iklan



FOKUS

Butong : Menjadikan Seni Sebagai Ruang Ekspresi dan Advokasi Difabel


 GUGAT news. com

YOGYAKARTA — Sukri Budi Dharma, yang akrab disapa Butong, merupakan seniman sekaligus penggiat seni yang aktif memperjuangkan ruang ekspresi bagi penyandang disabilitas melalui seni. Penyandang disabilitas fisik yang tinggal di Sleman, Yogyakarta, ini meyakini seni bukan sekadar medium untuk menghasilkan karya, tetapi juga sarana komunikasi, sosialisasi, edukasi, dan advokasi.

Kecintaannya terhadap seni telah tumbuh sejak kecil. Butong kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta pada 1994. Ia juga menyelesaikan pendidikan psikologi di Universitas Gunadarma Jakarta pada 1999.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Butong sempat bekerja di sejumlah perusahaan, antara lain di bidang developer, kargo, dan agen perjalanan di Jawa maupun Sumatera. Pada 2007, pekerjaannya membawanya menetap di Yogyakarta. Kepindahan tersebut sekaligus mempertemukannya kembali secara lebih dekat dengan dunia seni.

Dua tahun kemudian, pada 2009, Butong mendirikan Difable and Friends Community. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkegiatan melalui seni, mulai dari workshop, pameran hingga pertunjukan.
Namun, aktivitas komunitas menghadapi keterbatasan karena belum memiliki badan hukum. Kondisi tersebut mendorong Butong memperluas gerakan agar aktivitas seni disabilitas memiliki pijakan kelembagaan yang lebih kuat.

Pada 2019, Butong bertemu dengan Nano Warsono, seniman sekaligus pengajar di ISI Yogyakarta. Keduanya kemudian menginisiasi berdirinya Yayasan Jogja Disability Arts (JDA). Sejak saat itu, gerakan yang dibangun Butong berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya mengembangkan aktivitas seni, tetapi juga mendorong seni sebagai bagian dari advokasi dan edukasi disabilitas.

Bagi Butong, seni merupakan media ekspresi sekaligus komunikasi antara seniman dan publik. Melalui karya seni, penyandang disabilitas dapat menyampaikan pengalaman, kegelisahan, dan pandangan mereka kepada masyarakat.

“Teman-teman disabilitas perlu didengar. Harapannya masyarakat mengetahui kegelisahan para disabilitas yang digambarkan melalui karya-karya,” ujar Butong.

Latar belakang pendidikan psikologi turut membantu Butong ketika mendampingi kelompok disabilitas, termasuk anak-anak dengan Down syndrome dan autisme. Menurutnya, seni dapat menjadi kendaraan untuk membangun kemampuan bersosialisasi sekaligus membuka ruang sosial bagi mereka.


Tujuan kegiatan seni, katanya, tidak selalu harus berakhir pada lahirnya sebuah karya. Proses berkesenian itu sendiri memiliki nilai penting karena memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk bertemu, berkomunikasi, berekspresi, dan memperoleh pengalaman sosial.

“Dengan adanya kegiatan pameran, teman-teman disabilitas bisa bersosialisasi dan berekspresi. Seni menjadi kendaraan untuk mendapatkan ruang sosial,” katanya.

Dalam bidang seni rupa, Butong banyak belajar secara otodidak serta berguru kepada sejumlah seniman senior. Ia terus mengembangkan kemampuan melukis dan memperluas aktivitasnya sebagai seniman sekaligus penggerak seni disabilitas.

Sejak 2023, aktivitas pamerannya semakin intensif. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai galeri dan ruang seni di Yogyakarta maupun sejumlah kota lain seperti Jakarta dan Bandung. Aktivitas berkesenian dan jejaringnya juga membawanya mengikuti kegiatan seni di luar negeri, termasuk Thailand dan Nigeria.

Butong juga dipercaya menjadi kurator dalam sejumlah pameran seni yang berkaitan dengan isu disabilitas di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, hingga Thailand. Perannya tidak hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai penghubung antara karya, seniman disabilitas, dan publik.

Pengalaman internasional juga pernah diperolehnya pada 2018 ketika ia mengikuti program residensi di Liverpool, Inggris, melalui proses seleksi British Council. Pada 2024, Butong kembali mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam program kolaborasi seniman disabilitas tingkat ASEAN di Bangkok, Thailand.

Salah satu karya yang menunjukkan kegelisahannya adalah “Me and Politicians”, lukisan akrilik yang menjadi bagian dari proses Butong menyampaikan gagasan melalui seni.
Perjalanan Butong menunjukkan bahwa seni dapat menjadi lebih dari sekadar ekspresi estetis. Bagi penyandang disabilitas, seni bisa menjadi pintu untuk hadir di ruang publik, membangun jejaring, menyampaikan suara, sekaligus menegaskan bahwa mereka memiliki pengalaman dan gagasan yang layak didengar.

Dari komunitas kecil Difable and Friends Community, gerakan tersebut berkembang menjadi Jogja Disability Arts. Perjalanan itu sekaligus memperlihatkan konsistensi Butong dalam menjadikan seni sebagai medium untuk membangun ruang yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. (Tor)


BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close