solusi yaitu “Two-State Solution” (Solusi Dua Negara).

Berdasarkan kepada solusi ini maka kedaulatan Palestina dan Israel memperoleh jaminan dan keduanya bisa hidup berdampingan secara damai. Dukungan internasional terhadap kedaulatan dan kemerdekaan Palestina juga sudah ada.


Pada tanggal 14 September 2015, sebanyak 136 negara dari 193 negara aggauta Persatuan Bangsa bangsa telah mengakui Palestina. Kemudian 9 dari 28 negara Uni Eropa juga mendukung Palestina. Pada tanggal 29 Nov 2012, Resolusi Majelis Umum Persarikatan Bangsa-bangsa menerima Palestina sebagai ”non-member observer state.”

Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi co-sponsor penting ide ini. Masih banyak bukti dukungan internasional terhadap Palestina.

Akan tapi semua dukungan, resolusi Majelis Umum dan dewan keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa dan solusi dua negara ini dirusak dan dikhianati oleh Amerika Serikat melalui hak vetonya dan ini semakin memperburuk suasana Timur Tengah dan mengganggu harmoni hubungan-hubungan global.

Pemerintah Benyamin Netanyahu benar-benar sangat serius melakukan aneksasi meskipun ditentang oleh Palestina dan bahkan oleh masyarakat Internasional sekalipun. Israel tegas menolak berbagai kompromi dan saat ini memanfaatkan situasi Pandemi untuk melancarkan kejahatan hukum, politik dan kemanusiaan.

Saya ingin menegaskan bahwa Israel adalah negara pengecut karena tidak mau membuka hati dan menolak dialog yang sehat untuk menciptakan perdamaian.


Presiden Amerika Serikat Joe Biden

Langkah buruk dan destruktif Israel ini akan mengakibatkan eskalasi politik global semakin tinggi dan akan mengganggu keamanan dan ketenteraman global.

Israel memang tidak pernah berhenti untuk melancarkan invasi dan aneksasinya ke wilayah palestina. Penghancuran terhadap permukiman, pengusiran penduduk dan pembangunan permukiman baru bagi warga Yahudi sudah merupakan pemandangan sehari-hari hingga hari ini.

Berbagai tindakan kekerasan terhadap rakyat Palestina juga sering dilakukan dan bahkan Masjid Al-Aqsa semakin terancam. Israel secara konstitusional telah menerapkan politik Apartheid Israel terhadap warga Palestina.

Sejak 2018 lalu, pemerintah Trump secara bertahap menghapus lebih dari $200 juta untuk proyek bantuan ekonomi Tepi Barat dan Gaza. Bahkan Amerika juga menghentikan kontribusi tahunan kepada sebuah badan Persatuan Bangsa-bangsa yang memberikan bantuan kesehatan, pendidikan dan layanan lain kepada pengungsi Palestina.


Diperkirakan ada 1 juta warga Palestina di Gaza yang terancam kelaparan. Tidak terlalu berlebihan untuk berpandangan bahwa pemerintah Donald Trump benar-benar telah menunjukkan kebencian dan permusuhan secara terbuka terhadap rakyat Palestina.

Kesengsaraan ini diperburuk dengan serangan Covid-19. Di era pandemi ini tindakan kekerasan terhadap warga Palestina meningkat.

Covid-19 juga menjadi pintu lebar bagi pemerintah Israel untuk melakukan aneksasi dan membangun permukiman baru bagi orang-orang Yahudi di wilayah Palestina.

Pengusiran dan penghancuran tempat tinggal, sumber air, taman-taman terus dilakukan dan ini akan mempercepat penyebaran Pandemi Covid-19.

Oxfam meminta kepada pemerintah Israel untuk segera menghentikan kebijakan dan langkah-langkah ilegal melawan hukum internasional karena ini sangat membahayakan bagi penduduk Palestina di masa Pandemi.

Tingkat kemiskinan di wilayah ini naik. World Bank menyebutkan bahwa sebelum Pandemi tingkat kemiskinan di Gaza mencapai 53%. Selama Pandemi, angka ini meningkat menjadi 64%.


