Khotaman Al Quran Di Masjid Tegalsari, Laweyan, Solo
GUGAT news. com SURAKARTA
Peringatan Nuzulul Qur’an, Cahaya Diatas Cahaya
Oleh M. Baiquni
(Remaja Masjid Tegalsari dekade 1970an)
Assalamualaikum warohmatullahi wa barokaatuh
َل
َل َ ْمد ْح ا
ُ ِ*. ا
َّ ُ ِ* ال َ ْمد ْح
َ ْن َلا َ ْھ َش أ ٍ. ْیم ِ ْو تَق َ ِن ْس َح أ ْ ا َن ِفي َ ْس ِن ْ َ الا َق َل ْ خ ِذي
ُ ا
د
ِال ْم
ٰ
ُ. و
لا الله
َّ
َ ِا
و َ ْھ َش أ َ ھ
ُ
ه
ُ
مدًا َعْبد
َّ
م َح
َا ُ
َن
ن َسِیّد
َ َّ
ُ ا
ھ ُ ْول َ َرس د
ُ
َلل
ُ. ا
ھ
ّٰ
م َصل
ل ِ َو َس ّ ُ َّ
ّ
ِ
ى لَع
ٰ
ا
ٰ
َ ْصح َ ِل ِھ و
َ ْجم ِ ِھ اب َ ا
َار َو ِ ْی َن. َع ا
ى لَ ْ ع ِ ك ب
ٰ
مح ِدیّ َس
َا ُ
مد ِن
َ ٍ و َ َّ
Jamaah sholat isya dan tarawih rahimakumullah
Marilah yang pertama dan utama kita panjatkan puja dan puji syukur ke Hadhirat Ilahi
Rabbi, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah memberikan karunia
nikmat Iman dan Islam kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga tercurahkan
kepada baginda Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabatnya, dan para
pengikutnya yang istiqamah hingga akhir zaman. Marilah kita senantiasa meningkatkan
iman dan takwa kepada Allah SWT guna mendapatkan ridho Nya agar supaya hidup kita
selamat dan bahagia di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin
Suatu kehormatan dapat berdiri di mimbar Masjid Tegalsari di malam bulan Ramadan
dalam memperingati Nuzulul Qur’an 1447H/2026M ini. Saat ini, kita memperingati
menjelang 100 tahun berdirinya Masjid Tegalsari. Penting untuk bermuhasabah atau
introspeksi tentang apa yang sudah dilakukan dalam memakmurkan masjid,
mencerdaskan kehidupan dan menyejahterakan umat? Mengenang masa kecil hingga
remaja dekade 1960-1970-an, menjadi anak remaja masjid sekitar 50 tahun silam masih
dapat bertemu dengan para ulama pendiri masjid ini.
Masjid Tegalsari Pusat Peradaban
Masjid Tegalsari menjadi tonggak sejarah spirit Sumpah Pemuda 1928. Tiang utama
masjid dipasang pada hari Ahad, 13 Jumadil Awal 1347 H, yang bertepatan dengan 28
Oktober 1928 M. Hal ini jelas merupakan penanda sejarah bahwa Kampung Tegalsari,
Laweyan, Solo ini menjadi salah satu episentrum pusat pergerakan nasional yang patut
dicatat dalam sejarah Indonesia. Perjuangan melalui pendidikan pesantren dan
madrasah dapat dilihat sekarang ini di sekitar terdapat Pesantren Al Muayyad dan
Pesantren Takmirul Islam yang telah turut serta memperjuangkan kemerdekaan dan
mengisi kemerdekaan dengan mencerdaskan kehidupan.
Pada masa revolusi Masjid Tegalsari menjadi benteng mental para pejuang
kemerdekaan Republik Indonesia. Para ulama pimpinan masjid banyak yang berjuang
menegakkan kedaulatan dan martabat, ada juga yang sampai yang ditangkap Belanda
dan diasingkan ke Boven Diegul, bersama para pejuang perintis kemerdekaan di
Laweyan. Masjid Tegalsari juga menjadi tempat pertemuan para pengusaha batik yang
berjuang melalui ekonomi para pengrajin kecil maupun pengusaha besar, bersama
memakmurkan dan menyejahterakan umat. Masjid Tegalsari ini selalu nampak sejuk dan
menyejukkan, dikelilingi blumbang air dan tempat wudhu yang luas masih dapat kita
nikmati hingga kini.
