iklan



FOKUS

Melangkah Dalam Gelap, Yaya Maria Menjemput Cahaya


 Salah satu karya terbarunya, Melangkah Dalam Gelap Menuju Cahaya, dibuat dengan media akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter pada Agustus 2026.

GUGAT news. com

Sore belum sepenuhnya beranjak ketika Yaya Maria kembali ke rumahnya di kawasan Rejodani Jalan Palagan, Sleman. Setelah seharian menjalankan profesinya sebagai notaris, perempuan kelahiran Temanggung, 5 Desember, kembali pada dunia yang sejak kecil sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Kegiatan itu adalah "melukis".

Di rumah itu pula Yaya bekerja dan berkarya. Kediamannya sekaligus menjadi sanggar kecil tempat ia menuangkan gagasan ke atas kanvas. Dengan kursi roda sebagai bagian dari kesehariannya, Yaya tetap bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Pekerjaan sebagai notaris dan dunia seni lukis dijalaninya beriringan.

Lebih dari setengah abad lalu, Yaya lahir di Temanggung. Ketertarikannya pada lukisan muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia bahkan beberapa kali mengikuti lomba melukis. Namun, kegemaran itu tidak berkembang menjadi pilihan hidup karena orang tuanya berharap anaknya tidak menjadi seniman. "Bapak saya nggak ingin saya jadi pelukis."

Yaya kemudian menempuh pendidikan hukum hingga meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Diponegoro dan pendidikan notariat di Universitas Gadjah Mada. Profesi notaris menjadi jalan hidupnya.

Walaupun demikian, kecintaan terhadap seni tidak pernah benar-benar hilang.

Setelah bekerja, Yaya mulai kembali menyentuh pensil dan kertas. Pada 2009–2011, ia mulai aktif membuat sketsa dan bergabung dengan komunitas Indonesia Sketchers Jogja. "Bagi saya, melukis menjadi ruang untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani rutinitas pekerjaan," tuturnya beberapa waktu lalu. 

Momentum penting datang ketika pandemi Covid-19 memaksanya lebih banyak berada di rumah. Kantor tidak buka seperti biasanya. Waktu yang sebelumnya tersita pekerjaan justru memberinya kesempatan kembali menekuni kanvas.

Sejak 2021, Yaya mulai serius belajar melukis dengan bimbingan trainer, termasuk Chamit Arang. Dari proses itulah kegemarannya berkembang menjadi perjalanan artistik yang lebih serius.

Kini ratusan karya telah lahir dari tangannya. Yaya juga tercatat mengikuti sekitar 85 kali pameran di berbagai galeri, baik di Yogyakarta maupun sejumlah kota lain seperti Bali, Solo, Surabaya dan Jakarta, Magelang, Temanggung. 

Bagi Yaya, seni bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. “Seni itu luapan ekspresi,” katanya. Namun Yaya tidak terlalu tertarik melukis wajah atau pemandangan natural secara konvensional. Yaya lebih menikmati permainan tekstur dan membiarkan gagasan mengalir ketika berhadapan dengan kanvas.

Salah satu karya terbarunya, Melangkah Dalam Gelap Menuju Cahaya, dibuat dengan media akrilik di atas kanvas berukuran 60 x 80 sentimeter pada Agustus 2026.

Lukisan itu menggambarkan perjalanan seorang perempuan yang berani mencari cahaya di tengah kegelapan. Bagi Yaya, sosok perempuan dalam lukisan tersebut adalah representasi keberanian untuk mengejar keinginan dan masa depan tanpa rasa takut. “Kalau sudah memiliki keinginan, harus berusaha mencapainya tanpa rasa takut,” ujarnya.

Pesan itu terasa semakin kuat karena datang dari pengalaman hidupnya sendiri. Di tengah keterbatasan fisik dan kesibukan sebagai notaris, Yaya memilih tidak berhenti berkarya.

Ia melukis selepas bekerja, pada sore hingga malam hari. Kursi roda tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kanvas. Justru dari ruang yang terbatas itu, imajinasinya bergerak lebih jauh.

Yaya seperti sedang membuktikan bahwa keterbatasan tubuh tidak selalu membatasi keberanian seseorang untuk melangkah. Gelap boleh ada. Tetapi cahaya selalu layak dicari. (Tor)





BACA JUGA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1











Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

close