Indonesia Melawan Israel

Pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah menolak keras dan melawan Israel yang terus menerus melakukan aneksasi dan mengancam Masjid Al-Aqsa.

Berbagai upaya politik diplomasi sudah dimulai dan akan terus dilakukan untuk melawan Israel. Sesuai dengan pembukaan undang-undang dasar 1945, bangsa Indonesia akan tetap konsisten melawan segala bentuk penjajahan dan membela rakyat dan bangsa Palestina.

Indonesia tidak akan pernah membuka hubungan diplomatik dengan Israel meskipun presiden Donald Trumph pernah menjanjikan akan memberikan bantuan dana yang sangat besar kepada Indonesia.


Bagi bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam kedaulatan dan kemerdekaan tidak akan pernah bisa dijual kepada siapapun apalagi kepada negara penjajah. Penjajah harus dilawan melalui berbagai cara dan langkah.

Pertama, berjuang melalui forum Persatuan Bangsa-Bangsa dan forum bilateral atau multilateral lainnya. Negara-negara muslim bisa juga mendorong Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk mengambil langkah-langkah taktis dan strategis melawan Isreal. Langkah-langkah ini sudah dan harus terus dilanjutkan.

Negara-negara anggota organisasi konferensi Islam perlu secara terus menerus melakukan konsolidasi internal agar menjadi kekuatan yang efektif dan berpengaruh untuk membela rakyat dan bangsa Palestina dan menciptakan perdamaian global.


Kedua, organisasi-organisasi masyarakat madani (civil society) muslim Indonesia bisa membentuk dan memperkuat aliansi lintas agama untuk membela perjuangan rakyat dan bangsa Palestina melawan Israel, mengembalikan hak-hak sosial, ekonomi, politik rakyat palestina yang telah dirusak dan dirampas oleh Israel.

Hak untuk menjalankan ibadah dan ajaran agama juga harus dilindungi dan karena itu aliansi lintas agama ini juga harus melindungi masjid aqsha yang selama ini sering terancam oleh tindakan brutal militer Israel.

Selain itu, aliansi lintas agama juga bisa bekerja keras melanjutkan program bantuan kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan yang selama ini sudah diberikan masyarakat dan bangsa Indonesia dan bangsa lain.

Salah satu program penting yang sudah dimulai adalah pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Hebron, Palestina. Program pembangunan rumah sakit ini dilaksanakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerjasama dengan sejumlah organisasi filantropi Islam Indonesia dan didukung sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia.


Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan rumah sakit ini sekitar 100 miliar rupiah. Saat ini, majelis ulama Indonesia telah menerima bantuan dari masyarakat sebesar 2 miliar rupiah.

MUI telah berdiskusi khususnya dengan Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tentang kelanjutan pembangunan rumah sakit Indonesia Hebron dan tentang mekanisme penyaluran bantuan masyarakat Indonesia.

Selanjutnya MUI juga akan melakukan berbagai pertemuan dengan Menteri Agama republik Indonesia, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, pemimpin organisasi-organisasi filantropi Islam, pemimpin organisasi relawan dan kemanusiaan untuk Masjid Al-Aqsa dan Palestina, serta tokoh-tokoh lainnya menggali dana menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Hebron.

Atas nama Majelis Ulama Indonesia saya juga mengajak masyarakat luas untuk mempererat kerjasama dan mendukung sepenuhnya program kemanusiaan ini.

Aliansi lintas agama dan peradaban memainkan peran yang sangat penting untuk ikut menyelesaikan pembangunan rumah sakit hingga tahun 2024 sebagai salah satu bentuk komintmen bangsa Indonesia untuk membantu perjuangan rakyat palestina dan menciptakan perdamaian.


*NB. Makalah singkat ini disampaikan dalam Webinar Internasional yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dengan tema “Menggalang Kerjasama Universal dalam Pembebasan Al Aqsa dan Palestina”, pada Sabtu, 3 April 2021. Acara ini digelar secara daring dan luring di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi dengan protokol kesehtan yang ketat.

Ketua Presidium AWG
M. Anshorullah.




Thanks for reading Memperkuat Aliansi Untuk Palestina | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

TERKAIT

Show comments

HOT NEWS