Konsep dan arsitek Masjid Tegalsari ini memadukan “Hablum minaal alam, Hablum min
annas, Hablum min Allah”. Hubungan harmonis dengan alam dicerminkan dengan
blumbang air dan paturasan serta blumbang wudu yang luas. Kala itu menjadi cara
bersuci secara menyeluruh bagi orang yang habis bekerja di sawah dan tegalan, maupun
dari pabrik batik di sekitar yang memerlukan mandi dan bersuci sebelum beranjak ke
ibadah. Para pedagang batik dan pengusaha dari luar kota yang singgah di Masjid
Tegalsari bisa bercengkerama dan berbincang-bincang di halaman masjid maupun
serambi yang sejuk, dikelilingi air dan udara yang mengalir. Ruang dalam masjid didesain
tinggi dengan empat soko guru yang anggun, dan pencahayaan serta pengudaraan yang
sangat baik, serta mihrab yang artistik penuh dengan ukiran kaligrafi.
Peran masjid sebagai pusat peradaban dapat dilihat bahwa Masjid Tegalsari dikelilingi
oleh madrasah dan pondok pesantren. Sekolah dasar dan menengah yang berkualitas
dengan pengajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan, teknologi, maupun keterampilan
hidup yang terpadu, sehingga diminati masyarakat. Para alumninya terbukti telah menjadi
penerang kehidupan dengan cahaya ilmu pengetahuan dan ilmu keagamaan, menjadi
amal jariyah bagi orangtuanya, guru, kyai dan para pendiri maupun pengurus masjid dan
madrasah ini. Kita hadiahkan Al Fatehah untuk mereka yang telah berjasa mengantarkan
cahaya ilmu dan teladan akhlaqul kariimah.
Masjid Tegalsari juga menjadi tempat penggemblengan para pemimpin umat, politisi dari
berbagai partai, pengusaha dengan beragam komoditas, pendidik berbagai level dan
bidang, maupun beragam tokoh publik di berbagai kalangan. Pengajian anak-anak yang
mendasari baca tulis Al Qur’an dan Calistung (baca, nulis, hitung), kemudian pengajian
remaja yang mulai mengenalkan organisasi dan berfikir kritis, organisasi pemuda seperti
Sanggar Roda 1970an yang bergerak pada seni budaya, kelompok merconan, grup
pendaki gunung dan penjelajah alam, berbagai klub yang berkembang hingga kini.
Pengajian ibu-ibu dan kegiatan remaja putri keliling ngaji dari rumah ke rumah, menjadi
tradisi silaturahim dan menjadi suluh cahaya keluarga dan komunitas. Tentu saja
pengajian umum yang dihadiri lintas generasi membahas ilmu keagamaan menjadi tradisi
mencerdaskan kehidupan dan pemberdayaan umat.
Model peran Masjid Tegalsari sebagai pusat peradaban sudah memberi manfaat bagi
sekitarnya dan perlu terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Silaturahim lintas
generasi dan membangun jejaring diaspora Tegalsari penting untuk memperluas
pancaran cahaya Ilahi pada kehidupan sehari-hari. Tantangan peradaban ke depan perlu
dijawab dengan membaca keberlanjutan sejarah masa silam dan pandangan ke depan,
menyambungkan spirit selalu muda dengan pembaruan yang terus-menerus
meningkatkan kualitas keimanannya maupun akhlaqul karimahnya. Fastabiqulkhoirot.
