iklan



FOKUS

Dari Tragedi Ke Transformasi, D'galeri 5 Jari Diluncurkan


 Debrin bersama Prof Widodo Hadisaputro UGM , Haji Ansori Mozaik,  Daud Pong Palilu,  dll. saat pembukaan pameran lukisan tunggal.

GUGAT news.com KLATEN 

Tragedi tidak selalu berakhir sebagai luka. Pada sebagian orang, ia justru menjadi pintu transformasi. Itulah yang dialami Debora Rini—akrab disapa Debrin—yang mengelola peristiwa pahit menjadi energi kreatif dan makna baru dalam hidupnya.

Kecelakaan tahun 2017 mengubah banyak hal. Gangguan saraf dan penurunan fungsi mata kanan secara signifikan memukul kondisi fisik dan mentalnya, sekaligus menguras daya tahan ekonomi. Di titik terendah itu, melukis hadir bukan sekadar hobi, melainkan terapi dan pemantik semangat hidup. “Tragedi bisa menjadi transformasi jika diletakkan di tangan Sang Khalik,” ujarnya. Penerimaan, syukur, dan pengelolaan dalam hikmat menjadi fondasi proses pemulihan.

Hasilnya nyata. Terapi melukis mengantarkan Debrin menggelar pameran tunggal perdana di Museum Sonobudoyo pada 2024. Dua tahun berselang, ia melangkah lebih jauh: pameran tunggal kedua berlangsung di galeri miliknya sendiri—D’Galeri 5 Jari—di Karangdowo, Klaten, Jawa Tengah, pada 30 Desember 2025–2 Januari 2026. Peluncuran galeri ini menandai fase baru: seni sebagai ruang pulih, berbagi, dan berjejaring.

Pameran kedua itu terasa unik. Selain karya rupa, ada peluncuran lagu ciptaan Debrin yang diaransemen oleh Didik Lare Desa—pernah bergabung dengan almarhum Didi Kempot. Dari sepuluh lagu yang telah diciptakan, tiga diluncurkan sekaligus: Jangan Kuatir, Anakku, dan Ada Waktunya. Sebelumnya, Debrin juga berbagi kisah dan gagasan tentang semangat hidup, seni budaya, serta sehat keuangan di acara Pendopo Kang Tedjo di TVRI Jogja, serta melalui kanal YouTube Debora Rini 5 Jari.


Debrin dengan karya berjudul: " Langkah Kehidupan" Oil on Canvas, 150x200 cm.

 Konsistensi dan Jati Diri

Kembali melukis sejak 2020, Debrin—alumni ISI Solo—telah mengikuti 37 pameran bersama dan dua pameran tunggal. Proses berkarya dijalani dengan disiplin dan kesadaran jati diri. Rumah kecil di Karangdowo disyukuri sebagai galeri dan bengkel workshop: ruang sederhana untuk menajamkan keunikan karya, meramu konsep, dan mewujudkan imajinasi. Lanskap persawahan dan hijau alam sekitar memberi warna tersendiri, tanpa menutup kenyataan keterbatasan fisik. “Tangkapan mata yang terbatas diolah menjadi objek yang melampaui batas,” katanya.

Ia merujuk ungkapan Daniel Fo, “While drawing, I discover what I really want to say,” serta pandangan Prof. Cathy A. Melody bahwa seni adalah alat komunikasi yang kuat untuk mengeksplorasi emosi, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan. Seni, bagi Debrin, bukan pelarian—melainkan jalan berdaya.

Galeri sebagai Poros Komunal

D’Galeri 5 Jari diproyeksikan menjadi ruang komunal: bagi penggiat seni, pelajar, dan masyarakat sekitar. Debrin tengah mengurus perizinan badan hukum agar pengembangan seni budaya—khususnya di Kabupaten Klaten—berjalan berkelanjutan. Ke depan, galeri akan menggelar beragam kegiatan edukatif saat liburan sekolah: lomba melukis dan fotografi, macapat dan geguritan, menyanyi, serta kolaborasi dengan pemerintah, sekolah, unit kegiatan mahasiswa, komunitas seni, dan warga.

Pameran dibuka oleh Widodo Hadisaputro, didampingi Haji Ansori Mozaik (seniman senior Klaten), Pdt. Raditya, dan sejumlah seniman. Hadir pula rekan lintas angkatan SMP 1 Karangdowo serta kolega dari Yogyakarta, Jakarta, dan Bogor. Dalam sambutannya, Prof. Widodo menegaskan, “Seni itu universal—perekat, pengobat, dan pembawa nilai kemanusiaan. Dengan seni, perubahan peradaban dapat dilakukan secara lebih humanis.” Ia berharap birokrasi kian mengenali seni agar pendekatan ke masyarakat lebih mengena.

Sejumlah karya menjadi penanda tema besar transformasi. Langkah Kehidupan menafsir kerja keras dan gotong royong—menjala ikan sebagai simbol saling menopang menuju keberhasilan. Duniaku Damai menyerukan perdamaian dalam otoritas Tuhan Yang Maha Esa, tanpa kekerasan. Mataku Tertuju Pada-Mu mengajak terus melangkah dengan mata hati yang bening; mata di punggung menjadi simbol masa lalu sebagai guru.

Tragedi, pada akhirnya, menjadi kanvas. Di tangan Sang Pencipta, setiap peristiwa dapat menjelma lukisan kehidupan yang indah—dan di D’Galeri 5 Jari, lukisan itu dibagikan, dirawat, dan dihidupkan bersama. (Tor)


BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close