Ramadhan dan Nuzulul Quran
Ramadhan yang banyak sekali keistimewaan, baik terkait dengan puasa, ibadah sholat
wajib maupun sunat, melaksanakan zakat, infak, sedekah (ZIS), tadarus Al-Qur'an dan
tholabul ilmi, serta amalan sholeh lainnya yang pahalanya berlipat ganda. Puasa
membawa hikmah seperti: puasa untuk meningkatkan takwa, karakter jujur, mampu
bersabar, pengendalian diri, menempa karakter disiplin, solidaritas umat kaum miskin dan
dhuafa, dlsb.
Pada suatu malam di bulan Ramadan, Allah mewahyukan ayat pertama Iqro’ Al-Qur’an
diturunkan (Nuzulul Qur’an), sebagaimana ayat pertama Iqro’ (Bacalah) disampaikan
melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad. Beliau bertapa di Gua Hiro’ menyendiri
memikirkan dan memprihatinkan kondisi masyarakat Jahiliyah waktu itu. Al-Qur’an
diturunkan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun, yaitu sekitar 13 tahun di
Makkah dan 10 tahun di Madinah.
ِاق ١
ا َر ۡ
َّ َ ال ِك بّ ِ َر اۡسم ِب ۡ
خل َى ۡذ ِق َ َBacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan,
.darah segumpal dari manusia menciptakan telah Diaَ ٍ ق لَ ۡ ع ا َن ِمن َ ۡس ِن ۡ َ الا َق َخل ٢
ِاق ٣
ا َر ۡ
ُّ َك الا َو َر ۡ
ب ۡ ك َر ۡ م َ ُBacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
ال ٤
َّ
َّ ِذ ۡى َعل
ال ِب َم
َم ۡ
َل
ق ِ Yang mengajar (manusia) dengan pena.
لَع ٥
َّ
الا َم
َۡم َ ا َن م َ ۡس ِن ۡ
َۡعل
َۡم ی
ل ا Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan, sebagaimana firman Allah SWT:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar
dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)
ال
ھد ْ
ُ
ى
ٰ
َیّ َو ِّم َن
ت نِب
ِل ٍ ٰ
َّاس ّ
دًى ِ لن
ُ
ال ھ
ُ ْرا ْ
ن ق
ٰ ُ
ا ِفْی ِھ
ُ
ال َ ِ ل ْنز
َّ
ٓ ِذي
ر ا َن َر َم َض ْ
ُ
َش ْھ
ى لَع
ٰ
َو
َل ْ َمن َو َكا َن ْی ًضا َمِر ْا
ف
ْ ُ
ص ْمھ
ُ َ
ی
ۗ
م ِمن َ ال َّش ْھر
ُ
ُ ْك
َ ِ َشھ
َم د
ال َو ْ َن ف
َان ْ
ُ ْرق
ِ ف
ۚ
ال
َر ْ
ۖ
ُ ْس
م ِكب ع
ُ
ُ
ر
ُ
ُ ِی
ال َ َولا ْید
ُ ْسر ْ
م ِكب َ ی
ُ
ُ `
ُ ا ّٰ
ر
ُ
ُ ِی
خ ا ْید
ُ
َ َر
ۗ
َّام
َی
ٌ ْ ِّمن ٍ ا
َّة
َ ِعد
ٍ َر َسف ف
رْو َن def
ُ ُ
كلَ َعل َو تَ ْشك
َّ
م
م َھد ْ ُ
ُ
ىك
ى لَع ا َم ْ ٰ
ٰ
`
رو ّ ُ َكب ِلت َو َ ا ّٰ
ال ا ِ ُ
َّةَ ْ
و ِ ل ُ ْكم ِلت َو ِعد
ُ
ا
Selain itu, Allah juga berfirman:
َْن َزل d
ٓ ا
َّا
ھن ْ ِان
ٰ
َ ْدر ْ ِ ال َة ْل َیل ْ ُ ِفي
ِ ق
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Malam kemuliaan yang dimaksud adalah Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Malam ini kesempatan bagi kita untuk memperbanyak ibadah dan beramal
sholeh, mumpung masih ada kesempatan dan momentum Ramadhan bulan yang
istimewa.
Umat Islam dianjurkan untuk membaca, mengkaji, meriset dengan nama Tuhanmu. Allah
mengajarkan kita ilmu dan dengan ilmu itu kita menjadi umat yang manfaat migunani.
Banyak sekali dalam Al Quran ayat-ayat yang diakhiri dengan pertanyaan introspektif
menggunakan banyak diksi seperti “Afala Ta’qilun?” (Tidakkah kamu menggunakan
akal/mengerti?), “Afala Tadzakkarun?” (Tidakkah kamu mengambil pelajaran?), “Afala
Tubsirun?” (Tidakkah kamu melihat?), “Afala Tasma'un?” (Tidakkah kamu
mendengarkan) dan kalimat-kalimat lainnya.
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Al-Qur’an menjadi pedoman hidup
bagi seluruh umat manusia yang berisi ajaran tentang akidah, ibadah, akhlak, hukum,
serta berbagai petunjuk kehidupan. Peristiwa turunnya Al-Qur’an pertama kali disebut
dengan Nuzulul Qur’an. Peristiwa ini merupakan salah satu peristiwa penting dalam
sejarah Islam karena menjadi awal dimulainya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad
SAW.
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW sering melakukan khalwat atau
menyendiri untuk beribadah dan merenung di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Pada
saat itulah Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu pertama dari Allah SWT.Nuzulul
Qur’an terjadi pada bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Peristiwa
ini tidak hanya menjadi awal turunnya wahyu, tetapi juga menjadi tanda dimulainya
dakwah Islam kepada umat manusia. Oleh karena itu, memahami peristiwa Nuzulul
Qur’an sangat penting bagi umat Islam agar semakin mencintai Al-Qur’an,
mempelajarinya, dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur'an memotivasi manusia untuk berpikir menggunakan akal pikiran (nalar),
menggunakan panca indera (naluri), juga mendalami (deep learning) dengan kajian
reflektif, introspektif, transformatif (nurani), belajar dari umat-umat terdahulu untuk
perjalanan ke masa depan. Dengan momentum Ramadan, ini diharapkan menjadi titik
balik bagi cendekiawan muslim dan masyarakat luas untuk meneguhkan kembali
kesadaran integrative bahwa ilmu tanpa moral akan kehilangan arah, dan moral tanpa
ilmu akan kehilangan daya.
Melalui integrasi keduanya, manusia dapat mencapai kemajuan yang beradab, yakni
kemajuan yang tidak sekadar cerdas, tetapi juga bijak dan berbelas kasih.
Mempertemukan nalar, naluri, nurani dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan
dengan kemanusiaan, sehingga perkembangan umat manusia disinari cahaya Ilahiah.
Tugas kita manusia sebagai pemimpin di bumi, antara lain untuk memuliakan
kemanusiaan dan melestarikan lingkungan.
Marilah kita mengisi ibadah Ramadan ini dengan muhasabah (introspeksi, refleksi, dan
transformasi): apakah perkembangan ilmu dan teknologi membawa berkah atau
bencana? Sehingga kita perlu tunduk dengan taubatan nasuha dan sabar menghadapi
ujian dengan meninggikan iman dan takwa dan memperluas muamalah menjadi manusia
manfaat yang berguna. Sebagaimana surat Al Imron 110
َّا ِس تَأ
ُ ْخِر َج ْت ِللن
مٍة ا
ُ َّ
ْم َخْی َر ا
ُ
ُ ْنت
رْو َن ِب ْ ك
ُ
م
ال ُ
رْو ِف و َمع ْ
ال َ ِن َ ع َ ْون تَْنھ َ ْ ُ
من ْ
ُ
ِ ْ َكر
ُْو َن ب َو
ُ ْؤ ِمن
ا ِّٰۗ` ِ ت
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu
menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada
Allah…
Semoga dengan peringatan Nuzulul Qur’an ini kita dapat mewujudkan tugas
kepemimpinan yang “Memuliakan kemanusiaan dan melestarikan lingkungan”.
Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh
(Ceramah di Masjid Tegalsari, Solo 14 Maret 2026)





